
"Kenapa perasaanku mendadak tidak enak begini?" Matthew mengecek alat pelacak yang dia pasang di kalung Ivana. Alat pelacak itu masih menyala, berkedip-kedip dan masih berada di lokasi semula. "Tapi tidak ada yang mencurigakan," gumamnya sebab alat pendeteksi itu masih bekerja dengan baik.
Matthew kembali memusatkan pikirannya dengan menjalankan kapal feri secepat mungkin agar segera sampai di tempat tujuan.
Kapal itu melesat cepat di atas ombak yang mulai mengganas disertai desiran angin kencang. Pertanda badai akan segera tiba, merubah langit biru menjadi kelam.
Kondisi cuaca yang berubah begitu ekstrim menimbulkan kekhawatiran dalam sanubari pemuda itu lantaran dia bisa lebih lama sampai ke daratan. Ditambah mencemaskan kondisi Ivana yang pastinya akan didera ketakutan.
Kegelisahan Matthew semakin membuncah saat alat pendeteksi berhenti bersuara. Sebab di waktu bersamaan, Samuel telah menyadari bahwa kalung yang dipakai Ivana terdapat alat pelacak. Pria itu menarik benda yang melingkar di leher sang gadis lantas melemparkan ke tumpukkan rerumputan lalu menembaknya.
"Ivana tunggu aku, sebentar lagi aku datang." Matthew harus membagi konsentrasi antara kapal yang melaju, dengan memastikan apakah alat pelacak itu benar-benar mati atau ada kekeliruan. Dia menerabas gulungan ombak yang bisa saja meluluh lantahkan kapal miliknya. Akan tetapi, Tuhan masih memberikan penjagaan. Pemuda itu bisa melewati rintangan, menantang maut tersebut dengan apik.
Sementara di belakang kapal feri milik Matthew, ada satu kapal beserta enam orang di dalamnya, tengah membuntuti pemuda itu semenjak berlabuh dari dermaga tadi. Mereka dipersenjatai oleh senapan laras panjang juga bom yang maha dahsyat.
"Bagaimana Bos, apa kita lempar bom ini sekarang saja?" tanya salah seorang anak buah Lucas pada Leo.
"Jangan... lebih menyenangkan kalau kita buat tangki bensinnya bocor. Sebatang korek api dilemparkan. Boom!! Semua hancur berkeping-keping," gereget Leo membayangkan anak dari Lucas itu mati secara mengenaskan.
Pikiran Matthew terlalu terpaku lantaran mengkhawatirkan Ivana. Hingga dia tidak menyadari akan bahaya yang terus mengekori. Pandangan terus terpusat pada daratan yang samar-samar terlihat. Pemuda itu sudah tidak sabar ingin segera sampai dan menemui Ivana.
Di saat pikirannya sibuk berlabuh. Tanpa disadari, sebuah tembakan tahu-tahu meluncur dan mengenai badan kapal sebelah kiri. Di mana tangki bahan bakar berada di sana yang menyebab kebocoran parah. Cairan bening tersebut sedikit demi sedikit mengalir ke lautan.
"Lempar korek apinya sekarang!!" titah Leo bersemangat. Dia sudah tidak sabar menyaksikan benda di depannya itu hancur lebur tidak ada yang tersisa.
Seorang anak buah Lucas menyalakan korek api. Dia tersenyum sinis kemudian melemparkan benda tersebut pada air laut yang telah bercampur dengan solar. Api merambah sangat cepat, mengejar kapal yang dinaiki Matthew.
__ADS_1
"Kilatan apa itu?" gumam Matthew melihat sambaran api dari balik kaca jarak jauh. Sontak saja, kepala Matthew berputar. Matanya membelalak sempurna sebab saat ini dia tengah dikejar oleh sekumpulan api yang siap melahap kapal beserta tubuhnya. "Astaga...!!" pekik Matthew panik.
Pemuda berkulit eksotis itu berusaha untuk bersikap tenang agar pikirannya tetap fokus dan tidak buntu. Di tengah kepanikan, dia harus bisa mengontrol diri seperti yang sering dia lakukan pada pasien-pasiennya dahulu.
"Ayo berpikir-berpikir, Matthew!!" Setelah dua detik mencari jalan keluar, dia langsung terpikirkan untuk mengaktifkan auto pilot kapal tersebut.
"Aku harus selamat demi janjiku pada Ivana!" Matthew memasang tabung oksigen lantas melompat begitu saja ke dalam lautan dengan peralatan seadanya. Dia terus berenang sekuat tenaga. Menyelam semampu yang dia bisa. Dan beberapa detik kemudian api memburu kapal feri miliknya. Ledakan dahsyat mengguncang lautan membuat tubuh Matthew turut terhempas.
"..." Leo terbahak-bahak melihat kapal feri di depannya hancur berkeping-keping. Dia mengabadikan setiap momen, detik demi detik ledakan tersebut yang pastinya telah merenggut nyawa si pemuda malang.
"Kita lanjutkan perjalanan! Aku sudah tidak sabar ingin bertemu gadis itu. Lumayanlah sebelum dibawa menghadap Lucas, kita bisa sedikit mencici tubuhnya bersama-sama," ujar Leo terdengar mengerikan.
Namun, tidak di telinga para anak buahnya. Selorohan Leo seakan angin segar setelah berminggu-minggu memburu Ivana, mengesampingkan kebutuhan biologis mereka. Dan kali ini, semua akan menyembur di dalam lubang yang sama.
...***...
Amanda yang tengah menatap dunia luar dari balik jendela, nampak acuh tak acuh akan kedatangan suaminya itu. Dia hanya menoleh sekilas dan kembali berkelana dengan khayalannya.
Lucas mengibaskan tangan, meminta pembantunya itu meninggalkannya berduaan dengan Amanda di kamar. Lady mengangguk lemah lantas ke luar dari kamar sang majikan dan menutup pintu dengan rapat.
"Kenapa mengabaikanku, sayang?" Lucas berjalan gontai menghampiri Amanda yang tidak sudi melihatnya. Pria itu berdiri tepat di belakang punggung sang istri dan melingkarkan tangan ke pinggang begitu mesra.
Amanda menarik tangan Lucas lanjut memelintirnya. "Jangan sentuh aku, brengsek!! Tangan ini terlalu kotor untuk menjamahku!!"
Amanda mencampakkan tangan Lucas lanjut menyorong dadanya. "Ceraikan aku, Lucas! Aku tidak mencintaimu. Kamu memiliki segalanya, akan sangat mudah mendapatkan apa pun yang kamu inginkan!"
__ADS_1
"Ayolah Amanda... kita sudah membahas hal ini sebelumnya, bukan? Harusnya kamu ingat akan perkataanku. Kalau aku tidak akan pernah melepaskanmu!" jawab Lucas. "Dari pada aku membebaskan dan melihatmu kembali pada putraku. Lebih baik, aku congkel jantungmu itu..." sambung Lucas.
"Lakukan sekarang kalau begitu!" geram Amanda pasrah kalau pun harus mati dalam usia muda, dari pada hidup bersama pria iblis hanya menyiksa dirinya sendiri.
"Sabar sayang... nanti kita menunggu yang tepat. Setelah putraku kembali ke istana ini, aku akan mengabulkan keinginan muliamu itu. Sekarang, bersiap-siaplah dulu, jam enam malam aku tunggu di lantai dasar. Ingat, rias wajahmu secantik mungkin. Aku ingin, kamu ratunya malam ini!" Lucas beringsut dari dalam kamar sang istri menyisakan kekesalan dan kebimbangan di dalam diri Amanda.
"..." Amanda mengacak-acak kain yang menutupi ranjang king size, melampiaskan kekesalan di dalam hati.
...***...
Leo serta anak buahnya saat ini telah sampai di daratan. Mereka tergelak lantaran masih terbawa euforia kebahagiaan akan kematian Matthew di tangan mereka, terutama Leo.
Pria pengkhianat itu terus menyunggingkan senyuman dengan sinar mata berkilauan. Satu per satu, rencananya akan berjalan seperti yang diangan-angankan selama ini. Harta, tahta serta wanita yang dimiliki oleh Lucas.
Pria-pria berwajah bengis tersebut melangkah dengan derap pasti sebab imajinasi telah melambung tinggi. Mereka sudah tidak sabar untuk memuaskan nafsuu yang telah sampai di ubun-ubun. Hasrat kelelakian yang sekian lama tidak dilampiaskan, hari ini bertemu juga dengan muaranya.
Saat ini mereka telah sampai di depan cottage. Anak buah Leo menembak lubang kunci menggunakan senapan laras panjang. Daun pintu pun terbuka, mereka masuk ke dalam bangunan tersebut dengan penuh percaya diri.
"Anak manis... Daddy Leo datang," panggilnya dengan suara dibuat-buat. "Anak cantik, di mana kamu sayang? Mau main petak umpet dulu sama Daddy ya?" tanyanya membuat gelak tawa meluncur dari bibir-bibir kehitaman.
"Ivana sayang... ini Daddy Leo. Kita pulang yuk, Daddy Lucas menunggumu di istana. Kamu mau main sama Daddy Leo atau Daddy Lucas?" celoteh Leo menggelikan sembari membuka setiap pintu ruangan yang tertutup. "Di mana kamu sayang? Atau jangan-jangan... kamu ingin thre-e some, bermain dengan kita berdua langsung?" Leo mulai tidak sabar sebab tidak menemukan Ivana di mana pun.
"Keluar... tikus kecil! Sebelum aku ledakan bangunan ini dan aku bunuh kekasihmu itu!!" murka Leo lantaran masih mengira bahwa Ivana masih di dalam bangunan itu dan tengah bersembunyi darinya.
Menunggu beberapa saat, tetapi tidak ada jawaban. Leo mulai gusar dan bergerak ke sana ke mari, menembak apa pun yang ada di dekatnya.
__ADS_1
"Tikus busuk... keluar sekarang...!!!"
...*****...