Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 66 Matthew Siuman


__ADS_3

"Ah... aku di mana?" racau seorang pria yang baru tersadar dari tidur panjangnya. Dia memegangi kepala yang terasa berputar, sembari mengitarkan pandangan ke sekeliling kamar. "Oh My God... terima kasih atas kesempatan kehidupan kedua untuk manusia pendosa sepertiku," gumamnya menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca.


Pria tersebut bangkit lalu terduduk lesu sebab tubuhnya masih terasa lemas dan mata pun berkunang-kunang. "Ah... pusing sekali kepalaku."


Pria itu mengibas-ngibaskan kepala sembari memilin pangkal hidung serta pelipisnya. Kelopak mata menyipit, memperhatikan seisi kamar yang sangat asing di indra penglihatannya. "Rumah siapa ini?"


Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar untuk memeriksa kondisi lelaki yang tengah dia rawat. Dia sontak memekik kegirangan, memanggil suaminya saat melihat lelaki tersebut sudah siuman.


"Elio... come here! Lihat ke sini, dia sudah sadar...!" teriak Janic, berjingkrak-jingkrak lantaran merasa senang. "Elio... cepatlah ke mari. He wakes up!!" teriaknya lagi tidak sabar.


Teriakan Janic membuat Elio kalang kabut dan spontan berlari tunggang langgang dari arah garasi untuk melihat apa yang terjadi. Wajah yang penuh pelumas pun tidak dia hiraukan lantaran kepanikan oleh suara pekikan dari dalam rumah.


"Ada apa Janic?" Kepala Elio berputar mencari keberadaan sang istri di rumahnya. "Janic where are you, honey?" Elio kelimpungan, berlarian ke sana ke mari.


"Aku di sini, Elio! Di kamar tamu...!" teriak Janic dari arah ruangan yang berdampingan dengan perpustakaan.


Elio cepat-cepat menarik langkahnya menuju tempat di mana istrinya berada. "Kenapa teriak-teriak Janic, kau membuatku sangat waswas?"


Janic menunjuk ke arah dipan. "Pria yang kita tolong sudah siuman, Elio! Usaha kita untuk merawatnya ternyata membuahkan hasil."


Elio memutar kepala dan dia pun tidak kalah bahagia sebab laki-laki asing yang diselamatkan olehnya dari maut, kini duduk tegak menatap ke arahnya. "Thank's God... Kau berikan kesembuhan pada pria malang ini...."


Elio menghampiri pria tersebut dan mendaratkan tubuhnya di atas dipan, sedangkan Janic berdiri di samping sang suami.

__ADS_1


"Akhirnya kamu sudah siuman, Nak. Kami benar-benar mencemaskanmu. Terlebih tadi malam, kondisimu sangat mengkhawatirkan," ungkap Elio memulai percakapan lantaran pemuda di depannya masih terlihat kebingungan. "Kalau kami boleh tahu, siapa namamu?" tanyanya, hati-hati.


Pemuda itu mengerdipkan mata lanjut menghela napas. "Saya Matthew Alonzo, Tuan. Apakah Anda yang menyelamatkan saya?"


Elio menganggukkan kepala. "Betul, saya dan istri saya yang menyelamatkan Nak Matthew. Kebetulan, ketika kejadian ledakan dahsyat itu... kami tengah menyelam dan tidak sengaja melihat tubuh Nak Matthew hampir tenggelam karena pingsan."


Senyuman kebahagiaan terbit dari wajah lusuh nan pucat Matthew. Sebab masih ada orang-orang baik yang bersedia menolongnya dari maut. Walau sebetulnya beresiko tinggi karena bisa mengancam keselamatan diri.


Matthew menarik tangan Elio dan mengenggam erat lalu membungkukkan badan. "Terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih. Saya benar-benar berhutang budi pada Anda juga istri Anda. Semoga Tuhan membalas kebaikan hati kalian berdua."


"Sama-sama, Nak," balas Elio menepuk-nepuk pundak Matthew. "Ah... sampai lupa jadinya. Perkenalkan, saya Elio dan ini istri saya Janic. Ngomong-ngomong mengenai ledakan itu...."


Ucapan Elio terhenti lantaran Janic mencubit pinggangnya dan membisikkan sesuatu ke telinga sang suami. "Nanti saja nanyanya. Kasihan, dia baru juga siuman. Lebih baik, kau ajak dia sarapan. Sudah hampir satu minggu, tidak ada asupan makanan masuk ke perutnya."


Elio menepuk jidat lantas cengengesan. "Maaf, darling. Aku lupa saking senangnya."


"Ya, Tuan Elio?" sahut Matthew.


"Lebih baik sekarang Nak Matthew sarapan dulu, biar Janic membawa makanannya ke kamar ini. Saya yakin Nak Matthew pasti kelaparan, 'kan?" tanya Elio yang disambut dengan suara kerucukan dari perut Matthew. Semua orang sontak tergelak hanya karena hal sederhana barusan.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan. Sepertinya saya harus segera kembali ke rumah. Kasihan adik saya, dia pasti cemas menunggu kepulangan saya," jelas Matthew, teringat akan Ivana yang ditinggalkan seorang diri di cottage.


Matthew langsung saja menarik tubuhnya untuk berdiri. Akan tetapi, kedua kaki masih belum cukup kuat untuk menopang badan. Matthew terduduk kembali di atas dipan seraya meringis nyeri di bagian kepala, efek dari guncangan ledakan kapal feri miliknya tempo lalu.

__ADS_1


"Hati-hati, Nak..." ujar Elio memegangi lengan Matthew. "Lebih baik beristirahatlah dulu barang sehari atau dua hari di rumah kami. Kondisi Nak Matthew, belum pulih benar," sambungnya merasa gamang.


Matthew mendesah, "Saya hanya teringat Ivana, adik saya. Dia sendirian di cottage. Anak itu pasti ketakutan. Apalagi, dia memiliki fobia pada kegelapan."


"Tapi... kalau memaksakan diri pun, akan fatal resikonya," timpal Janic yang kini turut berbicara. Setelah dari tadi, dia hanya menjadi penyimak setia. "Buat berdiri saja, Nak Matthew tidak kuat, 'kan?" tanya Janic agar Matthew mau mempertimbangkan keputusannya.


Walau dengan berat hati, Matthew terpaksa harus tinggal lebih lama di tempat asing ini hingga kondisinya berangsur membaik dan tubuhnya sudah bisa bergerak bebas.


"Baiklah... kalau begitu, saya menurut saja pada nasehat kalian. Saya memang masih membutuhkan waktu untuk mengembalikan stamina. Namun, yang mengganjal di pikiran sekarang ini, bagaimana nasib adik saya? Dia pasti ketakutan," lirih Matthew memikirkan keadaan Ivana di cottage sana.


"Doakan dia baik-baik saja, Nak. Titipkan dia pada Tuhan. Karena Tuhanlah sebaik-baik penjaga di muka bumi ini," tutur Elio, menyejukkan.


Matthew hanya mengangguk tipis dan kembali mengucapkan terima kasih pada pasangan suami istri di hadapannya. Dia merasa terhutang budi karena berkat ketulusan kedua orang tersebut, dia merasa terlahir kembali.


...***...


Setelah pertemuan Ivana dengan kedua orang tuanya. Samuel langsung bergerak cepat. Dia memasukkan berkas-berkas penting mengenai kejahatan Lucas, ke pengadilan tinggi pusat.


Pria bernetra cokelat itu, tidak ingin berlama-lama lagi untuk menyeret Lucas ke tiang gantungan. Dia sudah tidak sabar membayangkan laki-laki yang telah membuat kekasihnya tewas, tersiksa di akhir hayat dan mati dalam keadaan mengenaskan.


Hari ini, dengan gagahnya. Dengan seragam kebanggaan yang dia pakai, Samuel datang ke istana Black Angel membawa surat penangkapan atas nama Lucas Denver Alonzo. Tersangka dengan kasus penculikan, pelecehan, kekerasan anak di bawah umur, jual-beli anak remaja, pelacurann serta penyelundupan barang haram berjenis heroin.


Samuel sangat yakin, sederet kasus yang ditujukan untuk menangkap Lucas tersebut, akan berhasil membawa pria itu menuju gerbang kematian. Di mana kepalanya dijerat oleh seutas tali dengan tubuh diberondongi oleh peluru-peluru tajam.

__ADS_1


"Wah... wah... wah... lihat ini, siapa yang berani menginjakkan kaki di istana suciku?" cibir Lucas pada pria berseragam di depannya."


...*****...


__ADS_2