
"Kenapa berhenti?" tanya Amanda sebab Matthew tiba-tiba mengunci kursi rodanya setelah melewati pintu ruang perawatan.
Pemuda berlesung pipi itu seperti tengah mencari seseorang. Berulang kali, pandangannya berkeliling ke seluruh sudut koridor Rumah Sakit. Dia menghela napas panjang, sebagai bentuk ungkapan kekecewaan. "Tidak kenapa-kenapa."
"Benarkah?" Amanda menangkap kebohongan dari raut wajah sang kekasih. "Apa kamu mencari seseorang, Matthew?" Amanda turut mengitarkan kepalanya. Namun, kondisi koridor tengah sepi. Tidak ada satu pun yang melintas ataupun sekedar berdiam diri.
"Ah... tidak ada, lagi pula menunggu siapa lagi?! Cuman kamu satu-satunya yang aku butuhkan." Matthew menarik jemari Amanda. Dia mengecup punggung tangan kekasihnya itu. Akan tetapi, perasaan seorang wanita sangatlah peka. Tidak mudah percaya, meski ribuan kecupan berusaha mengalihkan pikiran.
"Oh iya, aku mendadak teringat pada gadis yang menjadi saksi di persidangan. Sepertinya kalian sangat dekat." Amanda tersenyum kecut.
"Kita jadi pulang, 'kan?" Matthew tidak ingin Amanda berpikir terlalu jauh tentang hubungannya dengan Ivana.
"Telepon saja dulu gadis itu, biar kamu tenang." Amanda menepuk-nepuk kedua bahu Matthew. Matanya melirik ke arah tempat sampah dan rangkaian kejadian demi kejadian langsung saja memenuhi isi pikiran.
"..." Allison berdeham. "Mommy lama-lama jengah mendengar perdebatan kalian!" ungkapnya.
"Sorry, Mom!" sahut Matthew, membuka kunci kursi roda. "Kita pulang sekarang... aku ingin buru-buru sampai di apartemen."
"Itu yang Mom mau. Pinggang ini rasanya, ah... seperti akan patah." Allison memegangi pinggangnya yang ngilu. Maklumlah karena usianya sudah tak lagi muda. Tidur di atas sofa hanya membuatnya menderita.
Amanda mendorong kursi roda dengan perlahan. Ntah mengapa bayangan gadis yang dia lihat di persidangan, tiba-tiba mengganggu pikiran. Padahal selama ini, dia tidak mempedulikannya lantaran terfokus akan kesembuhan sang kekasih.
"Ada apa dengan aku ini?!" batin Amanda. Langkah terhenti, mata memicing. Perasaannya mengatakan bahwa gadis yang diperdebatkan oleh dia dengan Matthew berada di dekat mereka. Kepala Amanda berputar, menjelajah ke setiap titik. Namun, tetap saja dia tidak menemukan siapa pun di sana. "Ah... mungkin hanya perasaanku saja!"
__ADS_1
"Sekarang, malah Amanda yang bengong," tegur Allison.
"Ke-kenapa Mom?" Amanda terkesiap.
"Tidak kenapa-kenapa. Itu, ada anak kucing bertelur," gurau Allison.
"Anak kucing bertelur? Mana Mom?" Amanda yang masih berada dalam dunia khayalnya, sontak mencari-cari anak kucing. Allison spontan terbahak-bahak melihat wajah polos Amanda yang percaya begitu saja pada leluconnya.
"Ya ampun, Nak... kalian ini benar-benar kompak ya. Yang satu bengong, yang satunya lagi ikut-ikutan bengong." Allison geleng-geleng kepala dan berjalan terlebih dahulu.
"Kamu baik-baik saja, Manda?" Matthew merasa was-was akan perubahan sikap gadisnya.
Amanda mengangguk dengan mulut tertutup rapat. Tangannya kembali bergerak, mendorong kursi roda menuju arah tempat parkir.
Di belakang sebuah pilar, seorang gadis dan wanita paruh baya terlihat tengah berpelukan. Wanita itu mengusap-usap kepala sang gadis seraya memberikan nasehat tajam. "Ayolah Ivana... sudah berkali-kali Mom bilang. Jangan mengharapkan pria itu! Usiamu dengan dia, terpaut jauh."
Natasha menarik Ivana dari dekapannya. Dia membidikkan kedua mata pada netra sang anak. "Itu hanya cinta sesaat, percaya sama Mom! Lambat laun, perasaan itu akan sirna. Kamu masih belia, masih labil...."
Sungguh Ivana kecewa akan perkataan ibunya, di mana wanita itu tidak bisa mengerti kemurnian cinta yang baru pertama kali dia rasakan. Hatinya bak tertusuk sembilu, sakit jua menyesakkan.
"Mom tidak mengerti bagaimana perasaanku!" protes Ivana, mulai terisak.
"Justru... Mom paham betul bagaimana anak seusiamu!" sahut Natasha.
__ADS_1
"Tapi Mom tidak paham pada anak sendiri!!" Ivana berlari meninggalkan Natasha seorang diri. Teriakan sang ibunda tidak dia indahkan. Gerak kakinya semakin cepat, tak kuasa menahan segala resah dan kekecewaan.
Mendengar nama Ivana dipanggil, Matthew terperanjat. Dia sangat yakin bahwa Ivana yang dimaksud adalah gadis yang tengah dia nantikan kehadirannya.
"Ivana? Ivana ada di sini?" pekik Matthew, sumringah. "Dia ada di sini, Manda. Adikku ada di sini!" sambungnya.
"Adik?" Amanda serta Allison serempak bertanya.
"Iya adik, gadis di persidangan itu sudah aku anggap adik," jawab Matthew antusias lanjut turut berteriak-teriak memanggil nama Ivana.
"Apa kau tidak punya nomor teleponnya, Matthew? Berteriak seperti ini hanya akan mengganggu ketenangan orang-orang," ujar Amanda karena mereka tengah menjadi pusat perhatian.
"Aku tidak peduli, Manda. Aku ingin bertemu adikku!" balas Matthew, memutar-mutar roda wheelchair.
"Kamu tunggu saja di sini, biar aku yang mencari gadis itu. Ok?" tawar Amanda.
Matthew mengangguk. "Tolong cari Ivana dan bawa dia padaku!"
"Tentu." Amanda berpura-pura tersenyum.
"Kamu tidak usah mencari orang yang tidak jelas, Nak!" tahan Allison. "Kan, bisa saja itu Ivana yang lain. Memangnya nama Ivana hanya gadis itu saja?"
"Tidak apa-apa, Mom. Setidaknya, Matthew tidak lagi penasaran," jawab Amanda. "Aku titip dulu Matthew yang Mom." Amanda langsung saja berlari ke arah suara wanita yang memanggil nama Ivana.
__ADS_1
Walaupun perasaan Amanda saat ini tidak karuan, tetapi demi melihat Matthew ceria kembali apa pun akan dia lakukan. Setulus itu perasaannya pada Matthew. Meski pria yang bertahta dalam hati, tanpa tersadar telah membagi cintanya kepada gadis lain.
...*****...