Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 52 Helikopter


__ADS_3

Berkas-berkas yang dibutuhkan untuk menyeret Lucas ke tiang gantungan sebentar lagi akan rampung. Namun, sayangnya gadis-gadis yang diselamatkan oleh Samuel beserta unitnya tempo hari, tidak ada satu pun yang bersedia untuk menjadi saksi.


Setelah pemulihan paska trauma, mereka lebih memilih untuk lekas kembali ke desa-desa tempat tinggal mereka. Gadis-gadis itu terlalu takut bila harus dilibatkan pada kasus yang berkaitan dengan Lucas.


"Bagaimana ini Kapten, semua gadis tawanan Lucas menolak untuk dijadikan saksi? Sementara, kita tidak akan semudah itu mengeret si mafia sialan ke pengadilan. Kita tahu betul, bagaimana sepak terjangnya, kebal hukum!" ujar anak buah Samuel resah.


Samuel menyugar rambutnya lalu bersandar ke tepian kursi seraya menghembuskan napas kasar. "Ada satu lagi yang bisa kita jadikan saksi, tapi aku belum menemukan di mana gadis itu berada."


"Siapa gadis itu, Kapten?" tanya sang anak buah antusias. "Biar kami mencarinya!" ucapnya bersemangat.


"Namanya Ivana Shawnette. Gadis itu berhasil kabur dan sekarang dalam perburuan Lucas beserta orang-orang suruhannya," ungkap Samuel menatap langit ruangan. "Aku sudah menugaskan teman-teman kita, tapi belum juga ada kabar baik sampai saat ini," jawabnya resah.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sesaat kemudian, Samuel mendapatkan telepon dari sang anak buah yang diperintahkan untuk mencari keberadaan Ivana.


📱


xxx


Selamat siang, sir!


Samuel


Bagaimana?


xxx


Target sudah berhasil diketemukan!


Samuel


Benarkah?


xxx


Benar, Kapten!


Kami sedang menuju ke lokasi


Samuel


Bagus

__ADS_1


Kalau begitu kirimkan detail lokasinya!


xxx


Siap, Kapten!


Segurat kebahagiaan tertarik di antara bibir tipis di wajah nan kuyu. Seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Samuel langsung bergerak setelah mendapatkan kabar baik barusan. Secercah harapan nampak semakin gemilang di depan mata. Pembalasan dendam serta tugas negara, akan berakhir sesuai rencana.


"Tolong siapkan helikopter, sekarang juga!!" perintah Samuel pada lelaki yang duduk di depannya.


"He-helikopter?" tanya sang anak buah keheranan. "Ba-baik, Kapten. Akan tetapi, kalau boleh saya tahu. Anda akan bertolak ke mana?" tanyanya penasaran sebab Samuel memberikan perintah secara tiba-tiba.


"Teman-teman kita sudah mendapatkan tempat persembunyian gadis itu. Mereka sedang bergerilya ke sana dan aku akan menyusul ke lokasi," ungkap Samuel memasukkan beberapa senjata dan alat peledak ke dalam tas ranselnya.


"Saya ikut!!" pinta sang bawahan.


Samuel geleng-geleng kepala. "Kamu di sini. Jaga markas kita. Aku memberikan perintah padamu!!"


"Siap, Kapten!!" jawab anak buah Samuel menderapkan kedua kaki seraya memberi hormat.


"Siapkan helikopter, sekarang!!" sentak Samuel sebab laki-laki di depannya masih saja belum beranjak.


"Si-siap, Kapten!!" Secepat kilat anak buah Samuel beringsut untuk melaksanakan perintah atasannya menuju lantai atas di mana sebuah helikopter terparkir. Dengan keahlian yang dimiliki, dia menyalakan mesin helikopter dan mengeluarkan benda tersebut dari dalam garasi menuju helipad.


"Aku pergi dulu. Ingat, jaga markas kita selama aku tidak ada!" titah Samuel pada lelaki yang berdiri menatapnya nanar.


"Siap, Kapten! Kembali dengan selamat, Kapten!" kata sang anak buah memberi hormat.


"Pasti!" Samuel turut memberi hormat pada bawahannya.


Pria berusia dua puluh lima tahun itu memasang head phone dan mulai mengoperasikan helikopter yang akan membawanya ke pulau Coconut dengan jarak tempuh sekitar enam ratus kilo meter dan menghabiskan waktu kurang lebih dua setengah jam.


Samuel menganggukkan kepala kepada sang anak buah. Dan pesawat terbang itu pun mulai meninggalkan tempatnya dengan baling-baling berputar semakin kencang. Dia siap melintasi pulau-pulau serta lautan demi tugas yang diemban.


...***...


"Berapa harga daging kambing ini, Nyonya?" tanya Matthew pada seorang penjual wanita. Dia memilah-milah bagian daging yang bagus dan segar untuk dijadikan hidangan makan malam.


"Daging kambing ini harganya delapan dollar per kilo, Tuan (Sekitar delapan puluh ribu rupiah)," jawab si penjual ramah.


Matthew manggut-manggut. "Kalau begitu, berikan saya tiga kilo."

__ADS_1


"Banyak sekali Anda membeli daging kambing. Apa untuk merayakan sesuatu?" tanya si penjual sembari memasukkan barang dagangannya ke dalam kantong kertas.


"Ah... tidak, Nyonya. Kebetulan saya tinggal di pulau seberang. Jadi, membeli daging sebanyak ini untuk stok beberapa hari," ungkap Matthew, alasan dia membeli daging kambing sebanyak itu.


"... ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan?" tanya si penjual lagi.


"Cukup itu saja, saya harus membeli sayuran," sahut Matthew.


Penjual mengangguk-angguk dan menunjukkan seorang pedagang yang sudah tua renta. "Tolong beli dagangan pria itu, Tuan. Sedari tadi tidak ada satu pun yang membelinya."


Matthew memutar tubuhnya dan melihat laki-laki dengan uban yang sudah memenuhi sekeliling kepala. "Pria itu, Nyonya?"


"Betul, Tuan. Kasihan, dia hanya hidup berdua dengan sang istri. Namun, istrinya tengah sakit keras," ungkap si penjual.


"Ah... oke-oke!" Matthew menggerakkan kepala ke atas dan ke bawah berkali-kali. "Terima kasih, Nyonya. Anda orang baik. Semoga Tuhan selalu memberkati Anda." Matthew menghampiri pria tua yang dimaksud untuk membeli dagangannya.


"Selamat siang, Tuan. Apa yang Anda butuhkan?" tanya pria sepuh tersebut tak kalah ramah.


"Ah iya... saya membutuhkan selada, brokoli, paprika, jagung manis, bawang bombay dan jamur." Matthew menyebutkan satu per satu sayuran yang akan menjadi pelengkap hidangan utama makan malam.


Penjual tersebut memasukkan sayuran yang disebutkan Matthew tanpa melewatkan satu pun juga. Namun, tanpa sepengetahuan pemuda itu si penjual telah menyimpan sebuah alat pelacak ke dalam paper bag. "Terima kasih banyak, Tuan. Datang lagi ke mari lain hari...."


"Tentu saja," sahut Matthe tanpa menaruh curiga sedikit pun.


Sudah satu jam Matthew berada di pulau seberang dan kini semua keperluan yang dibutuhkan telah dia dapatkan. Pemuda itu bergegas untuk segera pulang lantaran sangat merisaukan keadaan ivana yang dia tinggalkan seorang diri di cottage miliknya.


...***...


Sementara, di pulau milik pribadi yang hanya ada seorang gadis belia menantikan sang kekasih hati. Beberapa pria mengenakan topeng tengah berpencar mengelilingi bangunan kecil di tengah-tengah pulau asing tersebut.


Mereka mencari celah yang bisa digunakan untuk memasuki bangunan itu tanpa harus mendobrak pintu karena hanya akan menimbulkan keterkejutan lantaran suara bising yang ditimbulkan.


"Jendela dapur sepertinya terbuka. Ini kesempatan bagus untuk kita menerobos masuk sekarang juga," ujar salah satu pria penuh semangat.


Pria yang satunya menganggukkan kepala dan cingak-cinguk untuk memastikan keadaan di sekitarnya apakah aman atau tidak. "Tunggu! Bukankah kita diminta untuk menunggu kapten Samuel? Sebentar lagi dia akan tiba di tempat ini."


"Tapi aku sudah tidak sabar ingin menyelamatkan gadis itu!" sahut pria di depan jendela. "Kapan lagi, 'kan, aku menjadi seorang pahlawan?" sambungnya yang terdengar jenaka.


"Lebih baik komunikasikan dulu dengan rekan-rekan kita yang lain. Karena kalau kita sampai melakukan kesalahan, semua rekan-rekan kita pun akan terkena getahnya," balas pria yang satunya tegas.


Pria yang berdiri di depan jendela hanya bisa menghela napas. "Oke, baiklah... aku menurut saja pada perkataanmu."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2