
"Ada apa kau memanggilku ke mari, Tuan Lucas?" bisik Gibson mengunjungi sel tempat pria bangkotan itu dipenjara.
Lucas mendesah, "Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku."
"Apa?" tanya Gibson celingukan.
"Lenyapkan pengkhianatku!!" titah Lucas.
"Siapa?" tanya Gibson, membutuhkan informasi yang lebih jelas.
"Leo dan istri keempatku, Bellen! Aku dengar, pria itu masih berada di Rumah Sakit. Aku ingin kamu menghabisinya sekarang juga, sebelum mereka melarikan diri!!" Lucas tidak bisa mentoleri apa pun bentuk pengkhianatan. Meskipun, dia sendiri sebenarnya adalah seorang pengkhianat. Pengkhianat yang telah menodai janji suci pernikahan juga kesetiaan.
"Oh... itu perkara gampang! Serahkan saja urusan itu padaku. Kau cukup duduk saja di sini, aku yang akan melenyapkan pria itu juga istrimu, dengan tanganku sendiri," jawab Gibson menepuk dadanya.
Lucas menyeringai. "Anjing yang baik, akan selalu patuh pada majikannya!"
Gibson mengangguk. "Kalau tidak ada yang ingin disampaikan lagi, aku pamit. Sebelum bocah sialan itu ikut campur akan urusan kita!"
"Apa kalian sedang membicarakanku?" sinis Samuel, tiba-tiba muncul sembari mengunyah permen karet. "Sebab telingaku terasa panas dan berdenging," selorohnya menatap curiga ke arah Gibson maupun Lucas.
Gibson berjalan satu langkah ke depan lalu merapikan kerah seragam Samuel. "Apa kau terlalu penting, anak muda? Hingga kami harus membicarakanmu?"
Samuel mencengkeram tangan Gibson. "Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu ini, Inspektur Gibson! Aku tidak sudi, tangan yang dibasuh dengan darah pengkhianatan, memegang seragam kehormatanku!!"
Samuel menghempaskan tangan Gibson dan menyuruhnya untuk segera pergi. "Kalau tidak ada lagi urusan di kantor saya, lebih baik Anda segera pergi Inspektur Gibson! Karena di sini bukanlah tempat pengkhianat negara!!"
Gibson mencebikkan bibir dan mendengus kasar. "Suatu saat kamu akan mendapatkan balasan atas kesombonganmu itu, Kapten Samuel Arbecio!!"
Samuel memicingkan mata lalu mencodongkan wajah, berbicara di samping telinga Gibson. "Kita lihat saja nanti, siapa yang akan hancur. Saya atau Anda?"
"Sekarang, silakan Anda keluar dari kantor saya. Masih ingat, 'kan, pintu keluarnya?" tunjuk Samuel pada arah pintu di dekatnya.
Gibson menghentak lantai lalu mendelik ke arah Samuel seraya mengenakan topi kebanggaannya. Dia berjalan dengan langkah lebar lantaran perkataan Samuel membuatnya murka.
"Sepertinya kalian berdua sangat cocok, sama-sama culas!" sindir Samuel kepada Lucas. "Kenapa tidak diresmikan saja hubungan kalian? Aku orang pertama yang akan mendukung juga mengucapkan selamat," sarkasnya kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Lucas.
__ADS_1
Pria tua itu berteriak-teriak sebagai ungkapan kekesalan dari ucapan Samuel yang dianggap menghina martabatnya. Namun, pemuda itu dengan santainya memasangkan ear phone ke dalam telinga.
"Bajingan kau Samuel... bocah ingusan sialan...!!" teriak Lucas yang hanya menjadikan dirinya sasaran tatapan-tatapan jengah dari para tahanan lainnya.
...***...
Rumah Sakit Del Monte
"Bellen?" panggil Leo, mengangkat tubuhnya dari posisi terlentang ke posisi terduduk.
Bellen sigap untuk membantu kekasihnya itu agar bisa duduk, dengan posisi yang nyaman. "Ada apa Leo. Ada yang ingin kamu katakan padaku?"
Leo menggenggam tangan Bellen sangat erat. "Kau pergilah dari sini secepatnya!"
"Kau mengusirku?" Bellen tersentak. Selama kekasihnya dirawat di Rumah Sakit, dia tidak pernah kembali ke istana. Dia memilih untuk menemani sang kekasih hingga kondisinya pulih.
"Jangan berpikir macam-macam," ucap Leo, melihat garis kekesalan di wajah wanitanya.
"Lalu mengapa kamu ingin aku pergi? Kamu tidak benar-benar mencintaiku, Leo?" tanya Bellen menarik tangannya dari dalam genggaman si lelaki.
Leo mengusap-usap pipi kekasihnya. "Bukan begitu, Bellen. Aku cuman mengkhawatirkan keselamatanmu."
Leo mendesah, "Pergilah sekarang, kumohon... firasatku sangat tidak enak. Aku bisa merasakan kalau bahaya tengah mengancam kita."
Bellen terkekeh, "Bahaya apa, Leo? Lucas, 'kan, sudah dipenjara. Apa lagi yang kamu takutkan? Tidak akan ada lagi pengganggu yang mengusik hubungan kita!"
"Kamu tidak tahu, dia seperti apa. Lucas tidak akan membiarkan hidup kita damai dan bahagia!" geram Leo. Dia mengernyitkan kening sebab indera pendengarannya menangkap suara gesekan dari sebuah senjata api.
"Ada apa Leo?" tanya Bellen karena lelaki itu terlihat sedang mengintai sesuatu dengan telinganya.
Leo meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya, meminta untuk Bellen tidak berisik. "Sepertinya ada seseorang di luar!"
Pria itu turun dari atas ranjang pasien dan berjalan dengan kondisi kaki pincang. "Tunggu di sini, aku akan mengecek keadaan di luar!"
Leo melangkah perlahan ke depan jendela dan mengintip dari celah gorden yang dia singkapkan. "Benar dugaanku, ada orang mencurigakan di luar. Aku yakin kalau dia orang suruhan Lucas!"
__ADS_1
Bellen membuntuti Leo dengan turut berjalan ke arah jendela. Dia mengagetkan lelaki tersebut karena tiba-tiba bertanya. "Kamu melihat apa?"
Leo mendengus lalu membekap mulut Bellen dan menyeret wanita itu menjauh dari jendela. "Aku sudah menyuruhmu untuk menunggu di sini. Kenapa tidak didengar?!"
"Maaf, Leo. Aku hanya penasaran," rengek Bellen lantaran bentakan kekasihnya itu melukai hatinya.
Leo mendesah dan melembutkan cara bicaranya. "Maafkan aku Bellen. Di luar sepertinya ada orang suruhan Lucas. Dia mengincar kita berdua."
"Orang suruhan Lucas?" Bellen terkesiap. "Bedebah yang lemah syahwat itu rupa-rupanya tidak tinggal diam!" gereget Bellen. Lantaran dia berpikir bahwa Lucas akan fokus pada kasusnya sendiri dan melupakan mengenai dirinya juga Leo.
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Sedangkan jalan keluar satu-satunya hanya pintu itu!" tunjuk Bellen ke arah di mana anak suruhan Lucas tengah berdiri memantau keadaan.
Leo menunjuk ke arah langit-langit Rumah Sakit. "Kita bisa melarikan diri lewat cerobong udara ini!"
"Lewat sini?" tanya Bellen ragu-ragu.
"Iya." Leo mengangguk tegas. "Kamu naik duluan!" suruh Leo, membuka penutup cerobong yang terbuat dari besi.
"Ta-tapi?" sergah Bellen.
"Tidak ada tapi-tapi. Kamu naiklah ke pundakku!" titah Leo berjongkok, meski sambil meringis lantaran lututnya masih dalam proses penyembuhan. "Ayo cepat! Kita tidak ada waktu lagi!" sentak Leo. Memaksa Bellen untuk menuruti perintahnya.
Wanita berambut blonde tersebut menaikkan kedua kakinya ke atas pundak sang kekasih. Dan secara perlahan, pria itu berdiri seraya memegangi kaki wanitanya. "Ayo masuk ke dalam cerobong itu Bellen! Lalu merangkaklah hingga menemukan tempat yang aman untuk keluar. Nanti aku menyusulmu!"
Belum juga kedua tangan Bellen meraih pinggiran cerobong, sebuah tembakan lebih dahulu mengenai paha kanan Leo. Wanita itu memekik histeris karena keterkejutan. "Leo...."
"Jangan berhenti bergerak Bellen. Kumohon ...!" pinta Leo menahan tubuhnya sekuat tenaga agar tidak terjatuh. "Cepatlah Bellen! Jangan memikirkan diriku! Naiklah!!" sentaknya, dengan kondisi kaki gemetaran.
Sambil terisak, Bellen berhasil memasuki cerobong tersebut dan bersamaan dengan itu, tembakan kedua kembali terdengar. Wanita itu kembali berteriak menyebut nama kekasihnya. "Leo...."
"Pergilah... cepat..." lirih Leo yang melihat Bellen menyembulkan kepalanya dari samping cerobong.
Tembakan ketiga diluncurkan, Leo telah menghadap kematiannya saat itu juga. Sedangkan Bellen sontak merangkak seraya terisak memikirkan nasib kekasih hatinya.
Orang suruhan Lucas yang tak lain adalah Gibson, memperhatikan getaran dari arah langit-langit ruangan. Dia menodongkan senjata api, bersiap untuk membidikkan peluru ke arah target yang kedua. Namun sayangnya, dia lupa kalau di dalam pistol tersebut hanya ada tiga peluru.
__ADS_1
"Ah... sial!! Bisa-bisanya aku lupa!!" sungut Gibson lantaran kecerobohannya.
...*****...