
Mobil mewah berwarna hitam pekat, terus melaju meninggalkan tempat di mana si pengendaranya dilahirkan. Tempat yang hanya dijadikan tempat singgah, bukan rumah pemberi kenyamanan jua kehangatan. Bangunan megah yang menjadi tolak ukur sebuah kehormatan. Namun, baginya tak ubah hanya sebuah kerangkeng penderitaan.
Pemuda yang tengah merasakan patah hati, memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Kekecewaan, kemarahan serta kecemburuan bagaikan duri yang menusuk diri. Menjadikan dia berada dalam kerapuhan karena terperosok ke dalam pusaran cinta terlarang.
Amanda memang bukanlah cinta pertama untuk Matthew. Namun, gadis itu berhasil mencuri separuh jiwa serta hatinya. Sayangnya kini, dia terbang terlalu tinggi, hingga sulit untuk diraih kembali.
"Ayo gas! Kenapa lelet sekali?" keluh pria yang memakai topi pada temannya. "Nanti kita bisa kehilangan target. Kalau sampai itu terjadi, bos Leo pasti akan menghukum kita."
Pria yang sedang mengendarai mobil mendengkus jengah sembari menggebrak kemudi. "Shut up (diam)!!! Kalau kamu mengoceh terus seperti ini, hanya membuat konsentrasiku buyar!!"
Lelaki yang duduk di samping, menarik telapak tangan juga pundaknya ke atas. "Aku hanya mengingatkanmu. Karena target sudah terlalu jauh dari radar kita."
"Diamlah! Aku tahu persis apa yang aku lakukan. Paling penting, kita tidak kehilangan incaran kita!" sergahnya dengan mata tetap fokus memperhatikan mobil Matthew yang mengapung di atas jalanan aspal.
"Oke-oke, terserah! Kalau kamu sampai gagal membuntuti mobil itu, habis!!" ancamnya dengan kalimat menggantung. Namun, sangat mudah dipahami maksudnya.
Sementara itu, Matthew belum menyadari bahwa mobilnya tengah dijejaki seseorang. Dia asyik mengangguk-anggukkan kepala menikmati hentakan musik metal sembari turut bernyanyi. Dengan begitu, dia bisa melupakan masalahnya meski sesaat. Meredam deburan rasa yang amat menikam relung hati.
Mobil penguntit berusaha menyusul dan mendekatkan jaraknya dengan kendaraan milik Matthew. Hal ini membuat pemuda itu mengendus sesuatu yang tidak beres tengah mengintainya.
"Itu, 'kan, mobil orang suruhan Dad. Untuk apa mereka mengikutiku?" Matthew memutar tuas gigi lalu menancap gas agar kendaraan melaju lebih cepat dari sebelumnya. Debu berterbangan seiring angin yang semakin kencang. Mobil hitam itu mengayun serta melayang, membelah jalanan yang mana samping kiri dan kanannya adalah jurang curam.
"Sasaran kita sepertinya tahu sedang diikuti! See, gara-gara kamu meminta untuk menancap gas, kita bisa kehilangan jejaknya." Si pengendara mobil itu menyalahkan rekannya karena terus mendesak untuk mendekatkan jarak. Dan kini mobil Matthew semakin melesat. Bertambah sulit untuk dikejar sebab medan jalan sangat riskan buat dilalui. "Ah, sial!! Kita kehilangan jejak!!" pekik si pengendara memukul setir mobil berkali-kali.
Matthew menarik bibirnya ke salah satu sudut sembari mengecek keadaan dari balik spion. Dia bisa bernapas lega karena mobil yang mengintilnya sudah tak terlihat. "Mau bermain-main dengan Matthew Alonzo? Sebaiknya kalian pikir-pikir ulang!"
Matthew membelokkan kendaraan ke arah kiri. Arah yang tidak akan membawanya menuju kota di mana tempatnya tinggal berada. Sebab dia akan bertolak ke desa terpencil untuk melihat kondisi Ivana kemudian memindahkan gadis itu ke lokasi yang lebih aman.
Anak buah Leo saling menyalahkan dan akhirnya mereka terlibat perkelahian satu dengan lainnya. Keduanya keluar dari mobil dan berbalas serangan ntah itu pukulan ataupun tendangan. "Ini gara-gara kamu, tolol!!"
"Apa kamu bilang, aku tolol? Kamu yang tolol, bajingan!!" balas pria yang mengenakan topi.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak bersikukuh menyuruh untuk medekatkan jarak, kita pasti tidak akan kehilangan buruan kita!" sergah pria yang mengendarai mobil.
Ketika mereka sedang bertikai, telepon genggam salah satu dari mereka berdering. Pria yang memakai topi mengeluarkan benda tersebut dari dalam celana, dengan tangan gemetaran karena takut akan hukuman yang diberikan Leo.
xxx
Ha-halo, Bos
Leo
Bagaimana target kita, masih aman, 'kan?
xxx
Ta-target... ta-target... lolos, Bos
Leo
Aku tidak mau tahu, kejar terus orang itu sampai dapat!!!
xxx
Ta-tapi kami benar-benar kehilangan jejaknya, Bos!
Leo
Ah... dasar dongok!! Kerja kalian tidak becus!!
Kembali ke markas sekarang! Kita susun rencana baru
xxx
__ADS_1
Si-siap Bos. Kami berdua kembali ke markas
Kedua orang suruhan Leo langsung saja berdamai dan melupakan bahwa mereka tengah berkelahi. Keduanya sama-sama masuk ke dalam mobil lalu berputar arah untuk kembali ke tempat semula.
...***...
Sementara itu di istana Black Angel, gadis berusia dua puluh tiga tahun tengah berbahagia sebab hari ini dia akan dipertemukan dengan sang ayah. Senyuman terus mengembang sempurna di kedua sudut bibir. Mata yang sayu, berbinar seketika. Menggambarkan bagaimana suasana hatinya saat ini.
Tangan kanan meraih kain berwarna hitam yang menjadi penghalang antara tempatnya berpijak dengan tempat sang ayah beristirahat, tetapi bukan istirahat seperti yang ada di pikirannya. Melainkan istirahat menuju kedamaian.
Gadis itu menjerit pilu saat menyibakkan kain tersebut, nampak oleh kedua matanya lelaki yang amat dia cintai telah mati dalam kondisi sangat mengenaskan. Kepalanya menggantung dengan lidah menjulur ke luar. Dan yang paling membuat Amanda shock, lantaran wajah Omran dilumuri darah. Di atas kepalanya menancap erat sebuah kapak.
"Papa...!!" jeritnya lagi.
"No... Papa sedang bersandiwara, 'kan? Papa mengerjaiku?" pekik Amanda meraung-raung melihat sang ayah begitu mengenaskan. Dia membalikkan badan kemudian langsung menyerang Lucas menggunakan kepalan tangan.
"Biadab kamu, Lucas!! Bedebah...!! Kenapa kamu membunuh papaku, kenapa?" raung Amanda seraya terus memukuli dada Lucas. Kepalanya bergerak ke sana ke mari lalu menemukan sebilah pisau tersimpan di atas meja.
Amanda langsung meraih pisau yang tergeletak itu kemudian mengarahkannya pada jantung Lucas seraya mengerang murka. Dia ingin menghabisi nyawa suaminya dengan cara menghunuskan benda tajam tersebut. "Rasakan ini, brengsekkk!!!"
Lucas menahan pisau tersebut menggunakan telapak tangan agar tidak mengenai tubuhnya. Darah segar pun bercucuran karena benda tajam itu menghunjam sangat dalam.
"Kamu harus mati, bajingan!!" Amanda menarik-narik pisau dari genggaman Lucas, tetapi lelaki itu berhasil mematahkannya.
Lucas berjalan maju untuk menekan mental istrinya. Wajah yang bengis bercampur sadis, memperlihatkan bahwa dia adalah seorang pria berdarah dingin yang tidak pernah main-main dengan perkataannya.
"Menangislah Amanda..." Lucas terus berjalan maju dan Amanda berjalan mundur. "Ayo menangis!!" pekiknya membuat Amanda terkesiap. Gadis itu gemetaran dan melempar segala sesuatu yang berada di dekatnya.
"Dasar pembunuh... kamu membunuh papaku...!!" raung Amanda histeris. "Kenapa kamu kejam sekali, Lucas? Apa salah papaku, sampai hati kamu membunuhnya?" rengek Amanda dengan bibir bergetar karena tangisan.
"Apa salah Omran? Salah Omran karena mencetak anak perempuan lacur sepertimu!!" sembur Lucas tak kalah murka. Semburat kebencian berkilatan di kedua netra cokelatnya.
__ADS_1
...*****...