
Seperti sidang sebelumnya, sidang lanjutan kali ini kembali digelar secara tertutup. Mengingat tragedi ledakan yang melukai salah satu istri dari si terpidana, penjagaan pun semakin diperketat.
Tidak ada wartawan, tidak ada orang yang diperbolehkan melintasi jalanan area gedung persidangan. Semuanya hening, hanya sapuan angin yang nampak mengendus dedauan kering.
Duduk di bangku pihak terdakwa seorang diri, Amanda merasa menjadi sorotan empuk pihak-pihak yang berada di persidangan. Akan tetapi, dia harus meneguhkan hati. Mengabaikan wajah-wajah kebencian, demi melihat kehancuran pria yang telah menghancurkan masa depannya juga membunuh sang ayah secara kejam.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh, ruang sidang mulai diramaikan oleh beberapa anggota kepolisian yang berjaga. Sebab sebentar lagi pihak pengadilan akan memasuki ruangan.
Seorang panitera beranjak dari duduknya lalu berucap. "Hakim memasuki ruang sidang, hadirin dimohon berdiri."
Semua orang berdiri untuk menghormati kehadiran hakim di tengah-tengah prosesi pengadilan. Hakim pun telah bertahana di kursi kebesarannya dan semua orang kembali dipersilakan untuk duduk kembali.
Hakim tersebut menghela napas, kemudian menatap ke sekeliling ruangan. Nampak sekali beban berat yang dipikul di pundaknya. Antara menegakkan keadilan dan pertaruhan jiwa raga melawan kejahatan dengan kasus luar biasa.
"Sidang pengadilan atas terdakwa Lucas Denver Alonzo, dengan nomor pidana 43WA/ZT/2022 dinyatakan tertutup untuk umum." Hakim mengetukkan palu sebanyak tiga kali, sidang telah resmi dibuka.
Sang terdakwa pun dibawa ke dalam ruang sidang, kepalanya berputar seraya cengengesan. Seakan dia yakin bahwa hari ini akan terbebas dari segala tuntutan.
"Hai my love!" sapa Lucas pada sang istri, lalu memberi ciuman jarak jauh. "Sebentar lagi aku akan bebas sayang, sabar ya..." ujarnya, yang hanya dibalas dengan lengosan muka.
Perhatian Lucas kini beralih ke arah pria yang duduk bersama seorang penuntut umum. "Hai Kapten Samuel, Anda hari ini terlihat tampan sekali! Aku suka dengan senyuman Anda, menawan...."
Samuel merekatkan jemarinya. Kemarahan serta kebencian terpancar jelas dari kedua netranya, lebih-lebih untuk saat ini. Melihat pria di hadapannya masih bisa tertawa sementara gadis malang dalam kondisi terancam. Ingin rasanya dia menghancurkan kepala si penjahat sekarang juga.
"Silakan berdiri di podium terdakwa, Tuan Lucas. Kami minta jangan mengulur-ulur waktu," tegur seorang penitera.
Lucas membalikkan badan dan menatap sang panitera. "Kenapa memangnya? Saya hanya menolong yang terhormat Kapten Samuel, sepertinya dia membutuhkan lebih banyak waktu."
Hakim mengetuk meja satu kali. "Dimohon, Anda tetap tenang Tuan Lucas dan jangan membuat kegaduhan!"
__ADS_1
"Baik Yang Mulia," sahut Lucas, dengan raut mengolok-olok lalu berjalan ke podium khusus terdakwa.
"Apa Anda siap mengikuti prosesi persidangan?" tanya hakim kepada Lucas.
"Seperti yang Anda lihat, Yang Mulia," sahut Lucas, sumringah.
Hakim mengangguk-anggukkan kepala, lalu mulai membacakan identitas si terdakwa. Suasana sidang pun kembali tegang sebab kali ini, hakim menanyakan perihal saksi yang akan dihadirkan di persidangan kali ini.
"Bagaimana, saksi sudah bisa dihadirkan?" tanya hakim pada penuntut umum.
Sang penuntut umum mengangguk dan mempersilakan saksi pertama untuk memasuki ruang persidangan.
"Amanda?" gumam Lucas juga Samuel secara bersamaan.
"Benar nama Anda adalah Amanda Shawnette Alonzo?" tanya penuntut umum pada perempuan yang berdiri di podium khusus saksi.
"Benar, nama saya Amanda Shawnette Alonzo," jawabnya menatap ke arah Lucas kemudian ke arah pria yang bertanya padanya.
"Lucas sosok suami yang baik dan dia juga sangat penyabar," jawab Amanda, tersenyum manis. Ruangan seketika menjadi riuh, terlebih Samuel yang terlihat menggerutu.
"Kamu benar-benar istri yang berbakti," puji Lucas, lantas memberi ciuman jauh lagi.
"Silakan dilanjutkan, Nyonya," ujar sang penuntut umum.
Amanda mengangguk dan kembali menyimpulkan senyuman. "Terima kasih. Pria yang berdiri di hadapan saya ini, saking sabar dan penyabarnya. Dia sampai tega menghilangkan nyawa ayah saya tanpa belas kasihan! Lihat foto ini! Lihat bagaimana ayah saya mati karena perbuatan biadab pria berhati binatang itu!!"
Amanda memperlihatkan foto-foto Omran dalam kondisi tergantung, dengan sebilah kapak tertancap di atas keningnya. Sang penuntut umum mengambil ponsel milik Amanda dan memperlihatkannya kepada hakim juga pemeriksa bukti-bukti.
"Perempuan kurang ajar, bisa-bisanya kamu memfitnah laki-laki yang mengangkat derajatmu dari dalam kubangan?!" sembur Lucas, murka. Tak terpikirkan sedikit pun olehnya kalau Amanda akan terang-terangan membangkang dan turut andil melawannya. "Lihat saja apa yang akan aku lakukan kalau sudah terbebas dari jeratan hukum ini!" ancamnya, seraya menunjuk-nunjuk muka Amanda.
__ADS_1
Hakim menetukkan palu satu kali. "Mohon kendalikan diri Anda, Tuan Lucas. Sikap Anda ini bisa memperberat dakwaan terhadap Anda!"
Lucas mencebikkan bibir dan mengerang kesal. Dia menendang pilar-pilar podium, lalu terdiam kaku. Sorotan membunuh tak urung dari menatap paras Amanda. Aura kebengisan tercium sangat jelas di setiap inci wajahnya.
"Lalu kenapa Anda mau saja dinikahi lelaki bajingan seperti dia?" tunjuk penuntut umum.
"Karena terpaksa. Ayahku memiliki sejumlah utang pada pria ini. Dia mengancam akan membunuh ayahku, jika aku tidak mau menikah dengannya, tapi... tapi dia malah tetap membunuh ayahku. Setelah aku resmi menjadi istrinya," isak Amanda tersedu-sedu. Mengingat kembali bagaimana memilukannya kondisi Omran saat itu.
"Dari saya sudah cukup, Yang Mulia," ucap penuntut umum, lalu kembali duduk di tempatnya.
"Bagaimana jaksa penasehat, apa ada yang ingin Anda tanyakan pada saksi?" tanya hakim pada pria yang berada di belakang Lucas.
Pria yang mengenakan jubah berwarna hitam, menganggukkan kepala dan menjawab dengan lesu. "Tidak ada, Yang Mulia...."
"What...???" pekik Lucas, geleng-geleng kepala. "Dasar pengecut sialan!!" umpatnya pada penasehat umum.
"Saya ingatkan sekali lagi. Jaga sikap dan bicara Anda, Tuan Lucas! Ini peringatan terakhir!" tekan hakim, penuh penegasan.
"Ya, ya, ya... atur saja, atur...!" ledek Lucas dan kembali mematung.
"Bagaimana untuk saksi kedua, apa sudah siap dihadirkan?" tanya hakim pada penuntut umum.
Penuntut umum tersebut menoleh ke arah Samuel. Dan pria berseragam itu pun menggelengkan kepala sebab hingga detik ini orang-orang yang ditugaskan olehnya belum memberikan kabar baik. "Kami belum siap, Yang Mulia. Tolong beri kami waktu sepuluh menit lagi, saksi masih di perjalanan."
"Tolong dipercepat karena kami tidak bisa terus-terusan membuang waktu," sahut panitera.
Samuel pun langsung beranjak, dengan telepon genggam di tangan. Dia akan menghubungi kembali orang-orang suruhannya. Namun, lagi-lagi tidak ada satu pun yang menjawab sebab mereka masih dalam proses penyelamatan.
"Ya Tuhan... tunjukkan Kuasa-Mu...."
__ADS_1
...*****...