
Seorang pria terbaring di atas dipan kayu dengan kepala bergulir ke kiri serta ke kanan. Keringat menitik di atas kening dan juga pelipisnya. Dia terus mengigau memanggil nama seseorang yang selalu berada dalam alam bawah sadarnya.
"Amanda... Amanda... aku disini Amanda...," racau seseorang itu dengan bibir pucat pasi. Badannya menggigil kedinginan. Akan tetapi, suhu tubuh mencapai 40 derajat celcius. "Amanda... aku kedinginan. Peluk aku, sebentar... saja. Kumohon ...." racaunya lagi.
Tragedi tempo hari telah membuatnya kehilangan kesadaran yang disebabkan oleh getaran keras dari ledakan kapal feri miliknya. Tubuhnya terhempas ke kedalaman lima puluh meter. Namun, dengan kuasa Tuhan dia masih tetap hidup dan diselamatkan oleh sepasang suami istri yang memiliki profesi sebagai penyelam handal.
"Elio, pria ini terus saja melindur dan suhu badannya masih juga tidak turun!" pekik wanita yang usianya berkisar empat puluh tahun. Dia mengompres kening dan area lipatan tubuh pria tersebut.
Pria yang bernama Elio meletakkan punggung tangan di atas dahi orang yang terbaring tersebut. "Sebentar, aku akan meminta obat tradisional pada tetangga kita. Dia kebetulan seorang tabib."
"Kalau begitu cepatlah, Elio! Obat yang kita berikan sudah habis dan tidak ada efeknya sama sekali!" suruh si wanita itu merasa cemas pasalnya laki-laki yang mereka tolong belum juga sadarkan diri dan suhu badannya belum turun juga.
Elio mengangguk tegas pada istrinya. "Tenanglah, Janic! Jaga laki-laki itu dengan baik, aku akan meminta obat pada tetangga kita. Semoga dia mau berbaik hati memberikan apa yang kita butuhkan."
"Cepatlah...," pinta Janic lirih.
Elio bergegas menuju rumah yang letaknya sekitar tiga ratus meter, menggunakan sepeda motor. Pulau yang menjadi tempat tinggalnya memang hanya dihuni oleh beberapa orang. Wajar saja, satu bangunan dengan bangunan lainnya memiliki jarak yang lumayan berjauhan.
Setelah melewati jalanan penuh pasir, Elio telah sampai di depan bangunan yang menampilkan ciri khas negeri gingseng. Dia mengetuk pintu dengan kencang hingga berkali-kali. Sebab rasa panik yang semakin menjadi, mengikis kesabaran dalam diri.
Seorang pria berkulit putih dengan mata sipit dan berahang tegas, membuka pintu sembari menguap. Dia menatap Elio dari ujung kaki hingga puncak kepala.
"Maafkan malam-malam mengganggu Mister Dong-Min. Saya Elio, tetangga sebelah," sapanya dengan sedikit membungkukkan badan.
__ADS_1
Dong-Min turut membungkuk. Namun, raut keheranan sangat jelas tercetak di wajahnya. Bukan tanpa sebab, itu karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Di mana semua orang tengah terlelap dalam tidurnya.
"Anda masih ingat, 'kan, dengan orang asing yang saya selamatkan beberapa hari yang lalu?" tanya Elio basa-basi sebelum menyampaikan maksud dari kedatangannya.
"Ya, saya masih ingat. Bagaimana keadaan pria itu sekarang?" tanya Dong-Min akan kondisi orang yang diselamatkan Elio.
Elio mendesah, "Itulah maksud kedatangan saya malam-malam ke rumah Anda, Mister Dong. Kondisi pria itu sepertinya semakin parah. Tubuhnya menggigil dan suhu badan sangatlah tinggi. Apa bisa, saya meminta sedikit obat tradisional untuknya?"
Dong-Min mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan menyiapkan obat-obatan dan peralatan akupuntur. Biar saya obati langsung pria itu."
Elio menaik turunkan badannya berulang kali. "Terima kasih banyak, Mister Dong. Terima kasih...."
Dong-Min bergegas masuk ke dalam rumah untuk mempersiapkan segala kebutuhan yang akan diperlukan nanti, pada saat melakukan pengobatan. Elio menunggu dengan sabar, meski rasa waswas menyerang sanubari.
Lima belas menit berlalu, Elio telah kembali bersama Dong-Min berjalan di belakangnya. Nampak Janic begitu gusar, mondar-mandir di teras rumah menunggu kepulangan sang suami.
"Mister Dong?" sapa Janic sumringah. "Terima kasih Anda bersedia ke rumah saya. Mari-mari... saya tunjukkan di mana laki-laki itu berada." Tanpa bertanya lebih dahulu kenapa Dong-Min datang ke rumahnya, Janic mempersilakan pria berjanggut tipis itu untuk masuk dan mengikuti dirinya.
Kini ketiga orang tersebut sudah berada di kamar tamu. Di mana pria asing tergolek lemah dan masih saja meracau menyebutkan nama seorang wanita.
Mister Dong-Min membuka tas yang berisikan alat-alat akupuntur lalu mengeluarkan apa yang akan dia butuhkan. Dan dia mulai menancapkan jarum-jarum tipis ke atas bagian tubuh, yang merupakan titik-titik untuk meredakan sakit yang diderita si pria asing.
Sebanyak dua puluh jarum telah tertanam di tubuh pria tersebut. Dan sambil menunggu, Mister Dong-Min meramu obat untuk diberikan pada lelaki yang belum diketahui namanya itu.
__ADS_1
Setelah melewati waktu tiga puluh menit, Dong-Min mencabut satu per satu jarum yang ditancapkan tadi. Keajaiban Tuhan pun terjadi sekali lagi, pria itu telah melewati masa kritisnya. Suhu badannya berangsur menurun dan sudah tidak lagi menggigil.
"Minumkan ramuan ini padanya," titah Dong-Min menyodorkan mangkuk keramik ke arah Janic. "Berkat kebaikan Tuhan, besok pagi dia akan siuman, tapi kalau kondisinya masih begini saja. Mau tidak mau, kalian harus membawanya ke Rumah Sakit," sarannya pada Elio juga Janic.
"Terima kasih Mister dong, atas kebaikan hati Anda," ucap Janic tulus.
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan," sahut Dong-Min. "Tolong minumkan sekarang obatnya. Semakin lama, maka khasiat obatnya akan menguap."
"Baik, Mister Dong." Elio mengangkat kepala pria asing dengan Janic memegang sebuah mangkuk dan sendok kecil. Dia meminumkan ramuan yang dibuat oleh tetangganya itu, sedikit demi sedikit hingga habis tak bersisa.
"Baiklah... sepertinya urusan saya di sini sudah selesai. Saya harus kembali karena nanti kalau istri saya terbangun, bisa-bisa panik mencari saya," ujar Dong-Min diselipi candaan. Dia terkekeh untuk mencairkan suasana tegang di ruangan tersebut.
"Ah, iya..." sahut Elio manggut-manggut, seraya turut tertawa meski sebenarnya terpaksa. "Mari, biar saya antar..." tawar Elio menjulurkan tangan ke arah pintu keluar.
Dong-Min mengangguk dan beranjak dari rumah Elio untuk kembali ke kediamannya.
...***...
Sementara itu, di waktu bersamaan. Namun, di tempat yang berbeda. Amanda masih terpaku dan terduduk lemas menatap nanar jenazah yang terkapar dengan darah segar mengalir dari dalam kepala. Tubuhnya bergetar hebat, wajah pun pias. Dia meringkuk tanpa ekspresi, seperti seorang mayat hidup.
Menjadi istri seorang mafia yang memiliki banyak rahasia dan dikelilingi orang-orang jahat, memaksa Amanda harus bisa melawan setiap ketakutan dan mau tidak mau mengikuti arus kekerasan. Dia harus mengubur jiwa lembutnya sebab kenyataan di depan mata berbanding terbalik dengan kehidupan sebelumnya.
"Ya Tuhan... aku harus melakukan apa sekarang?" Amanda kebingungan dengan mayat tersebut. "Kalau aku kubur? Lucas pasti akan mengetahui bekas galiannya! Ya Tuhan... beri aku petunjuk..." lirih Amanda, menyugar pucuk rambut dan menjambaknya.
__ADS_1
Wanita yang duduk di lantai dengan mulut disumpal serta kaki dan tangannya terjerat oleh alat pasungan, masih terus menggeram berharap sang gadis asing mau melihat ke arahnya. Namun sayang, Amanda masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Bukan hal mudah baginya melupakan kejadian yang terjadi dua puluh menit lalu.
...*****...