Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 49 Ulet Bulu


__ADS_3

"Bagaimana, apa kamu sudah medapatkan identitas orang itu?" tanya Lucas pada inspektur Gibson.


Pria berperut buncit menyodorkan selembar kertas yang berisikan data-data beserta beberapa helai foto yang menampilkan wajah seseorang. "Namanya Samuel Abercio. Dia seorang detektif berpangkat kapten. Dia sangat terkenal di kalangan kami karena sudah banyak mengungkap kasus-kasus penting terutama prostitusi dan penjualan obat-obatan terlarang."


"Samuel Arbecio?" Lucas mengulang nama yang disebutkan inspektur Gibson.


"Iya, Tuan Lucas. Nama pemuda ini Samuel Arbecio. Dia baru berumur dua puluh lima tahun, tapi sudah mendapatkan banyak penghargaan karena kinerjanya. Dan dia dijanjikan kenaikan pangkat kalau berhasil mengungkap kejahatanmu," ungkap Gibson dingin.


"Samuel Arbecio." Lucas tidak memperhatikan ocehan Gibson. Dia terus memicingkan mata lantaran wajah yang tercetak di dalam foto tidak asing di ingatannya. "Sepertinya aku pernah bertemu orang ini, tetapi aku lupa di mana."


"Ya?" sahut inspektur Gibson.


Lucas menoleh sesaat dan kembali menilik wajah yang tergambar di kertas foto tersebut. "Si brengsek ini rasa-rasanya aku pernah bertemu. Tapi kapan dan di mana, aku tidak ingat. Bisa kamu gali mengenai kehidupan pribadi dia di internet?"


"Bisa, Tuan. Sebentar..." Gibson langsung berkutat dengan komputernya. Jari-jarinya bergerak cepat, menari-nari di atas papan keyboard. "Ini, Tuan." Gibson memutar layar komputer agar Lucas bisa melihatnya dengan jelas.


Seringai menakutkan menghiasi paras Lucas saat ini, tidak tahu apa makna dari senyumannya itu. Memori tentang tragedi lima tahun lalu berputar kembali diingatannya. Ketika dia merudapaksa seorang gadis lantas membunuhnya di hadapan kekasihnya.


"Aku sekarang ingat siapa bocah ingusan ini." Lucas melempar foto-foto ke atas meja lalu menyandarkan punggungnya santai.


"Siapa memangnya?" Gibson penasaran mengapa Lucas bisa mengenal si detektif.


Lucas tergelak. "Dia hanya seekor keledai yang pandai menggertak dan mengancam. Aku ingat betul malam itu, dia hanya bisa mengoceh, tapi tidak bisa menangkapku!"


Gibson dibuat kebingungan karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Dia menggaruk-garuk kepala tidak gatal dan memilih untuk tidak bertanya lagi.


"Dia, kekasih si perempuan yang aku rampas kesuciannya. Dan gara-gara dia memergokiku, dengan terpaksa aku menggorokk leher gadis itu," jelas Lucas berbicara tanpa beban. Senyuman terus mengembang sempurna seakan menceritakan perihal yang membahagiakan.


Gibson hanya bergidig ngeri sebab tidak sedikit pun terlihat raut rasa bersalah di muka Lucas, yang ada malah pria tua itu nampak menikmati saat mengucapkan kata menggorokk.


"Apa yang akan Tuan lakukan setelah tahu identitas orang itu?" tanya Gibson membuyarkan pikiran Lucas yang sedang terbang melayang.


Lucas duduk dengan tegak dan menyilangkan kedua tangan di atas meja. "Tentu saja, aku akan memburu lalu menangkapnya. Setelah itu, aku kuliti, aku cabik-cabik perutnya dan aku congkel kedua matanya. Sepertinya itu sepadan dengan perbuatannya karena sudah menghancurkan bisnis terbesarku!!"


Gibson hanya menelan ludah, perkataan-perkataan Lucas barusan membuat bulu kuduknya berdiri. "Kalau Tuan membutuhkan tenaga tambahan. Orang-orang saya siap membantu."


Lucas tekekeh, "Tidak perlu, orang-orangku lebih pintar ketimbang orang-orangmu yang bodoh itu!!"


"Ah... baiklah kalau begitu." Gibson manggut-manggut meski hatinya dongkol. "Kalau persenjataan? Saya memiliki gudang senjata yang sangat lengkap. Kalau Anda mau, pakai saja," tawar Gibson.


"Senjata ya..." Lucas mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau senjata, baru aku butuh," cakapnya pada Gibson.


"Anda bisa kapan saja datang ke gudang senjata. Ini ID card untuk mengakses gudangnya." Gibson menyodorkan sebuah kartu berbahan tebal pada Lucas.


Lucas meraih kartu itu lantas memutar-mutarnya. "Oke, terima kasih inspektur Gibson. Aku harus pergi sekarang, ada pertemuan penting di markas."


"Silakan, Tuan Lucas..." balas Gibson berdiri bersiap untuk mengantarkan Lucas ke depan pintu.

__ADS_1


Sementara di luar kantor Gibson, seorang pria yang menjadi mata-mata Samuel dalam keadaan gugup serta waswas sebab mendengar percakapan Lucas dan Gibson tadi. Sedang sang atasan, tidak bisa dihubungi. "Kapten Samuel, Anda sedang di mana? Kenapa tidak mengangkat telepon saya?"


Di waktu bersamaan, Samuel yang baru saja kembali dari air terjun langsung mengecek ponselnya dan dia mendapati seratus panggilan tak terjawab dari orang suruhannya.


📱


Samuel


Hallo, ada informasi apa?


xxx


Ah... akhirnya Anda mengangkat telepon saya juga!


Samuel


Ya, ada apa?


xxx


Gawat, sir!!


Samuel


Iya, apa?


xxx


Samuel


Brengsek!!! Bedebah itu benar-benar pengkhianat!!!"


Terus pantau, or—


Hallo... hallo...!!


Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Samuel mencoba menghubungi anak buahnya kembali. Namun, nomor ponselnya berada di luar jangkauan. "Kenapa dengan dia? Aku merasakan firasat tidak enak!"


Di tempat lain, Lucas tengah bermain-main dengan seorang pria yang tak lain adalah mata-mata yang ditugaskan oleh Samuel. Dia menghabisi lelaki itu di dalam mobil lalu mengeluarkan jantungnya dari dalam tubuh pria tersebut tanpa rasa ngilu sedikit pun.


"Berikan ini pada kapten Samuel," titah Lucas pada Gibson. Pria berperut buncit itu menengadahkan telapak tangan seraya gemetaran dan menelan saliva berurang kali.


"Kenapa diam saja?" sentak Lucas sebab Gibson hanya duduk memaku.


"I-iya Tuan Lucas. Sa-saya akan mengirimkan jantung ini pada kapten Samuel," sahut Gibson ketakutan.


"Bagus... bekerja sama dengan Lucas Denver Alonzo jangan setengah-setengah kalau kamu mau selamat!" ujar Lucas penuh penegasan.

__ADS_1


"I-iya..." balas Gibson singkat.


Lucas tersenyum miring lalu menyuruh Gibson untuk beranjak dari kendaraannya. "Kalau begitu, cepat keluar!!"


"I-iya... ta-tapi kalau saya membawa jantung ini begitu saja, yang ada malah menjadi sorotan orang-orang," jawab Gibson gugup. Ingin sekali dia melemparkan benda yang ada di atas tangannya, saat itu juga.


"Ternyata yang bodoh itu bukan hanya anak buahmu, tetapi kamu juga!!" cibir Lucas. "Kamu pakai topi, 'kan? Bisa dijadikan buat menutupi benda yang kamu pegang! Ayo cepat keluar!! Membuang-buang waktuku saja!!" sentaknya tidak sabar.


"Ba-baik Tuan." Gibson melepas topi kebanggaannya. "Ha-hati di jalan," katanya sembari keluar dari mobil Lucas.


"Hm..." sahut Lucas mengibaskan tangan kiri.


...***...


"Astaga... matahari sudah mulai berada di puncak. Itu artinya jam makan siang sebentar lagi tiba dan itu artinya kalau pelayan istana masuk ke kamar dan tidak mendapati keberadaanku di sana..." Amanda menggantung ucapannya. Dia berjalan terseok-seok mengingat keadaannya bisa berada dalam ancaman.


Sudah lima belas menit gadis itu berjalan dan kini sudah memasuki kawasan danau tersembunyi. Dia menarik langkah dan terus berlarian meski peluh sudah membasahi tubuh.


Sepuluh menit terlewati, Amanda telah sampai di depan kamarnya. Namun, dia merasa kebingungan memikirkan bagaimana cara menaiki tali temali yang menggantung di atas dinding.


"Oh, My Gosh... aku tidak memikirkan sejauh ini." Amanda memilin pangkal hidung, kebingungan dengan cara apa bisa masuk kembali ke kamarnya.


"..." Amanda menghembuskan napas dan mencoba untuk menaiki kain-kain yang menjuntai tersebut. Sedikit demi sedikit dia bergerak meski sembari meringis sebab kedua lengannya terasa pegal.


Bangunan setinggi itu harus bisa dia lewati dan akhirnya berhasil. "Ya Tuhan... terima kasih untuk kekuatan yang Kau berikan padaku...."


Amanda buru-buru merapikan sprei-sprei itu dan menyembunyikannya di kolong tempat tidur. Setelah itu, dia menghempaskan tubuh ringkihnya ke atas kasur. "Aku lelah... benar-benar lelah, tapi aku juga senang...."


Amanda berkelana dengan pikiran-pikirannya. Dan seorang maid istana masuk tanpa mengetuk pintu. Dia mengejutkan gadis itu yang tengah asyik dengan dunianya sendiri.


"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dulu, Anna?" tegur Amanda akan sikap tidak sopan pembantunya itu.


Wanita yang bernama Anna hanya mendelik lalu memutar bola matanya. "Jangan berlagak seperti Nyonya. Di sini Anda hanya seorang tawanan!!"


"Kurang ajar juga ya kamu!" Amanda langsung beringsut dari atas ranjang dan menghampiri Anna.


Perempuan yang mengenakan celemek itu memindai pakaian Amanda yang nampak lusuh dan sedikit kotor di bagian lutut.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" sinis Amanda tidak suka dengan cara Anna menatapnya.


Anna menggelengkan kepala lalu menaruh nampan berisi makanan ke atas meja. "Ini makan siang Anda, Nyonya Amanda. Tolong dihabiskan karena ini hidangan mahal. Anda tidak akan sanggup kalau membelinya!"


"What??" sentak Amanda kesal.


Anna melengos dan pergi begitu saja dengan mata memicing tajam pada pakaian Amanda.


"Ya Tuhan... kenapa bukan Lady yang mengantarkan makanan? Mengapa harus si ulet bulu ini..." keluh Amanda merasa geram atas ucapan-ucapan pembantunya itu.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2