
"Hallo Tuan Lucas, long time no see (sudah lama tidak berjumpa)," sapa seorang pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Lucas. Dia menjabat tangan lelaki di depannya, lalu mempersilakan untuk duduk. "Ada apa gerangan, hingga berkenan datang ke tempat kecil ini?" tanya pria berkumis tebal yang mengenakan seragam sebuah institusi.
Lucas menghela napas lalu mematikan batang rokok yang tengah dia sesap. "Dua minggu yang lalu tempat persembunyian para tawananku ada yang menyelinap. Mereka berhasil membebaskan para gadis remaja yang menjadi pundi-pundi kekayaanku dan meleburkan semua yang ada di dalamnya."
"Tapi, bukankah gudang itu dijaga orang-orang terbaik Anda?" sahut pria berkumis tidak habis pikir dengan cerita Lucas sebab yang dia tahu ruang di bawah tanah itu sangatlah sulit untuk ditembus.
"Itulah... aku juga tidak mengerti, tapi anak buahku menemukan benda ini di tumpukan puing-puing bangunan yang meledak." Lucas mengeluarkan sebuah alat peledak dari dalam tas koper dan menyerahkannya pada lelaki berkumis tebal.
Pria berkumis itu meraih benda tersebut lalu menilik, memutar-mutarnya mencari sebuah petunjuk. "Ini, 'kan...?"
"Iya... granat itu milik kesatuanmu, Inspektur Gibson," potong Lucas memicingkan mata, menaruh curiga kalau pria di hadapannya ini diam-diam berkhianat.
Inspektur Gibson mendesah, lantas menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Iya, benda ini memang milik kesatuan kami, tetapi kode yang tertulis di sini adalah Z-NA-56. Itu artinya yang melakukan penyerangan adalah anggota dari pasukan khusus, bukan dari unit kami."
"Benarkah?" Lucas masih belum percaya akan penjelasan Gibson. Dia terlalu mudah menaruh prasangka buruk pada orang-orang di sekitar. Mengingat bisnis yang dia jalankan, sangat berkaitan erat dengan yang namanya pengkhianatan.
"Kalau Anda tidak memercayai saya, silakan Anda cari tahu sendiri mengenai siapa pemilik granat ini," sinis Gibson merasa kalau Lucas menyangsikan kesetiannya selama ini. Padahal, dia sudah bertahun-tahun menjadi seorang penjilat, demi karirnya di kepolisian.
Lucas terkekeh, "Inspektur Gibson, sekarang pintar merajuk ya?"
Gibson menarik tubuhnya lalu duduk dengan tegak. "Masih kurangkah bukti kesetiaanku selama ini pada Anda, Tuan Lucas Denver?"
Lucas turut duduk dengan tegak dan menatap devil pria yang tengah menekannya. "Masih sangat kurang. Tunjukkan kesetianmu padaku dengan berkhianat pada negara dan seragam yang kamu kenakan sekarang."
__ADS_1
"Apa timbal balik yang akan saya peroleh?" tanya Gibson menginginkan balasan yang sepadan atas loyalitasnya. Dia tidak ingin mengorbankan sumpah setianya pada negara, secara cuma-cuma.
Lucas tergelak seraya bertepuk tangan. "Sudah lebih pintar kamu sekarang, Gibson? Tenang saja, urusan dengan Lucas Denver tidak ada yang namanya gratis. Kamu mau apa dariku? Uang? Resort? Wanita-wanita malam? Salah satu bisnisku? Atau tidur dengan istri-istriku?"
Gibson turut tertawa, meski sebetulnya dia menginginkan semua yang Lucas tawarkan padanya. Akan tetapi, dia memiliki tawaran yang lebih menguntungkan. "Sebentar lagi pemilihan kepala daerah dan saya adalah salah satu calon yang diusung oleh partai Red Skull. Saya ingin Anda membantu, untuk saya memenangkan pemilihan tersebut."
Seringai misterius tersungging dari kedua sudut bibir Lucas. Dia sudah menduga, kalau Gibson akan meminta hal tersebut padanya. Karena desas-desus mengenai keikut sertaan Gibson pada pemilihan kepala daerah tahun depan, sudah sampai ke telinganya.
"Itu perkara mudah, serahkan saja padaku. Aku pastikan kamu akan memenangkan pemilihan kali ini. Asal ... kamu cari tahu mengenai orang-orang yang meledakkan gudang mesiu milikku, terutama identitas pemimpinnya! Aku ingin memberikan mereka sedikit pelajaran, yang tidak akan bisa dilupakan seumur hidup," titah Lucas pada Gibson, berapi-api.
"Baik, Tuan Lucas. Secepatnya saya dan anak buah akan bergerak mencari tahu perihal orang-orang itu," sahut Gibson pasti.
"Bagus... jangan pernah mengecewakan saya barang sekali pun, Inspektur Gibson!" Lucas berdiri lalu mengulurkan tangan kiri.
"Itulah yang namanya bisnis." Lucas menarik diri dari ruang pribadi Gibson dengan santai dan tanpa berpikir macam-macam. Karena itu, dia tidak menyadari bahwa kedatangannya ke kantor polisi, diawasi oleh orang suruhan Samuel.
📱
xxx
Lapor sir, target baru saja keluar dari ruangan inspektur Gibson
Samuel
__ADS_1
Bagus... terus awasi keadaan di kantor. Siapa tahu besok lusa target kita akan kembali ke sana!
xxx
Siap, sir!
Samuel
Lalu bagaimana dengan spy mikrophone (alat untuk mendengarkan percakapan) dan alat perekam suara yang dipasang di ruangan Gibson. Apa bekerja dengan baik?
xxx
Kedua alat tersebut bekerja dengan baik, sir! Saya bisa mendengarkan dengan jelas percakapan mereka.
Samuel
Bagus... laporkan segera kalau ada hal mencurigakan!
xxx
Baik, sir!
Selepas percakapan keduanya di telepon, anak buah Samuel melanjutkan pengintaian. Sedangkan Samuel sendiri, dia tengah menyiapkan rencana untuk menyelinap masuk ke istana Black Angel malam ini melalui pintu rahasia.
__ADS_1
...***...