
"Minumlah..." Amanda menyodorkan satu cup caffe latte panas kepada Abigail.
"Anda tidak perlu repot-repot, Nyonya. Saya bisa membelinya sendiri," ujar Abigail sungkan.
"Tidak apa-apa. Aku sekalian ke kantin, ambilah..." Amanda masih menyodorkan minuman tersebut.
Abigail mengangguk dan meraih kopi yang diberikan padanya. "Terima kasih, Nyonya Amanda...."
"Sama-sama, Abigail." Amanda duduk di samping pemuda tersebut dan matanya tertuju pada selembar foto yang berada di genggaman Abigail. "Itu foto kamu sama Lavina, 'kan?"
Abigail gelagapan dan langsung menyembunyikan foto tersebut ke belakang punggungnya. "I-iya, ini foto saya dengan Nyonya Lavina."
"Oh... kalian terlihat intim sekali," celetuk Amanda yang membuat Abigail tersedak karena minumannya.
"Ka-kamu tidak apa-apa, Abigail? Pelan-pelan minumnya..." Amanda menepuk-nepuk tengkuk Abigail, yang terbatuk-batuk.
"Sa-saya tidak apa-apa." Abigail kembali meneguk caffe latte untuk meredakan rasa gugupnya. "Foto ini diambil sewaktu perayaan New Year's Eve kemarin. Nyonya Lavina merasa kesepian karena tuan Lucas sibuk dengan bisnisnya. Jadi, dia meminta saya buat menemaninya," jelas Abigail tanpa diminta.
Amanda seolah tidak peduli tentang cerita karangan Abigail. Dia acuh tak acuh sebab pikirannya saat ini sedang tidak menentu. Selorohan Samuel tadi terus saja terngiang-ngiang di gendang telinganya.
"Kenapa proses operasi nyonya Lavina lama sekali?" lirih Abigail menatap ruangan yang sedari tadi pintunya tertutup rapat. "Ini sudah tiga jam berlalu, tapi tidak ada sedikit pun penjelasan tentang kondisi nyonya Lavina...."
"Aku juga tidak mengerti mengapa bisa selama ini, Abigail," sahut Amanda yang mendengar gumaman pemuda di sampingnya. "Aku sangat berharap, Lavina bisa berjuang untuk tetap hidup Dia wanita baik, berhak mendapatkan kesempatan kedua," ujar Amanda yang sama-sama menatap nanar pintu ruang operasi.
"Dia memang wanita yang baik, bahkan sangat baik..." sambung Abigail.
"Aku menangkap sesuatu berbeda dari perhatianmu pada Lavina," desak Amanda yang peka akan sikap Abigail terhadap madunya.
"Se-seperti yang saya katakan sebelumnya, nyonya Lavina sudah saya anggap seperti kakak sendiri," kelit Abigail masih berusaha menutupi hubungan antara dirinya dengan sang kekasih.
"Benarkah?" tekan Amanda. "Tapi... aku melihatnya lain. Perhatianmu tidak seperti seorang adik pada kakaknya, tetapi...."
__ADS_1
Perkataan Amanda terputus lantaran seorang perawat terlihat panik keluar dari ruang operasi seraya berlarian.
"Suster... ada apa Sus? Suster... suster...?" panggil Amanda pada seorang perawat. Namun, teriakannya tidak diindahkan oleh pekerja medis tersebut.
"Abigail... Lavina, Abigail. Apa yang terjadi dengannya?" resah Amanda karena berpikiran yang tidak-tidak.
Abigail tidak menyahuti kepanikan Amanda sebab dia sendiri pun tak kalah bimbang juga ketakutan. Dia berjanji pada Tuhan, jika sang kekasih diberi umur yang panjang. Dia akan menikahi wanita itu apa pun resikonya.
Sepuluh menit berlalu dan perawat tadi telah kembali dengan sebuah alat di tangannya. Dia berjalan tergesa-gesa agar segera sampai di ruang operasi. Akan tetapi, laju kakinya lebih dahulu dihadang oleh Amanda juga Abigail.
"Maaf Suster, bagaimana kondisi pasien? Kenapa Anda terlihat secemas ini?" tanya Amanda dalam kekalutan pikiran.
"Kondisi pasien kritis, dia kejang-kejang. Maaf, saya harus secepatnya masuk, permisi!" Perawat tersebut kembali ke dalam ruang operasi meninggalkan sejuta tanya dan kekhawatiran di dalam benak Amanda serta Abigail.
Pemuda dua puluh dua tahun itu berjalan gontai ke arah jendela kamar. Dia berjinjit, ingin mengintip kondisi di dalam ruangan operasi. Namun, nihil. Sebab ruang tersebut sengaja dibuat tertutup bagi semua orang.
Abigail memutar badan lalu melungsurkan tubuhnya sembari menyugar rambut dan menangis tersedu-sedu. Dia duduk meringkuk di atas lantai, meraung-raung memanggil nama kekasihnya. "Lavina... please, don't go away!! I love so much, my sweety heart...."
"Lavina tidak akan pergi ke mana pun. Dia akan di sini bersama-sama dengan kita," sahut Amanda lalu turut duduk di atas lantai.
"Nyonya Amanda pulanglah... hari mulai gelap. Biar saya yang menunggu nyonya Lavina di sini," pinta Abigail karena semakin lama berada dekat dengan Amanda, maka bisa semakin terkuak hubungan antara dirinya dengan sang kekasih.
"Kamu mengusirku, Abigail?" sentak Amanda tidak percaya.
"Bu-bukan begitu. Saya tahu Nyonya Amanda pasti kelelahan. Sejak pagi, belum beristirahat sama sekali," jelas Abigail tidak ingin Amanda salah paham akan maksud ucapannya.
"..." Amanda mendesah. "Baiklah... kalau begitu aku pulang dulu dan besok pagi pasti kembali ke Rumah Sakit. Tolong jaga Lavina untukku dan kalau ada kabar terbaru tentang perkembangannya, jangan sungkan-sungkan memberitahuku. Oke?" pinta Amanda pada Abigail.
"Tentu saja, Nyonya. Jangan khawatir soal itu," balas Abigail yang diakhiri senyuman simpul.
Amanda mengangguk-anggukkan kepala kemudian beringsut dari atas lantai. "Ingat ya pesanku tadi!!"
__ADS_1
"Siap, Nyonya!" balas Abigail dengan mengacungkan jari tengah dan telunjuk di depan kening.
Amanda terpaksa beranjak dari Rumah Sakit meski langkahnya terasa berat. Karena dia membutuhkan sedikit waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai tak berdaya.
...***...
Sudah setengah jam berdiri di pinggir jalan, tetapi tidak ada satu pun taksi yang melintas. Rasa letih semakin menyeruak, tubuh yang tegap berangsur hilang keseimbangan. Berkali-kali mulut menguap dengan helaan napas berat.
"Apa tidak ada taksi di sekitar sini?" keluh Amanda menoleh ke arah tangan kiri. "Baru juga pukul tujuh, tapi jalanan sudah sepi begini. Apa aku kembali ke dalam saja ya?" pikir Amanda menoleh ke arah Rumah Sakit.
Dara berusia dua puluh tiga tahun itu mencari tiang untuk bersandar. Kepalanya berkali-kali terhuyung lantaran rasa kantuk yang tengah dia rasakan saat ini. Dan mata pun tiba-tiba terpejam tanpa sadar, efek dari kondisi tubuh yang benar-benar letih.
Setelah tiga puluh menit berlalu, Amanda perlahan membuka mata, terjaga dari tidur singkatnya. Dia menggeliat dan sontak terperanjat sebab saat ini dia bukan lagi berada di depan halte melainkan di dalam sebuah mobil.
"Ka-kau?" tunjuk Amanda pada pria yang tengah mengemudi. "Kau mau membawaku ke mana?" Amanda kalang kabut memperhatikan jalanan yang dilaluinya.
"Sang putri tidur sudah bangun rupanya," ledek Samuel tersenyum sinis. "Lelap sekali Tuan putri kita, sampai-sampai air liurnya menetes-netes tidak terasa...."
"Ma-mana ada...?!" Amanda menggosok-gosok bibirnya, mengeringkan air liur. "Kering kok!" tambahnya sembari terus menggosok-gosok pinggiran pipi.
Samuel terbahak-bahak melihat tingkah konyol gadis di sampingnya. "Kamu gampang sekali aku tipu, Amanda! Tapi itu yang membuatku semakin tertarik buat menggodamu...."
"..." Amanda berdecih seraya memutar bola matanya malas. "Selain menggelikan, rupanya kau pandai merayu juga, Kapten!!"
"Apa aku terdengar merayu? Atau memang kamu yang terlalu berharap untuk aku rayu?" kelit Samuel, mengesalkan.
Amanda memasang muka masam dan memalingkan wajah, menatap ke samping jendela. Mulutnya bergerak-gerak, bergerundel tanpa suara.
Samuel hanya terkekeh memperhatikan tingkah laku Amanda yang terlihat dari bayangan di jendela. Dia geleng-geleng kepala. Namun, dengan senyuman merekah tersungging di kedua sudut bibirnya.
...*****...
__ADS_1