
Samuel menyembulkan kepala dan melihat ke arah Ivana. "Boleh aku masuk?"
Ivana mendelik. "Kesambet? Kenapa tiba-tiba sopan? Kalau mau masuk, ya masuk saja!"
Samuel menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berkata kasar pada Ivana. Dia masuk ke dalam kamar dan duduk berhadap-hadapan dengan gadis itu.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" Ivana lebih dahulu bertanya. Sejujurnya dia pun penasaran dengan niat terselubung Samuel membawa paksa dirinya ke tempat ini. Terlebih, dia juga samar-samar mendengar nama Lucas disebut-sebut.
Samuel menyodorkan selembar kertas foto yang menampilkan wajah seseorang. "Kamu pernah melihat pria di dalam foto ini?"
Ivana menoleh sesaat dan menelan saliva. Memejamkan mata seraya mengatur tarikan napasnya yang mulai bergemuruh, antara rasa takut juga amarah.
"I-iya," jawab Ivana singkat.
"Kamu tahu, dia siapa?" tanya Samuel lagi.
Ivana menganggukkan kepala. "Tahu. Sangat tahu...."
"Lalu, apa maumu?" Ivana bertanya. Dia ingin secepatnya terlepas dari jeratan Samuel dan kembali pada pria yang telah menolongnya.
"Bekerja samalah dengan kami," sahut Samuel, menatap lekat biji mata Ivana dengan pupil membesar.
"Bekerja sama dengan kalian? Soal?" Ivana tidak memberi jawaban. Dia balik bertanya karena sesungguhnya dia pun membutuhkan jawaban dari segala tanya yang bercokol di dalam benak.
"Untuk menjadi saksi," jawab Samuel dengan kalimat menggantung.
"Saksi? Tapi saksi apa?" Ivana mulai bisa menarik benang merah. Namun, dia masih menunggu Samuel untuk mengungkapkannya sendiri.
"Saksi dari kasus yang tengah aku tangani. Aku ingin kamu menjadi saksi akan kejahatan dari Lucas Denver. Kamu adalah korban penculikan, bukan? Dan kamu beserta anak remaja lainnya akan dijual ke luar negeri?" cerca Samuel.
Ivana terpaku, bukan tidak ingin membantu Samuel, tetapi dia memikirkan keselamatan keluarganya. Kalau dia bersedia menjadi saksi, Lucas beserta anak buahnya pasti akan membunuh keluarganya.
__ADS_1
"Kenapa diam? Jangan bilang, kamu akan seperti yang lainnya! Pengecut!!" cibir Samuel kesal akan kediaman gadis di depannya. Dia sudah bersusah payah untuk menyelamatkan Ivana dari buruan si mafia. Akan tetapi, gadis itu malah memilih untuk diam.
"Aku tanya sekali lagi, apa kamu bersedia menjadi saksi untuk kejahatan Lucas Denver? Kami benar-benar membutuhkan kesaksianmu di pengadilan. Kalau kamu seperti yang lainnya memilih menjadi pecundang, itu sama saja dengan kamu membiarkan gadis-gadis tidak berdosa lainnya terjerumus ke dalam kubangan penderitaan!" tekan Samuel geregetan sebab Ivana tidak bersuara dan hanya menundukkan kepala.
"Jawab...!!" sentak Samuel tidak sabar.
Ivana mendongak dan terlihat kemarahan dari matanya. "Aku harus jawab apa, hah...? Jawab iya? Lalu setelah itu, keluargaku dalam kondisi terancam. Kamu pasti tahu, 'kan, kalau Lucas tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan menyakiti mommy juga daddy-ku...!!"
Ivana berbicara dengan penuh emosi. Dia bukan seorang pecundang. Dia bukan ingin membiarkan gadis-gadis lain bernasib dengannya atau dengan gadis-gadis lain yang sudah dijual ke luar negeri, tetapi dia memiliki keluarga yang harus dijaga keselamatannya.
Samuel menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Soal itu, biar kami yang mengurusnya. Aku akan memastikan keluargamu aman. Percayalah pada kami...."
"Benarkah?" sahut Ivana bernada sinis.
Samuel menganggukkan kepala. "Asal kamu mau menjadi saksi."
"Haruskah aku percaya pada mulut orang asing sepertimu?" sindir Ivana terkesan meremehkan. "Bisa saja, 'kan, kamu sekedar merayuku?!"
Samuel bertepuk tangan sebanyak tiga kali ketukan. Pintu yang semula tertutup, tiba-tiba terbuka dan masuklah sepasang suami istri paruh baya bersama anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun.
Mata Ivana sontak membola, dia beringsut dari atas kursi lalu berlari pontang-panting menyambut orang-orang yang masuk ke dalam kamarnya brusan.
"Oh My Gosh... Mommy..." Ivana mendekap tubuh kurus sang ibu sembari terisak pilu. Sebelum dia dan sang kakak diculik, badan ibunya tidak sekecil ini. Namun, karena memikirkan nasib anak-anaknya yang dilarikan oleh orang-orang tak dikenal membuat batin wanita paruh baya itu tersiksa.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Natasha menghujani Ivana dengan kecupan kerinduan. "Lalu, kakakmu mana? Kenapa dia tidak bersama kamu?" Natasha celingukan mencari keberadaan anak sulungnya.
Ivana tidak berani menjawab pertanyaan sang ibu. Dia membelokkan dengan memeluk sang ayah yang menatap sayu. "Daddy... Ivana rindu...."
"Daddy juga rindu kamu, Nak." Christ melepas pelukan lantas merangkum wajah sang anak. "Kami pikir... kami tidak akan berjumpa denganmu lagi. Daddy sungguh bersyukur melihat kamu masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja." Christ kembali memeluk sang anak dengan lebih erat. Meluapkan kerinduan yang selama ini tertahan.
"Lalu, di mana kakakmu?" Giliran Christ kini yang bertanya.
__ADS_1
Ivana melepas pelukan sang ayah lalu membalikkan badan, memunggungi tubuh kedua orang tuanya. Samuel yang memahami bahwa anak dan kedua orang tuanya itu membutuhkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati, langsung saja keluar dari kamar dan membiarkan Ivana menjelaskan segalanya.
"Kenapa kamu diam saja, Nak...?" tanya Natasha merasa tidak enak hati.
"Katakan pada kami, meskipun pahit... kami pasti bisa menerimanya," timpal Christ, ayah Ivana.
"K-Kakak... kakak... kakak sudah tiada," jawab Ivana terasa berat hati. Namun, kedua orang tuanya harus mengetahui mengenai anak sulung mereka.
Natasha dan Christ saling memeluk satu dengan lainnya. Tangisan dan rintihan, bersahutan di kamar yang ukurannya tidak berbeda jauh dengan ukuran sebuah sel penjara.
Ivana turut merangkul tubuh kedua orang tuanya beserta sang adik yang sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kebahagiaan hanya untuk sesaat, tergantikan oleh tangis memilukan karena kehilangan orang tersayang.
...***...
"Bagaimana?" tanya Jeanny pada Samuel mengenai Ivana. Dia duduk di depan teman karibnya dan menyesap kopi hitam tanpa gula.
"Anak itu belum memberikan jawaban," sahut Samuel, menenggak minuman yang tersisa di dalam gelas.
"Biarkan dia melepas keriduan dengan keluarganya dulu," imbuh Jeanny yang menangkap kegusaran dari wajah Samuel.
Jeanny paham betul kalau kasus yang tengah ditangani sahabatnya itu bukanlah kasus biasa. Karena akan banyak jaringan yang ikut terjerat, termasuk para penegak hukum yang berkhianat kepada negara.
"Ya, aku mengerti. Kepercayaan diriku hanya sedikit luntur. Ntah apa aku bisa menyelesaikan kasus ini atau malah sebaliknya, aku yang hancur?!" Samuel tersenyum miris.
Jeanny menggenggam tangan Samuel. "Aku yakin pada kemampuanmu. Kau pun juga seharusnya begitu."
Samuel mendesah, "Kasus ini terlalu pelik. Karena nantinya akan menyeret seorang pejabat pemerintahan juga salah seorang petinggi di kepolisian."
Jeanny manggut-manggut. Dia hanya ingin memberikan Samuel semangat. Padahal di dalam hatinya menyimpan ketakutan serta kekhawatiran yang teramat akan keselamatan jiwa lelaki yang selalu bersikap bak seorang kesatria.
...******...
__ADS_1