
Sarapan romantis yang dipersiapkan Ivana, nyatanya berakhir tidak sesuai harapan. Sebab pria yang dia puja, tidak memiliki kepekaan sedikit pun padanya. Lelaki itu terlalu nyaman tenggelam dalam perasaan yang tak semestinya ada. Hingga tidak menyadari, ada cinta lain yang mengharap balasan darinya.
Gadis berusia tujuh belas tahun itu, harus menelan kekecewaan berkali-kali atas rasa yang tak pernah dia minta. Rasa yang hanya membuat dirinya terluka tanpa tersentuh.
Kini, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Ivana membereskan bekas makan pagi dan dibantu oleh Matthew. Pemuda itu tidak pernah membiarkan Ivana kelelahan dengan segudang aktifitasnya dari pagi sampai menjelang malam.
"Biarkan aku yang membereskan ini semua. Kamu duduk saja di sini," pinta Ivana pada Matthew sebab dia sudah mendawamkan dalam hati, ingin melayani pemuda berlesung pipi itu sebagai bentuk balas budi.
"Kita makan bersama, sudah seharusnya merapikan piring dan gelas kotor ini pun bersama," tutur Matthew mengangkat wadah kotor untuk dibawa ke dapur.
"Biar aku saja yang mencucinya." Ivana menarik piring dan spons dari tangan Matthew. "Kamu tunggu saja di ruang tengah, aku sudah menyiapkan cemilan di sana," titah Ivana sebab dia masih merasa canggung bila harus berdekatan dengan laki-laki idamannya.
Matthew mengiyakan saja permintaan Ivana, kemudian duduk dengan santai di ruangan tengah. Dia mengambil remote tivi lalu menyalakan benda elektronik itu untuk mencari informasi mengenai dunia luar.
Sudah sepuluh menit, dia hanya memijit-mijit tombol remote karena tidak ada satu pun acara yang membuatnya tertarik. Matthew mendesah sembari menyandarkan punggungnya dengan kedua tangan menyilang di atas pucuk kepala. Dia mulai merasa bosan sebab tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini.
"Aku pikir tivi ini hanya sekedar pajangan, tapi ternyata menyala juga," imbuh Ivana tiba-tiba muncul lalu duduk di samping Matthew turut menonton televisi.
"Daerah ini sangat terpencil, untuk mendapatkan semua jaringan harus menggunakan satelit," jawab Matthew tanpa melihat ke arah Ivana sebab matanya tengah terpejam.
"Kita nonton berita saja," pinta Ivana merebut remote tivi dari tangan Matthew.
Pemuda yang tengah dilanda kebosanan, menengokkan kepala lalu mendengus pelan. "Tadi aku sudah bolak-balik ganti channel, tapi tidak ada acara berita satu pun. Yang ada hanya telenovela!"
Ivana terkekeh sebab raut Matthew yang terlihat jengkel. "Memangnya kenapa sama telenovela? Aku suka, sweet soalnya."
Matthew memutar bola matanya sembari bergidig geli. "Kalau nonton film romantis, aku tidak suka. Aku lebih suka kalau mempraktekannya langsung!"
Ivana tergelak lantaran selorohan Matthew. "Semua laki-laki itu sama ternyata, mesum!!"
__ADS_1
"Kalau tidak mesum, bukan laki-laki namanya..." sahut Matthew sembari menoleh ke arah rak kecil di depannya.
Pemuda itu menarik tubuhnya sekaligus, lalu duduk tegak dengan mata terbelalak sempurna. Raut wajahnya menegang sebab dia melihat paras tak asing muncul di layar televisi.
Ivana bisa melihat dengan jelas, perubahan di riak wajah pemuda di sampingnya. Wajahnya turut mengikuti arah manik mata Matthew menyorot tajam. "Kamu lihat apa?"
Matthew menjulurkan jari telunjuk ke arah televisi. "Amanda!"
"Amanda?" ulang Ivana tidak mengerti.
Matthew mengangguk lemah sebab saat ini dia melihat wajah sang kekasih hati muncul di berita utama, dalam keadaan tidak sadarkan diri di atas sebuah brangkar. "Wanita di berita itu kekasihku. Itu Amanda!"
"Ya Tuhan... apa yang telah terjadi pada kekasihmu itu?" sahut Ivana turut terkejut.
"Aku tidak tahu, tapi itu istana daddy-ku. Dan di sana telah terjadi ledakan dahsyat!!" jelas Matthew dari apa yang dia dengar dari seorang reporter.
Tubuh Ivana bergetar hebat, keringat dingin mulai menitik membasahi wajah. Kenangan-kenangan buruk kembali berputar di alam bawah sadar. Gadis itu tiba-tiba meraung-raung menarik-narik rambutnya sendiri.
"Kakak... mereka membunuh kakakku! Mereka menembaki kakakku tanpa ampun!!"
"Pria itu jahat! Pria itu bajingan!!" racau Ivana sembari menunjuk ke arah televisi.
"Pria iblis itu, dia jahat Matthew. Dia jahat!!!" Ivana menangis sejadi-jadinya. Trauma yang mendalam, kambuh seketika.
"Ka-kamu kenapa Ivana?" tanya Matthew panik dan langsung mendekap tubuh Ivana untuk menenangkan.
"Pria itu jahat Matthew... pria itu iblis!!" racau Ivana dengan kalimat yang sama sembari menunjuk ke arah benda elektronik tersebut.
"Siapa maksudmu, Ivana? Pria yang mana?" tanya Matthew penasaran. Gadis itu menunjuk wajah Lucas yang terpampang sangat jelas di layar televisi. Kedua alisnya bertautan sebab Matthew belum mengerti dengan apa yang terjadi pada Ivana.
__ADS_1
"Pria itu jahat, Matthew. Pria itu jahat...!" pekik Ivana seakan tiba bisa mengatakan kalimat yang lain. Gadis itu terisak di dalam pelukan Matthew, kembali teringat akan hari-hari pilu yang telah dilalui.
"Tenanglah, Ivana. Ada aku di sini menjagamu." Matthew menepuk-nepuk lembut puncak kepala Ivana.
"Pria itu jahat, Matthew. Dia... dia... dia yang sudah menculikku dan membuat kakakku mati!!" ungkap Ivana walau bibirnya terasa berat untuk mengatakan itu semua.
Bak disambar petir, tubuh Matthew tiba-tiba membeku dengan apa yang diungkapkan oleh Ivana. Dia menoleh ke arah televisi yang masih memperlihatkan wajah sang ayah, dengan tetesan kesedihan menggenang di kedua sudut matanya.
"Daddy? Jadi dalang di balik semua ini adalah daddy? Sangat sulit untuk aku percaya kalau daddy seperti yang dituduhkan Ivana, tetapi aku tidak melihat kebohongan di mata gadis ini!" batin Matthew.
Sebagai seorang anak yang tidak pernah tahu akan bisnis-bisnis yang dimiliki sang ayah, dia cukup terguncang setelah tahu kalau bisnis yang dijalankan oleh Lucas adalah bisnis haram. Selama ini yang dia tahu, bahwa ayahnya hanya menjual rempah-rempah dan dikirimkan ke beberapa negara di kawasan Asia juga Eropa.
"Ivana... apa pria yang kamu maksud adalah pria tua itu?" tunjuk Matthew pada wajah sang ayah.
Ivana menggelengkan kepala sebab tidak ingin melihat wajah Lucas kembali. Dia terlalu takut untuk menatap wajah salah satu pria yang telah membuatnya trauma.
"Ivana dengarkan aku, apa pria itu yang sudah menculikmu?" tekan Matthew. Dia ingin memastikan akan pikirannya mengenai Lucas.
Ivana terisak seraya menganggukkan kepala. "O-orang-orang itu menyebutnya bos. Da-dan orang-orang itu bilang kalau dia yang menculik kami. Di-dia mengambil paksa kakakku. Orang-orang bilang, kakakku harus melayaninya...."
Ivana kembali meraung pilu karena dipaksa untuk mengingat sesuatu yang ingin dia hapus dari dalam ingatan. Matthew merekatkan pelukan dan menghujani pucuk kepala Ivana dengan kecupan.
"Tenanglah, Ivana. Pria itu tidak akan bisa menyakitimu lagi...."
"Aku takut, Matthew. Aku takut...! Orang-orang itu masih mengejarku. Mereka ingin menghabisiku..." lirih Ivana tersedu-sedu.
"Tidak akan ada satu pun yang bisa menyentuhmu. Pegang perkataanku ini!!!" Raut kebencian tergurat di wajah Matthew. Dia membenci sang ayah dengan segenap hati. Sebab pria itu, selain telah menghancurkan mimpi-mimpinya. Dia juga sudah merampas kehidupan orang-orang yang tidak berdosa.
...*****...
__ADS_1