
Dua hari paska ledakan dan kebakaran maha dahsyat di istana Black Angel, Amanda harus rela menjalani hukuman yang diberikan oleh sang suami. Dia dikurung di kamarnya sebab selalu menampik setiap tuduhan yang ditujukan Lucas dan Bellen terhadapnya.
Lucas meyakini bahwa istri mudanya itu memiliki hubungan terlarang dengan pria misterius yang sudah menyelinap masuk ke istana. Namun sayang, dia tidak memiliki bukti kuat atas prasangkanya. Sementara Amanda terus menerus menyangkal tudingan, walaupun ancaman demi ancaman diluncurkan padanya. Dia tidak gentar dan tetap bersikukuh, bahwa tidak mengenali pria asing tersebut.
"Ah... aku bosan!" keluh Amanda bertopang dagu di depan cermin sembari menghembuskan napas panjang. Dia beringsut, lanjut mondar-mandir memikirkan sebuah ide agar bisa keluar dari kamar yang baginya bak penjara itu. "Aha...!!" Amanda menjentikkan jari karena mendapatkan inspirasi.
Perempuan muda itu membuka jendela lantas melihat ke bawah bangunan. Dia memicingkan mata karena mentaksir sesuatu. Kepala pun turut manggut-manggut dan disusul kaki jenjang melangkah cepat ke arah walk in closet.
"Aku butuh sprei atau kain panjang!" gumam Amanda memutar kepala di tengah-tengah lemari raksasa. "Sepertinya aku belum pernah membuka laci itu," tunjuk Amanda pada bagian terbawah lemari. Dia menarik drawer laci dan tepat sesuai dugaan, kalau di dalamnya tersimpan tumpukan sprei.
Tanpa banyak berpikir, Amanda langsung mengeluarkan kain-kain lebar tersebut dari ruang penyimpanan dan menyambungkan satu dengan lainnya. Sepuluh seprai sudah diikat menjadi satu, gadis itu tersenyum senang.
Sekuat tenaga, Amanda menarik sprei-sprei tersebut hingga ke depan jendela. Kemudian mengikat salah satu ujungnya ke pinggiran ranjang. Dia melemparkan kain tersebut membiarkannya menjuntai hingga ke atas tanah.
"Yes berhasil!" Amanda jingkrak-jingkrak kegirangan. Dia menguncir rambutnya seperti ekor kuda kemudian mengecek kekuatan tali temali yang dia buat dari kain sprei tersebut. Dirasa sudah cukup aman, Amanda duduk di atas jendela dan membuang napas. Dia mulai menuruni bangunan istana menggunakan kain-kain itu. Perlahan, tapi pasti. Kini gadis itu telah berada di luar kamarnya hanya dalam dua menit.
"Ye...!!" Amanda memekik riang. Namun, dia buru-buru membekap mulut dengan telapak tangan sebab khawatir ada yang memergokinya.
Amanda bergerak cepat. Namun, tetap memasang mata juga telinga. Memastikan tempat yang dia lalui tidak ada satu pun anak buah Lucas berdiam diri.
Selangkah demi selangkah, gadis itu menjauh dari bangunan yang didominasi cat warna hitam tersebut. Dan kini dia telah berada di taman belakang istana. Ntah mengapa tempat ini luput dari penjagaan padahal jelas-jelas terdapat pintu rahasia yang menghubungkan istana dengan dunia luar.
Amanda terengah-engah. Selain karena harus kucing-kucingan dengan anak buah Lucas, juga didera rasa cemas yang teramat. Akan tetapi, meski terasa lelah dan menegangkan. Ketika sampai di depan pintu tersebut, rasa penat di dada hilanglah sudah. Tergantikan oleh perasaan bahagia yang tak terhingga.
Seperti biasa, Amanda berjongkok lalu merangkak untuk bisa memasuki pintu kecil di depannya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, kini dia telah sampai di depan danau tersembunyi yang tenang dan sejuk. Meski bukan pertama kali baginya melihat keindahan tiada tara itu. Namun, Amanda selalu dibuat takjub oleh salah satu Maha Karya Tuhan tersebut.
__ADS_1
Perempuan muda itu menarik napas dalam-dalam dengan kedua mata terpejam. Menghirup wangi bunga-bunga bermekaran serta tanah basah sisa hujan semalam. Suara gesekan dedaunan terdengar bak simfoni merdu. Mengiringi kebahagiaan sederhana yang diciptakan oleh diri sendiri.
Amanda menyimpulkan senyuman, berlarian ke sana ke mari bagaikan anak kecil yang terbebas dari hukuman. Dia tertawa begitu riang, seakan beban hidupnya luruh seketika.
Gadis itu terus berlari tanpa memperhatikan pijakan dan pada akhirnya dia tidak sengaja menubruk tubuh seseorang akibat sikap pecicilannya.
"Ma-maaf..." kata Amanda. "Kamu lagi?" pekiknya kesal setelah tahu siapa yang ditubruknya barusan.
Samuel berdecih, "Pengganggu datang!"
"Apa katamu?" sentak Amanda.
Samuel tidak ingin menggubris Amanda, dia lebih memilih berlalu dari hadapan gadis itu, berjalan santai sembari menatap ke sekeliling. Tempat yang selalu dia singgahi setiap pagi buta.
Amanda semakin kesal oleh tingkah Samuel yang dingin padanya. Namun, teringat akan kejadian malam itu, meluluhkan hatinya yang beku. Mau tidak mau, dia harus mengekori si pemuda asing untuk sekedar mengucapkan rasa terima kasih.
Langkah lelaki itu terhenti. Namun, hanya untuk beberapa saat. Dia kembali melanjutkan laju kaki untuk memberi jarak dengan wanita yang di matanya hanya bisa menyusahkan.
Namun, Amanda tidak ingi menyerah. Dia terus mengejar Samuel karena bagaimana pun juga nyawanya dapat tertolong, itu berkat si pemuda menyebalkan. Walau menyebalkan, tapi sebetulnya menyimpan kebaikan di hati.
"Sam..." Amanda menarik lengan Samuel dengan napas kembang kempis. "Aku, 'kan, bilang tunggu. Kenapa kamu jalan terus?" protes Amanda teriakannya hanya dianggap suara angin.
"Bukan urusanmu!!" jawab Samuel dengan kalimat yang terdengar menjengahkan di telinga Amanda.
"Sabar-sabar." Gadis itu ingin sekali berkata kasar, tetapi dia tahan sebisa mungkin. Mengingat tujuannya memanggil si pemuda dingin adalah untuk berterima kasih. Walau di dalam hati menyimpan kekesalan, tapi Amanda bukanlah perempuan yang tidak tahu diri. Dia akan berusaha bagaimana caranya agar bisa berbicara pada pemuda tersebut.
__ADS_1
"Thankyou soal dua malam la—"
"Kamu sudah mengatakannya langsung waktu itu. Jadi, tidak perlu mengulangnya," potong Samuel menarik cengkeraman Amanda dari lengannya, lalu menghempas kasar. "Aku tidak suka disentuh, terlebih oleh orang asing sepertimu!" ketus Samuel melengos dan kembali meninggalkan Amanda yang terpaku memandangnya.
"Ya Tuhan... kenapa dia menyebalkan sekali...?" gerundel Amanda menatap sayu punggung lelaki yang sikapnya sulit ditebak. Awal-awal pertemuan dengan Samuel, pemuda itu memiliki pribadi yang periang. Namun, tengil. Dan sekarang, dia seperti sosok yang berbeda. Dingin dan lebih banyak menutup diri.
Samuel mendesah dan langkahnya kembali terhenti. Dia memekikkan kalimat yang membuat Amanda semakin kebingungan dibuatnya. "Kembalilah ke kamarmu. Bukankah, kamu dalam masa hukuman?"
Bagaikan ada yang menyentak jantung, gadis itu terperangah karena selorohan Samuel barusan. Belum usai rasa penasaran kenapa pemuda yang berdiri di depannya, bisa berada di istana ketika malam kejadian kebakaran.
Kini, Amanda dibuat bingung kembali lantaran Samuel seakan mengetahui tentang dirinya juga tentang istana Black Angel berikut isinya.
"Kamu tahu dari mana, Sam. Kalau aku lagi dihukum?" sahut Amanda sengan suara lantang.
"Bukan urusanmu...!!" balas Samuel.
"Ih...!!" Amanda menginjak-injak tanah dengan gerakan cepat sebab Samuel membuatnya geregetan.
Amanda mencari sesuatu di antara rumput-rumput hijau dan menemukan seekor siput berukuran cukup besar. Dia mengambil binatang bercangkang tersebut lantas melemparkan sekuat tenaga dan berhasil mengenai kepala pemuda itu.
Samuel mengusap-usap tengkuk karena merasakan ada sesuatu yang keras mengenai kepalanya tersebut. Dan dia menemukan seekor siput tergeletak tidak jauh dari tempatnya berpijak.
Pemuda beranting itu menyeringai kesal lalu mengarahkan kedua bola matanya ke wajah Amanda. Nampak sekali kilatan amarah yang sebentar lagi akan membakar apa pun di dekatnya.
Gadis berkuncir kuda cengengesan, menampilkan raut polos atas kelakuannya. Dia hanya bisa mengacungkan kedua jari sebagai tanda damai kemudian langsung berlari terbirit-birit sebelum emosi Samuel menyembur di mukanya.
__ADS_1
...*****...