Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 67 Ditangkap


__ADS_3

"kita bertemu lagi, anak muda!" sapa Lucas pada laki-laki di depannya. Seperti orang yang tidak memiliki dosa sedikit pun, Lucas bisa bersikap setenang mungkin bahkan menarik tangan Samuel untuk berjabatan.


Samuel menepis-nepiskan tangannya dari cekalan Lucas dan membalikkan keadaan dengan mencengkeram pergelangan tangan pria itu. Dia mengeluarkan sebuah borgol, kemudian melingkarkan benda yang terbuat dari besi tersebut. "Anda kami tangkap, Tuan Lucas!!"


Lucas terbahak-bahak dan memutar-mutarkan tangannya. "Leluconmu sungguh menggelikan anak muda! Kau berurusan dengan orang yang salah!!"


"Benarkah itu, tua bangka?" Samuel membetot tangan Lucas lantas merampas senjata api yang diselipkan di dalam saku celananya. "Jangan pikir karena usiaku masih muda, kamu bisa meremehkanku, Lucas!"


Seringai licik tersungging dari bibir Lucas, dengan gerakan cepat seperti angin dia memutar borgol dan berhasil mencekik leher Samuel menggunakan benda tersebut.


"Ternyata, kau sangat payah anak muda!" cibir Lucas di telinga belakang Samuel. Dia mengeratkan jeratannya lalu merogoh pistol dari saku celana Samuel.


Lucas menempelkan ujung pistol pada pelipis Samuel untuk menghalau pria berseragam lainnya. "Mundur kalian! Atau aku hancurkan kepala pemimpin kalian yang dongok ini!"


Tiga pria di hadapan Lucas, menurut begitu saja perintah si penjahat. Mereka berjalan ke belakang beberapa langkah lalu menarik tangannya ke atas kepala.


"Leo! Ambil semua senjata api mereka!" suruh Lucas pada orang suruhannya yang sedari tadi bersembunyi.


"Siap, Tuan Lucas!" sahut Leo dan langsung mengambil semua senjata api milik polisi tersebut.


Lucas tidak berhenti tertawa karena ternyata sang musuh tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Hanya pandai menggertak dan menakut-nakuti dengan bualan memalukan.


"Buat mereka bersimpuh di hadapanku. Setelah itu habisi mereka, satu per satu!" titah Lucas pada Leo.


Orang kepercayaan Lucas tersebut menendang lutut ke tiga pria berseragam, menjadikan tubuh mereka terjatuh dan terpaksa berdiri menggunakan kedua lututnya.


Lagi-lagi Lucas tergelak dan kali ini terpingkal-pingkal. Melihat wajah-wajah mengenaskan tengah mengiba di depan mata. "Eksekusi mereka sekarang!!"

__ADS_1


Leo siap menembakkan peluru pada kepala-kepala anak buah Samuel. Akan tetapi, pria yang tengah berada dalam jeratan Lucas tersebut tiba-tiba melakukan serangan cepat. Dia membenturkan kepala belakangnya ke wajah Lucas. Badannya berputar dan sebuah tonjokan keras menghantam hidung si pria tua hingga berdarah-darah.


Samuel merebut kembali pistol miliknya dari tangan Lucas dan hanya dalam beberapa detik, dia bisa membalikkan keadaan. Pelatuk ditarik, sebuah tembakan melesat cepat, mengenai lutut Leo tanpa perlu melihat target bidikkan.


Orang kepercayaan Lucas itu mengerang kesakitan dan pistol pun terlepas dari genggaman tangannya. Sementara sang kekasih hati, Bellen. Memekik getir melihat lelaki pujaannya tertembak di bagian kaki. "O My God, Leo...!"


Tanpa sadar, Bellen berlari dan menangkap punggung Leo sebelum terjungkal dan mengenai lantai. Dia terisak, memeluk sang kekasih bagai dalam adegan film romantis.


"Uh... menyentuh hati sekali," kata Samuel terselip sarkas yang teramat nyata. "Kisah yang tragis antara istri, bos dan anak buahnya!" cibirnya, geleng-geleng kepala.


Lucas terbungkam, menyalang ke arah Samuel lalu ke arah sang istri yang tengah menangisi sang kekasih hati.


"Kenapa, sedih?" ledek Samuel. "Come to Papa," Samuel mengolok-olok Lucas sembari menepuk-nepuk pundaknya sendiri. Lucas menggeram dan ingin membalas perlakuan Samuel. Namun, dia tidak bisa bertindak apa pun untuk saat ini.


"Aku akan membalas perlakuan penghinaan ini. Jangan kau pikir sudah berhasil mengalahkan seorang Lucas Denver. Oh... tidak semudah itu anak muda!!" lontar Lucas, yang pastinya bukan sekedar omong kosong.


"Tidak usah banyak bicara. Kita buktikan saja nanti, siapa yang menang dan siapa yang akan hancur lebur menjadi abu?!" balas Samuel tidak ingin kalah. Dia menarik tangan Lucas, menyeretnya menuju mobil tahanan.


"Suamiku mau dibawa ke mana?" pekik Amanda tunggang langgang.


Semua orang memutar badannya melihat ke arah sumber suara, termasuk pria yang sedang menyeret Lucas saat ini. Bisa dibayangkan terkejutnya Amanda, saat melihat wajah pria yang menangkap suaminya adalah sosok yang sering dia temui tanpa sengaja.


Samuel tersenyum sinis dan melihat dengan sorotan membekukan. "Sayang sekali, Anda melewatkan pertunjukkan yang sangat menarik tadi, Nyonya!"


"Kau?" tunjuk Amanda heran.


"Apa kita sebelumnya pernah bertemu, Nyonya?" sinis Samuel, berpura-pura tidak mengenal Amanda.

__ADS_1


Amanda menggelengkan kepala. "Tidak, tidak pernah."


"Baiklah kalau begitu, saya harus membawa suami Anda ini ke kantor polisi, untuk mempertanggung jawabkan kejahatannya!!" jelas Samuel dengan nada tegas dan penuh penekanan.


"Ta-tapi atas dasar apa kalian menangkap suamiku? Dia orang baik, dia hanya seorang pedagang," tanya Amanda berlagak polos.


Samuel berdecih dan menertawakan kebodohan Amanda. "Anda bodoh atau terlalu lugu jadi perempuan? Ah... iya, aku lupa. Kalian semua hanya memikirkan harta dari pria ini. Jadi, tak peduli dari mana dia mendapatkan kemewahan yang melimpah ruah!"


"Tapi, aku benar-benar membutuhkan penjelasan!" tegas Amanda berkata apa adanya.


Samuel mendengus. "Tanyakan saja pada orang-orang di sini mengenai suamimu! Waktuku terlalu berharga untuk menjawab hal-hal tidak penting!"


Samuel mendorong kasar badan Lucas ke dalam mobil tahanan. Dia turut duduk di samping tahanannya itu dan perlahan menutup pintu mobil dengan pandangan tak teralihkan dari wajah Amanda.


Mobil dengan suara sirine dan jendela yang ditutupi besi, lambat laun meninggalkan bangunan megah yang disebut istana itu. Orang-orang yang berada di dalamnya hanya menatap bimbang kepergian satu per satu mobil berwarna biru tersebut hingga tak lagi terlihat.


Istana seketika hening yang ada hanya isakan pilu dari seorang wanita yang memeluk kekasihnya. Mendapati semua orang mengabaikan dirinya dan Leo, wanita itu pun spontan berteriak-teriak.


"Apa kalian buta? Apa kalian tidak punya perasaan? Lihat Leoku, dia terluka!" sentak Bellen tanpa sadar meracau yang membuat orang-orang jengah.


Anak buah Lucas beserta para pembantu istana tidak mengindahkan rengekan Bellen. Mereka lebih memilih untuk kembali ke posisinya, hingga mendapatkan kabar terbaru mengenai nasib mereka juga nasib tuannya.


"Lavina... tolong panggilkan ambulan, Leoku bisa kehabisan darah," pinta Bellen memelas.


Lavina memperlihatkan raut songong lantas mengibaskan rambut sembari membalikkan badan. "Panggil saja sendiri, aku tak peduli!"


Bellen tersedu-sedan, sementara wajah Leo semakin pias. Dan Amanda berjalan mendekat, seraya merobek bagian bawah pakaiannya. Dia melingkarkan pecahan kain tersebut dan mengikatkannya pada lutut Leo. "Ini untuk mengurangi pendarahan selagi menunggu ambulan tiba. Aku sudah memanggil anggota medis. Tunggu saja...."

__ADS_1


Setelah berbicara dengan Bellen, Amanda langsung beringsut dan masuk kembali ke dalam istana. Dia membutuhkan waktu untuk mencerna dari semua yang terjadi secara bertubi-tubi.


...*****...


__ADS_2