
Selepas kepergiannya dari Rumah Sakit, Amanda memutuskan untuk kembali ke desa. Karena tiada lagi tempat untuknya berteduh, selain rumah sederhana. Namun, menyimpan banyak sekali kenangan.
Tubuh dan batinnya benar-benar lelah. Gadis itu tidak butuh apa-apa, yang dia perlukan saat ini hanyalah kesunyian. Mengasingkan diri dari dunia yang tengah asyik menertawakan nasib hidupnya.
Kebahagiaan seakan enggan singgah untuk menepikan nestapa yang merongrong ke dalam jiwa. Kekuatan diri melemah, hati merapuh dan pupuslah harapan bersama angin yang meniup sendu.
"Berhenti di halte depan," pinta Amanda pada sopir taksi.
"Baik, Nona." Pria tersebut menepikan kendaraannya di tempat yang ditunjuk Amanda. Gadis itu keluar dari taksi lantas sedikit membungkukkan punggungnya.
"Berapa yang harus saya bayar?" tanya Amanda mengeluarkan lembaran uang dari dalam tas tangan.
"Lima puluh dollar (Sekitar lima ratus ribu rupiah), Nona," jawab sang sopir.
"Li-lima puluh dollar? Kenapa mahal sekali...?" Amanda menghitung uang yang dipegang dan ternyata hanya ada tiga puluh dollar.
"Iya, lima puluh dollar dan itu sesuai dengan nominal yang tercantum di dalam argo," cerocos sopir. "Mana sini ongkosnya? Saya harus segera kembali ke kota!" ketus sopir lantaran Amanda tidak jua memberikan haknya.
"Se-sebentar, Tuan. Uangnya kurang dua puluh dollar. Saya ambil dulu sisanya ke rumah," ujar Amanda menunjuk bangunan yang jaraknya tidaklah jauh dari halte.
"Kalau miskin, tidak usah berlagak banyak uang!!" hina sopir.
"Tapi memang uang saya ada di rumah!" Amanda bersikukuh.
"Halah... bilang saja kalau kamu mau membayarku dengan..." Sopir tersebut tidak melanjutkan selorohannya. Dia memindai tubuh Amanda dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa Anda melihat saya seperti itu?!" Amanda menangkap gelagat tidak baik dari tingkah sopir jelalatan tersebut.
Sopir keluar dari dalam taksi dan dari caranya memandangi tubuh Amanda, sudah bisa dipastikan bahwa dia tengah dikuasai oleh hawa nafsuu setan. "Dilihat-lihat, body Nona boleh juga...."
Amanda menepis tangan sang sopir yang hendak merangkul pinggangnya. "Jangan kurang ajar!!"
"Dih, sok jual mahal! Itu rumahmu, 'kan?" tunjuk sopir menggunakan dagunya. "Aku hapal betul bagaimana tingkah perempuan-perempuan desa sepertimu!" Sopir mencolek dagu Amanda.
"Jaga sikap Anda! Saya tidak seperti yang Anda tuduhkan!" Amanda menghempaskan jemari pria tersebut lanjut mengacungkan kepalan tangan.
"Wow... garang juga Nona manis satu ini. Pasti bakalan liar di atas ranjang!" seloroh sopir tidak tahu malu.
"Jangan sentuh saya!!" sentak Amanda karena sopir taksi tersebut mencoba merangkul pinggangnya lagi. "Kalau Anda berani macam-macam, saya akan berteriak!!" ancamnya sembari memasang kuda-kuda.
"Teriak saja, sampai suara Nona habis!" cibir sopir. "Apa Nona tidak bisa melihatnya, kalau tempat ini sudah sangatlah sepi?" Sopir tersebut sengaja ingin menekan mental Amanda. Namun, di luar dugaan, gadis itu melakukan serangan tiba-tiba.
__ADS_1
"Rasakan ini...!!" Sebuah tendangan meluncur dan tepat mengenai tengah-tengah selangkangann sopir. Amanda tahu betul, titik kelemahan laki-laki ada pada alat vitalnya. Karena itu, tanpa ragu-ragu dia langsung menyerang bagian tersembunyi tersebut.
"Perempuan sialan!!" erang sopir. Tangannya menutupi bagian yang terkena tendangan.
"Kenapa, sakit ya?" Amanda meremehkan. "Mau aku tambahi lagi?" Amanda kembali memasang kuda-kuda, bersiap memberikan tendangan yang kedua.
"A-ampun, Nona. Tidak lagi-lagi," rengek sopir ketakutan.
"Kalau begitu, pergi sana! Dan jangan sesekali melecehkan perempuan lagi!" usir Amanda.
Sopir tersebut tidak lagi menyahuti ucapan Amanda. Dia segera beranjak sembari menikmati rasa ngilu yang mendera di antara selangkangannya.
"Tuan, ini ongkosnya!!" teriak Amanda, mengacungkan lembaran uang.
Sopir tidak mempedulikan teriakan Amanda. Dia langsung melesatkan kendaraannya, meninggalkan desa yang sunyi.
"Ya sudah kalau tidak mau uang!" Amanda menarik kedua bahunya ke atas.
"Buatku saja!!" Seseorang tiba-tiba muncul dan mencabut uang tersebut dari genggaman Amanda.
"Hey, itu uangku. kembalikan!!" Amanda mengejar seseorang yang mengambil uangnya itu.
"Kamu mengawasiku?" tanya Amanda.
"Aku hanya tidak sengaja berada di tempat yang sama," kilah seseorang yang tidak terlihat wajahnya sebab tertutupi hoody jaket.
"Wait, wait... sepertinya aku mengenal suaramu!!" Amanda menarik hoody dari kepala seseorang yang berdiri memunggunginya. "Ah... Anda ternyata, Kapten gila!!" decak Amanda.
"Kelihatannya kamu bahagia sekali bertemu denganku, Nona pepaya?!" Samuel menaik turunkan kedua alisnya.
"Terserahlah... aku sedang lelah, tidak ingin mendengar ocehan gilamu itu!!" Amanda melengos dan melangkah menuju bangunan yang gelap gulita.
"Kenapa kembali lagi ke desa ini? Kamu merindukanku?" seloroh Samuel penuh percaya diri.
"Bahkan keberadaanmu di desa ini pun, aku tak tahu!" sahut Amanda. "Sudah, kembali sana! Jangan mengikutiku lagi!" Amanda mempercepat langkah kakinya.
Samuel masih terus saja mengikuti Amanda hingga ke depan pintu rumah, meski gadis itu berkali-kali mengusirnya.
Amanda membalikkan badan dan menampilkan senyuman sinis. "Saya sudah sampai di depan rumah, silakan Anda pulang Kapten Samuel...."
"Aku sudah memberikan pengawalan secara cuma-cuma. Apa Nona Amanda tidak ingin membayarnya dengan secangkir kopi?" Samuel tersenyum jenaka.
__ADS_1
Amanda menghela napas, lalu membuka pintu rumahnya. "Silakan masuk, Kapten...."
"Terima kasih." Samuel masuk lebih dahulu dan menyalakan seluruh lampu yang ada di rumah tersebut.
"Waw... sepertinya Anda mengenal rumah saya dengan baik," sarkas Amanda.
"Tentu saja," balas Samuel, duduk di atas sofa.
"Maaf, saya hampir lupa siapa Anda, Kapten. Detektif hebat yang baru saja naik jabatan!" Amanda beranjak menuju dapur untuk menyalakan mesin kopi.
"Ayolah... jangan membuatku tersipu dengan pujianmu!" pekik Samuel.
"Saya tidak memuji, tapi memang begitu faktanya, 'kan?" balas Amanda, yang turut duduk di atas sofa.
"Kamu terlalu kaku,"" sindir Samuel.
"Ya?" sahut Amanda.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan kapten. Dan mulai sekarang, ganti saya juga anda dengan aku dan kamu. Paham?" Samuel menatap intens mata Amanda.
"Kenapa memangnya? Lagi pula, setelah ini kita belum tentu akan bertemu kembali, 'kan?" Amanda beringsut sebab suara mesin kopi berbunyi.
Beberapa saat kemudian, Amanda kembali ke ruang tengah dengan dua cangkir kopi racikannya. "Ambilah...."
"Terima kasih," jawab Samuel.
Pria bernetra cokelat itu menghirup aroma kopi dalam-dalam lanjut menyeruputnya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, menjilati krim yang menempel di pinggiran bibirnya.
"Bagaimana kopinya?" tanya Amanda was-was.
"Ini benar-benar enak!" puji Samuel dan kembali menyeruput minuman buatan Amanda. "Kenapa tidak membuka coffee shop? Aku sangat yakin kalau usahamu akan laris manis."
"Aku tidak pernah terpikir buat membuka coffee shop sebab cita-citaku sedari kecil ingin menjadi seorang dokter kandungan, tapi karena keterbatasan. Aku harus puas menjadi seorang midwife." Amanda menatap sendu foto yang menggantung di atas dinding. Foto ketika dia menyelesaikan pendidikannya.
"Bagiku sama saja, kedua profesi tersebut pekerjaannya sama-sama mulia dan beresiko tinggi," sahut Samuel, memperhatian mata Amanda yang lebih besar dari biasanya. "Amanda?"
"Yash?" sahut Amanda.
"Kamu habis menangis...?"
...*****...
__ADS_1