Janda Kembang & Bad Guy

Janda Kembang & Bad Guy
Bab 80 Donor Darah


__ADS_3

"Suster... Suster..." panggil Amanda memasuki ruang laboratorium.


"Ada apa Nona? Kenapa Anda berteriak-teriak?" tegur perawat lantaran merasa terganggu dengan lengkingan Amanda.


"Maaf Suster, tapi ini benar-benar urgent!" jawab Amanda. "Saya mendapatkan orang yang bersedia mendonorkan darah untuk pasien bernama Lavina," sambung Amanda dalam satu tarikan napas.


"Benarkah, Nona?" sahut perawat turut bahagia. "Mana orangnya?" tanyanya, melirik ke arah Abigail.


"Pria yang bersama saya, Sus!" Amanda menoleh ke samping dan menganggukkan kepala dalam satu waktu. Abigail yang mengerti dengan arti anggukan tersebut, melangkah maju dan menghampiri perawat di hadapannya.


"Saya Sus yang akan mendonorkan darah untuk pasien bernama Lavina. Ambil darah saya sebanyak-banyaknya, asalkan dia bisa tetap hidup," ujar Abigail, bernada sendu.


"Mari ikut saya, Tuan." Perawat mengulurkan tangan, meminta Abigail untuk mengikutinya ke dalam ruangan khusus donor darah.


Abigail mengangguk lalu menyusul perawat tersebut dan berjalan di belakangnya. Dia menoleh sesaat ke arah Amanda, dengan tatapan penuh pengharapan.


Lima belas menit berlalu dan Abigail telah selesai mendonorkan darah. Wajah pemuda itu terlihat sangat pucat sebab dia memaksakan diri untuk memberikan darah sebanyak tiga labu. Dia pun berjalan sempoyongan, dengan tangan menggapai apa pun yang ada di dekatnya.


"Hati-hati, Abigail!" Amanda memegang lengan pemuda tersebut dan membantu memapahnya.


"Terima kasih Nyonya Amanda, tapi saya bisa jalan sendiri..." Abigail menepis tangan Amanda dari lengannya. Namun, dia lagi-lagi hampir terjatuh lantaran kondisi tubuh yang melemah.


"Biar aku bantu kamu berjalan," sergah Amanda dan kembali melingkarkan tangannya di lengan Abigail.


"Saya tidak enak, Nyonya. Saya hanya seorang sopir. Tidak pantas mendapatkan perlakuan baik seperti ini," sahut Abigail merasa sungkan.


Amanda tergelak atas kepolosan pemuda di sampingnya. "Ayolah... status kita memang majikan dan sopir, tapi kita sama-sama manusia. Sama-sama makhluk Tuhan. Tidak ada salahnya aku membantumu, terlebih karena kamu bersedia memberikan darah untuk Lavina secara cuma-cuma."

__ADS_1


"I-itu sudah tugas saya, Nyonya," jawab Abigail dengan posisi kepala terus saja menunduk.


"Bersikap biasa saja denganku, seperti sikapmu pada Lavina," seloroh Amanda yang terdengar sarkas di telinga Abigail.


"Ma-maksud Nyonya bicara begitu, apa?" Abigail terkesiap akan perkataan Amanda yang seolah tengah menyindirnya. Padahal gadis itu tidak bermaksud sedikit pun untuk mengiasnya.


"Tidak ada maksud apa-apa, Abigail. Apa kalimatku ada yang salah?" Amanda berbalik bertanya lantaran menangkap intonasi berbeda dari pertanyaan yang Abigail lontarkan terhadapnya.


"Ti-tidak, Nyonya. Maaf... mungkin saya hanya sedang mengkhawatirkan nyonya Lavina. Dia sudah seperti kakak saya sendiri," kilah Abigail tidak ingin Amanda sampai berpikir macam-macam tentangnya.


"Oh..." Amanda manggut-manggut, tanda memahami perkataan Abigail. "Kamu sudah lama mengenal Lavina?" tanyanya sembari memapah pemuda itu, kembali ke ruang operasi.


Abigail menoleh sepintas lalu menatap lurus ke depan. "Sudah... karena saya bekerja bersama tuan Lucas sejak umur tujuh belas tahun. Dan selama itu juga, saya dipercaya menjadi sopir pribadi nyonya Lavina. Dia wanita yang sangat baik, sosok seorang kakak yang melindungi adiknya."


Tidak terasa obrolan antara Amanda dan Abigail mengantarkan mereka ke tempat semula. Keduanya sontak terdiam dengan kedua mata menatap arah lampu ruang operasi yang masih menyala.


Amanda langsung terduduk lesu, sementara Abigail menyandarkan punggung ke dinding di belakangnya. Dia merundukkan kepala, disusul helaan napas dan ketakutan yang merajalela.


"Sebaiknya Nyonya Amanda pulang saja dulu, biar saya yang menunggu nyonya Lavina di sini," ucap Abigail tiba-tiba.


Tentu saja Amanda terhenyak lantaran pikirannya tengah berkelana tak tentu arah. Bayangan hitam akan kematian berkelibatan di depan mata. Dan ingatan pun berputar, mengenang hari kelam di mana sang ayah pergi meninggalkan dirinya menuju alam kekal.


"Kau mengagetkanku, Abigail!" keluh Amanda, mendelikkan mata.


"Ma-maafkan saya," sahut Abigail tidak enak hati.


Amanda mengangguk lalu sontak berdiri. "Aku titip Lavina sebentar ya. Kalau ada informasi terbaru, tolong beri tahu aku," pinta Amanda yang tidak menjelaskan ke mana dia akan bertolak.

__ADS_1


Abigail hanya mengiyakan dan tidak berani bertanya lebih. Sebab dia selalu dididik oleh Lucas untuk tidak banyak bertanya dan ikut campur akan urusan majikan-majikannya.


"Baik, Nyonya Amanda. Kalau ada berita mengenai Lavina... ma-maksud saya nyonya Lavina. Saya akan langsung menghubungi Nyonya," kata Abigail terbata-bata sebab dia sedikit terselip lidah.


"Terima kasih, Abigail." Amanda tersenyum simpul, lalu melanjutkan langkahnya ke arah yang dituju, yakni kantin Rumah Sakit.


...***...


Berjalan dengan tergesa-gesa lantaran pikiran terus tertuju pada Lavina, membuat Amanda tidak dapat berkonsentrasi dengan apa yang ada di depannya. Dia berjalan lurus. Namun, dengan pandangan yang kosong. Menjadikannya harus berkali-kali menubruk badan seseorang lantaran keteledorannya.


"Pakai mata Anda kalau sedang berjalan!" tegur seorang pria dengan suara bariton, khas lelaki.


"Ma-maaf, saya tidak senga–" Amanda memutus ucapannya lantas mendengus kasar setelah menyadari siapa yang ditubruk olehnya barusan. "Aku pikir orang lain. Eh... ternyata Anda, si Es balok!! Menyesal jadinya aku minta maaf," ketus Amanda dan kembali meneruskan langkah yang tertunda.


Amanda berjalan beberapa langkah ke depan, tetapi mendadak berhenti. Dia menarik kakinya mundur untuk menghampiri pria tersebut yang masih berdiri di tempat semula. "Pertemuan kita sekarang ini bukan karena kebetulan, 'kan, Kapten? Aku yakin kamu sengaja menyusulku ke Rumah Sakit untuk meminta maaf. Dugaanku betul, 'kan?"


Samuel berdecak sebal dan mencondongkan wajahnya ke arah muka Amanda. "Jangan terlalu percaya diri, gadis pepaya!!"


"Ga-gadis pepaya? Kenapa pepaya? Apa maksudnya pepaya?" sungut Amanda yang belum mengerti arah perkataan Samuel.


"Pepaya mengkal!" Samuel menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum genit. Kedua mata membidik aset kembar milik Amanda yang terhalang oleh selembar kain sutra. Dia memainkan lidahnya lalu menelan saliva dan menggigit tipis bibirnya.


Amanda yang sudah membaca arah selorohan Samuel, langsung saja menutupi buah dadaa menggunakan tas tangan yang dia bawa. "Jaga lidahmu! Jaga juga matamu itu, Kapten! Karena aku tidak segan-segan buat mencoloknya dengan kuku-kuku tajamku ini!!"


"Silakan coba saja, gadis pepaya! Aku tidak takut," goda Samuel, diakhiri dengan kekehan yang terdengar renyah. "Sampai saat ini, masih terasa di telapak tanganku bagaimana kenyalnya, padatnya dan ah..." desah Samuel, menyulut amarah gadis di hadapannya.


Amanda sontak mengitarkan pandangan sebab khawatir ada orang lain yang menguping pembicaraan menggelikan antara dirinya dengan Samuel. "Pelankan suaramu! Apa kamu sengaja ingin mempermalukanku?"

__ADS_1


Samuel tergelak dan pergi begitu saja dengan santainya, meninggalkan Amanda yang merah padam. Lantaran rasa malu dan murka dalam satu waktu karena celotehan mesumnya yang tidak melihat tempat.


...*****...


__ADS_2