
Tidak terasa langkah kakinya telah membawa Amanda sejauh ini. Istana Black Angel sudah jauh tertinggal di belakang. Namun, bangunan megah itu masih samar-samar terlihat dari kejauhan. Sebab posisinya yang terletak di dataran tinggi.
Amanda terus berjalan, menyusuri jalan setapak yang tak tahu akan menggiringnya ke mana. Namun, yang pasti gadis itu saat ini telah memasuki sebuah pemukiman penduduk, yang baru pertama kali disinggahi.
Orang-orang menatap heran lantaran melihat sosok tak dikenal datang ke tempat mereka. Walau begitu, tidak ada raut kecurigaan ataupun ketidaksukaan. Yang ada hanyalah senyuman tulus terpancar dari kedua sudut bibir orang-orang tersebut.
"Kalau kami boleh tahu, Nona dari mana hendak ke mana? Sepertinya Nona bukan orang sini karena kami baru melihat Nona," sapa seorang wanita begitu ramah.
Amanda mengangguk tegas dengan senyum simpul terukir manis di bibir tak bergincu. "Saya dari desa sebelah. Tadi, berniat sekedar menghilangkan penat. Tahu-tahu, sudah sampai di sini."
"Oh..." jawab wanita itu manggut-manggut.
"Tidak jauh dari sini, ada air terjun yang sangat cantik. Mungkin, bisa menjadi alternatif untuk mencari angin segar. Kami yakin, Nona akan sangat betah di sana," ucap wanita yang lain.
Tentu saja Amanda kegirangan lantaran selama menikah, dia hanya bisa berdiam diri di istana. Lucas tidak mengizinkannya untuk mengenal dunia luar. Tidak seperti Bellen dan Lavina, mereka diberi kebebasan pergi ke tempat manapun yang mereka mau. Asalkan didampingi oleh seorang bodyguard.
"Terima kasih atas informasinya, kalau begitu tolong tunjukkan pada saya ke mana arah air terjun itu?" pinta Amanda.
Satu wanita di depannya mengarahkan jari telunjuk ke perbukitan yang berada di ujung desa. "Nona ikuti saja jalan utama, nanti kalau bertemu dengan pertigaan. Nona tinggal belok kiri. Air terjunnya dari sini pun sudah kelihatan."
Amanda manggut-manggut seraya tersenyum ceria. "Tidak jauh ternyata. Terima kasih sekali lagi. Kalau begitu, saya pamit mau melanjutkan perjalanan."
"Silakan, Nona..." jawab para penduduk serempak.
Amanda berjalan penuh semangat ke tempat yang ditujukan oleh para penduduk tadi. Tempat luar biasa indah yang hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit. Sesekali dia harus berlari-lari kecil sebab melewati sebuah turunan tajam.
__ADS_1
Gadis bernetra biru itu kini telah sampai di depan air terjun yang memiliki ketinggian 700 meter dari permukaan tanah. Air yang dingin mengalir tenang di antara bongkahan bebatuan alam.
Amanda memejamkan mata, menghirup udara sejuk serta merasai segarnya percikan air yang menerpa wajah. Ketenangan merasuki pikiran, mengikis kegundahan yang menyelimuti hati.
Kelopak mata perlahan dibuka dengan senyuman terus terukir dari bibir tipis nan merah. Namun, yang menarik perhatiannya kini bukanlah air yang jernih. Melainkan seorang pria berwajah maskulin dan bertelanjang dada tengah menyugar rambutnya yang basah.
Amanda tersihir oleh pemandangan indah di depan mata. Sampai-sampai dia tidak berkedip sekali pun. Seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu dari memandangi tubuh atletis dengan dada bidang serta perut kotak-kotak milik pria tersebut.
Susah payah, Amanda menahan saliva. Namun, tetap saja kerongkongannya naik turun menelan ludah. Padahal, tubuh sang mantan kekasih jauh lebih menggairahkan dari tubuh pria di hadapannya kini, tetapi ntah mengapa ada getaran aneh yang mengetuk ke dalam relung hati.
"..." Samuel memercikkan air ke wajah Amanda.
Gadis itu terkesiap dan buru-buru memalingkan muka dari memandangi tubuh Samuel. Sungguh dia merasakan malu yang teramat. Terlihat dari parasnya yang merona meski tanpa sapuan make-up.
Pemuda itu menyeringai nakal melihat Amanda salah tingkah dan tidak berkutik karena melihatnya. Tidak tahu mengapa melihat pipi Amanda bersemu merah, timbul sebuah ide konyol untuk mengerjai gadis di depannya itu.
"Apa lehermu tidak pegal, Amanda?" tanya Samuel tiba-tiba.
Amanda terperanjat sebab tidak menyadari kehadiran Samuel di dekatnya karena itu dia langsung saja memutar kepala. Wajahnya menyentuh dada bidang nan basah. Gadis itu mendongak, memaksanya untuk bersitatap.
"Ma-maaf aku tidak sengaja," ucap Amanda terbata-bata seraya menundukkan pandangan.
"Sengaja juga tidak apa-apa," seloroh Samuel menambah rona merah di wajah Amanda.
"Ta-tapi aku memang tidak sengaja. Ka-kamu berdiri terlalu dekat," balas Amanda gugup.
__ADS_1
Samuel terkekeh dan menarik dagu Amanda agar gadis itu mau menatapnya. "Kalau berbicara dengan orang lain itu, lihat matanya bukan menunduk. Apa kamu tidak pernah diajarkan tatakrama?"
Amanda tertegun menatap bola mata Samuel sebab mengingatkannya pada kejadian malam kelam. Saat pemuda yang baru saja dikenalinya itu, telah berani mencumbu bibirnya dengan begitu rakus.
"Kenapa, teringat akan lembutnya bibirku saat menyentuh bibirmu?" terka Samuel membelai benda tipis tersebut. Amanda menepis tangan Samuel dan langsung berjalan mundur untuk memberi jarak.
"Aku harus bisa menguasai diriku sendiri. Meski pesonanya benar-benar seluar biasa itu!" Amanda berkata di dalam hati.
Samuel masih ingin mengusili Amanda, dia berjalan mendekat dan langsung saja menarik pinggang ramping gadis itu. "Kenapa menjauh? Bukankah akan lebih menyenangkan kalau sedekat ini?"
Mulut Amanda bergerak-gerak seakan ingin mengungkapkan sesuatu. Namun, tidak ada satu kata pun terucap. Bibirnya kelu, tubuhnya turut membeku.
Berawal dari hanya ingin mengerjai Amanda, yang ada malah Samuel tidak mampu menahan gejolak gairah mudanya. Siapa yang akan tahan akan godaan yang begitu indah di depan mata. Netra berwarna biru disempurnakan dengan bibir tipis nan sensual. Dan akhirnya cumbuan kedua mendarat begitu saja di atas bibir sang gadis.
Amanda meronta-ronta. Memukuli dada Samuel yang tak terhalangi apa pun. Pemuda itu menekan kepala si gadis cantik lalu memperdalam ciumannya. Dia kembali menikmati bibir perempuan bersuami tersebut dengan liar dan diliputi gairah.
Perempuan bersurai cokelat keemasan, menginjak kaki Samuel sekencang mungkin. Pagutan di bibirnya terlepas seketika, Amanda menatap kecewa.
"Maaf..." Samuel mengusap bibir Amanda yang basah karena air liurnya.
Gadis itu tidak mampu berkata apa pun atas perlakuan Samuel padanya. Dia hanya bisa menitikkan air mata sembari geleng-geleng kepala. Kakinya melangkah mundur lantas berlari sekuat tenaga. Berkali-kali dia menyeka genangan air mata yang berderai lara ke atas pipi.
Sikap Samuel yang seenak hati telah mengaduk-aduk perasaan Amanda. Sudah dua kali pemuda itu menciumnya tanpa persetujuan. Antara terhina juga tercabik, Amanda merasakan sakit. Dia berpikir seakan dirinya hanya berguna sebagai pelampiasan nafsuu sesaat.
Di lain momen, rasa bersalah mulai merasuki perasaan Samuel. Namun, buru-buru dia tepis lantaran dia menganggap perempuan-perempuan yang menikah dengan Lucas adalah wanita kotor. Jadi, sangat pantas untuk direndahkan atau diperlakukan tidak hormat.
__ADS_1
...*****...