Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 10 Mencoba Peruntungan


__ADS_3

Dalam sebuah lingkungan, selalu saja ada yang suka maupun yang tidak suka pada kita. Hal itu, tidak perlu dijadikan suatu penghalang untuk kita terus maju dan berkembang. Kita hanya cukup menunjukkan pada mereka kalau kita tidak seburuk yang mereka pikirkan.


Begitulah yang Summer lakukan. Meskipun dia tahu kalau Yasmin dan teman dekatnya selalu menatap tidak suka padanya, tetapi dia selalu bersikap biasa saja pada mereka. Karena masih banyak orang baik yang mengelilinginya.


Seperti siang ini, dia sedang asyik berbincang dengan salah satu rekan guru yang selalu membantu dia, setiap kali merasa kesulitan dalam menyiapkan materi pelajaran. Bu Juliet tidak segan untuk membantunya, sehingga semakin hari mereka semakin akrab. Apalagi meja mereka bersebelahan di ruang guru.


"Bu Summer, mau ikutan lomba menulis novel tidak? Di aplikasi biru sedang mengadakan event loh. Total hadiahnya sampai lima ribu dolar," ucap Juliet, guru bahasa Inggris seperti Summer.


"Bu Juli, suka bikin novel?" tanya Summer sedikit terkejut mendengar ajakan dari rekan kerjanya.


"Hehehe ... Aku sudah hampir tiga tahun menulis di sana. Lumayan buat menambah uang dapur. Bu Summer tahu kan mobil yang sering aku bawa?" tanya Juliet bicara pelan pada Summer.


"Iya, tahu. Apa itu hasil dari sana?" tebak Summer.


"Iya, Bu. Uang hasil menulis gak aku pakai tapi aku tabung. Alhamdulillah bisa kebeli sendiri, gak usah minta uang suami. Tapi orang-orang gak tahu kalau aku nulis. Hanya sama Bu Summer saja aku cerita. Apalagi Bu Yasmin selalu terlihat tidak suka kalau ada guru lain yang lebih maju dari dia. Entahlah, saya jadi penasaran siapa suami Bu Yasmin. Sepertinya sih orang kaya, mobil yang dipakainya saja selalu gonta-ganti," terang Juliet panjang lebar.


"Mungkin saja mobil rental, Bu." Ceplos Summer asal. Jelas saja membuat Juliet jadi tertawa kecil mendengar apa yang Summer katakan.


"Benar juga, Bu! Kenapa saya tidak kepikiran seperti itu?" Juliet terkekeh sendiri dengan apa yang dipikirkannya.


"Bu Juliet, apa bisa membantu untuk mendaftar ke event itu. Sepertinya saya tertarik untuk mencoba peruntungan."


"Iya coba saja. Bu Summer siapkan saja dulu kerangkanya. Nanti saya bantu mendaftar. Bu Summer punya aplikasi biru, kan?"


"Punya, Bu. Kebetulan saya juga suka membaca jadi saya download yang bacaannya gratisan, hehehe ...."


Summer dan Juliet terlibat obrolan seru tentang kesukaan mereka yang sama-sama hobi membaca. Keduanya saling berbagi referensi bacaan yang seru. Sampai tanpa terasa jam istirahat sekolah sudah habis dan keduanya kembali mengajar.


Sementara Yasmin, terlihat tidak suka saat melihat Summer dan Juliet berbincang dan tertawa bersama. Dia merasa heran, kenapa Summer selalu mudah mendapatkan teman yang begitu akrab. Apalagi, dia tahu kalau Juliet itu anak orang kaya. Hanya saja, guru yang satu itu selalu bersikap biasa saja di depan semua orang.

__ADS_1


Yasmin terus saja memperlihatkan wajah kecutnya. Dia terus berpikir agar bisa membuat Summer di jauhi oleh guru-guru yang ada di sekolah itu. Namun, saat jam pulang sekolah tiba, dia belum juga menemukan cara yang pas untuk menjatuhkan Summer.


Berbeda dengan Summer yang wajahnya terlihat berbinar. Banyak harapan yang terpancar di wajah cantik itu. Dia sudah meyakinkan diri untuk menekuni sesuatu yang dulu menjadi hobinya. Dia pun langsung bergegas pulang ke rumah dan berniat untuk mengerjakan apa yang tadi Juliet terangkan.


"Loh Mbak Hanna sudah pulang?" tanya Summer saat melihat Hanna sudah ada di rumah.


"Mbak lagi tidak enak badan. Rasanya lemas, pusing pengennya tidur terus," jawab Hanna yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.


"Alka di mana, Mbak?" tanya Summer celingukan mencari keberadaan putranya.


"Sedang tidur siang. Beruntung ada Alka, ada yang bisa Mbak suruh buat bawa obat," ucap Hanna dengan tersenyum.


"Apa masih pusing, Mbak? Biar aku pijat kepalanya," tanya Summer.


"Sudah enggak. Tadi pagi ada pelanggan yang memakai parfum, baunya menyengat sekali sampai Mbak merasa pusing dan mual. Sudah saja Mbak pulang dan menitipkan toko pada Rasti," jelas Hanna.


"Mbak istirahat saja, biar nanti aku yang masak. Baru nanti ke toko. Apa bibi sudah pulang?" tanya Summer lagi.


"Oh, begitu ya, Mbak. Kalau begitu, aku ke kamar dulu ya, Mbak."


"Iya, istirahat saja. Mbak juga mau tidur lagi, tapi lagi ingin menonton film Bollywood yang lagi seru-serunya."


Summer hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh iparnya. Karena memang kakak iparnya itu sangat suka sekali menonton film Bollywood. Dia langsung bergegas ke kamarnya. Dilihatnya Alka yang sedang tertidur pulas.


Semakin besar, semakin kamu mengingatkan Bunda pada papa kamu. Maafkan Bunda, Nak! Karena terpaksa harus menjauhkan kamu dari papa kamu, bukan ingin Bunda seperti itu, tapi Bunda harus melakukannya demi kebahagiaan kita, batin Summer.


Summer menyimpan tas yang dibawanya, lalu dia pun mulai menuliskan kerangka cerita di buku diary-nya. Meskipun dia belum berpengalaman menjadi seorang penulis, tetapi Summer tahu langkah-langkah apa saja yang harus di lakukan dalam membuat kerangka cerita. Sampai saat dia sedang asyik menulis, tiba-tiba saja Alka terbangun dari tidurnya.


"Bunda, udah puyang?" tanya Alka yang langsung duduk di tempat tidur seraya memperhatikan bundanya yang sedang asyik menulis.

__ADS_1


"Eh, kesayangan Bunda sudah bangun. Ayo sini, peluk Bunda!" Summer menghentikan pekerjaannya dan merentangkan tangannya agar Alka masuk ke dalam pelukannya.


Bocah kecil itu pun langsung memburu wanita cantik yang sudah melahirkannya. Wanita yang selalu bersamanya siang dan malam tanpa ada rasa bosan sedikit pun. Summer pun langsung menciumi putranya saat dia sudah melepaskan pelukannya.


"Apa hari ini Alka jadi anak baik?" tanya Summer dengan mencolek hidung putranya.


"Aka baik kho. Aka nuyut sama Ibu, Bunda gak pecaya ya!" tuduh Alka dengan melihat sangsi pada Summer.


"Iya, Sayang. Bunda percaya. Makasih, ya Sayang! Hari ini Alka sudah jadi anak baik," ucap Summer dengan tersenyum manis.


"Bunda, Aka mau sekoyah. Tapi Aka mau sekoyah SD. Aka kan udah bisa baca," pinta Aska.


"Memang iya, Alka sudah bisa baca? Kapan Alka belajarnya?" tanya Summer heran.


"Di utub yang biasa Aka tonton."


"Coba baca ini. Kalau Alka bisa baca, nanti Bunda kasih hadiah."


"Aka mau hadiahnya papa."


Summer hanya terdiam mendengar permintaan putranya. Karena hal itu sudah pasti sulit dia kabulkan. Karena dia masih belum bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain. Sementara Rain, yang menjadi papa kandung Alka, tidak mungkin untuk dia gapai.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Summer update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2