Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 41 Profesi dan Sifat Tidak Sinkron


__ADS_3

Rumah yang tadinya ramai oleh tamu yang berdatangan. Kini sudah terlihat sepi. Hanya tinggal tiga orang yang masih duduk di ruang tengah dengan wajah yang lumayan tegang.


"Billy, Abang minta pengertiannya dari kamu. Abang mengerti sebagai seorang suami, kamu pasti ingin selalu dekat dengan Summer. Tapi sekarang keadaannya urgent. Abang dengar dari Summer, kalau Alka terkena gejala typus. Memang dari kemarin, Abang melihat anak itu sudah mulai layu. Tapi Abang hanya berpikir karena mungkin dai takut bundanya direbut," tutur Radid.


Billy tidak langsung bicara. Dia mendengus kasar sebelum menyahut ucapan Radid. "Baiklah, Bang! Rasanya aku pun seperti orang jahat jika memaksa Summer untuk pulang dan melayaniku. Sejujurnya aku sangat kesal ditinggal Summer saat para tamu masih berdatangan. Tapi mau bagaimana lagi, anak itu lebih berarti buat. Summer. Kalau begitu, aku pulang dulu, Bang!"


"Gak menginap di sini? Atau mau ikut Abang ke rumah sakit?" tanya Radid yang merasa tidak enak hati pada Billy.


"Besok saja aku ke rumah sakit. Kepalaku pusing, aku ingin istirahat saja Aku pulang sekarang, Bang."


Billy pun langsung pergi begitu saja. Dia sangat kesal karena malam pertama dengan Summer, yang sudah dia bayangkan mendadak hancur berantakan. Akhirnya dia melajukan mobilnya menuju ke sebuah klub malam yang ternama di kotanya.


Dia langsung memesan minuman dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi. Entah berapa botol yang Billy habiskan untuk menghilangkan kekesalannya. Sampai akhirnya datang seorang wanita cantik dengan baju terbuka datang menghampirinya.


Yasmin tersenyum manis pada Billy yang sudah setengah mabuk. Tadi dia tidak sengaja melihat laki-laki itu terus meneguk botol demi botol minuman itu. Akhirnya dia oun memutuskan untuk menghampiri Billy dan melupakan janji yang sudah dia buat dengan papa dari putranya.


"Tuan Billy, apa Anda sendirian?" tanya Yasmin dengan memegang dada Billy.


"Siapa kamu?" tanya Billy sedikit memicingkan matanya.


"Aku yang akan menemani Tuan, jika Tuan merasa kesepian," bisik Yasmin dengan nada seksih. "Kenapa Tuan melupakan aku? Bukankah dulu aku pernah bermain dengan Tuan? Apa Tuan lupa saat Tuan berlibur ke kota P?


"Benarkah? Coba kamu ingatkan aku!" suruh Billy dengan menarik pinggang Yasmin hingga wanita cantik itu duduk di pangkuan Billy.


"Aku mau mengingatkan Tuan, tapi kita jangan bermain di sini." Lagi-lagi Yasmin berbicara dengan nada yang dibuat lembut dan menggoda.

__ADS_1


"Baiklah! Ayo kita ke hotel!" ajak Billy.


Dia pun berjalan dengan merangkul pinggang Yasmin. Bersamaan dengan kedatangan laki-laki yang ingin Yasmin temui. Wanita cantik itu hanya melambaikan tangan pada Topan, laki-laki yang sudah memberikan Yasmin seorang putra. Tentu saja Topan hanya tersenyum samar dan menggelengkan kepalanya.


"Ternyata profesi dan sifat Yasmin tidak sinkron. Padahal aku mau bertanggung jawab dan menikahi dia. Tapi dia malah menolaknya. Yasmin, sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu," gumam Topan.


Dia terus saja melihat kepergian Yasmin. Sampai akhirnya dia pun mengikuti ke mana ibu dari anaknya itu pergi. Lagi-lagi Topan hanya tersenyum samar saat Melihat Yasmin ke sebuah hotel bersama dengan Billy.


Namun, sedikit pun Summer tidak merasa curiga kalau mantan pacarnya itu mengikuti dia. Dia terlalu senang karena akhirnya bisa mendapatkan Billy. Seorang pengusaha muda yang sukses dan suka menghamburkan uang pada wanita yang dikencaninya.


"Summer, ternyata kamu seksih sekali. Aku sudah tidak sabar ingin segera mengajak kamu mengarungi lautan kenikmatan," racau Billy saat mereka sudah sampai di kamar hotel.


"Aku pasti akan memuaskan Anda Tuan. Anda pasti akan menginginkannya lagi dan lagi," goda Yasmin dengan mengelus dada Billy.


Pada akhirnya, apa yang seharusnya Billy lakukan dengan Summer di malam pengantinnya. Kini dia lakukan bersama dengan Yasmin. Mereka berdua terlihat begitu bergairah saling mencumbu di malam yang panjang.


Sementara jauh dari sana, tepatnya di sebuah rumah sakit daerah. Terlihat Summer dan Rain sedang duduk di sofa ruang rawat inap VVIP. Keduanya sudah sepakat untuk tidur bergantian agar bisa menjaga dan memantau keadaan Alka yang panasnya baru turun dua angka.


"Summer, tidurlah lebih dulu! Biar aku yang menjaga Alka," suruh Rain saat melihat Summer mengantuk berat. Namun dia paksa untuk terus terjaga.


"Aku titip Alka ya! Mataku sepet banget," keluh Summer dengan berpindah ke ranjang tempat Alka tertidur.


Dia oun membaringkan tubuhnya di samping Alka. Tidak butuh lama, Summer pun langsung terlelap dengan memeluk Alka. Sementara Rain hanya melihat dua orang yang dicintai sedang tertidur. Dia berjalan menghampiri, lalu mengecup kening Alka dan Summer secara bergantian.


Tangannya terulur mengelus lembut pipi kekasih hatinya. Setetes air mata jatuh di pipinya, mewakili hatinya yang terasa sangat sakit saat harus benar-benar mengikhlaskan Summer menjadi milik laki-laki lain.

__ADS_1


Aku ingin ikhlas dengan takdir Tuhan yang tidak menyatukan kita dalam ikatan suci pernikahan. Tapi aku tetap tidak bisa. Aku akan tetap meminta pada-NYA agar kamu menjadi jodohku, batin Rain.


Lama dia duduk di samping tempat tidur putranya. Sampai akhirnya rasa kantuk datang menyerang, membuat Rain tidak bisa menahan matanya untuk terus terjaga. Perlahan dia pun memejamkan matanya dengan kepala yang dia tumpukan pada tempat tidur Alka.


Keesokan harinya, Summer dan Rain dibuat terkejut saat mereka terbangun, ternyata Alka sedang duduk melihat kedua orang tuanya yang sedang tidur pulas. Seulas senyum terbit dari bibirnya yang pucat.


"Alka, bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Summer dengan menciumi wajah putranya.


"Jagoan Papa panasnya sudah turun?" tanya Rain dengan mengecek suhu tubuh Alka.


"Alka baik kho, Pah." Alka pun memaksakan tersenyum pada kedua orang tuanya.


"Syukurlah, panasnya sudah menurun. Sini sama Papa, biar Bunda mandi duluan saja!" ajak Rain dengan berpindah duduk di tempat tidur Alka dan merengkuh Alka ke dalam pelukannya.


"Sayang, Bunda ke kamar mandi dulu ya!" Summer mencium kening dan pipi Alka yang berada dalam pelukan Rain.


Alka hanya menganggukkan kepalanya karena memang sebenarnya dia masih sangat lemas seperti tidak bertenaga. Anak laki-laki itu terlihat nyaman berada di dalam pelukan papanya.


"Sayang, cepat sehat ya! Nanti Alka boleh pilih mau tinggal dengan Bunda atau dengan Papa. Kalau Alka ingin tinggal dengan Papa. Nanti kita ke rumah baru yang ada halamannya untuk Alka main," ucap Rain.


"Alka mau sama Papa sama Bunda."


"Iya, Alka bisa sama Papa sama Bunda kalau Bunda libur sekolah. Papa pasti akan sering mengunjungi Alka kalau Alka memilih untuk tinggal dengan Bunda. Asalkan Alka sehat lagi, Papa mau melakukan semua hal untuk kebaikan Alka."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2