Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 58 Ketuk Palu


__ADS_3

Lama Rain menunggu Radid yang sedang membersihkan dirinya, dilanjutkan dengan menunaikan kewajibannya pada Sang Pencipta. Namun, hal itu justru membuat hatinya senang karena itu berarti, dia bisa berlama-lama dengan Summer.


Rain terus saja tersenyum melihat Summer yang sepertinya sudah mengantuk. Dia pun segera merengkuh Summer dan menidurkan di pundaknya. Rain mengelus lembut Rambut wanita yang dicintainya, membuat Summer semakin terlelap dalam tidurnya.


"Tidurlah, Sayang! Aku akan selalu menjagamu," bisik Rain.


Dia mencium pucuk kepala Summer berkali-kali. Hatinya terasa dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu. Sungguh, Rain merasa sangat bahagia bisa kembali dekat dengan Summer.


"Hm ... Tolong pindahkan saja Summer ke kamarnya! Abang tunggu di depan. Tapi ingat jangan mencuri kesempatan sebelum kalian halal," suruh Radid yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Baik, Bang!" sahut Rain yang sedikit malu pada Radid. Pembawaan Radid yang tenang dan berwibawa, membuat orang merasa segan padanya.


Setelah Rain memindahkan Summer ke kamarnya dan memastikan kekasih hatinya itu tidur dengan nyaman, Rain pun segera berbalik ingin menemui Radid. Namun, godaan setan yang begitu kuat, membuat Rain kembali melihat ke arah Summer. Secepat kilat, dia mencuri ciuman di bibir tipis yang selalu membuatnya mabuk kepayang.


"Rasanya lebih manis dari dulu," gumam Rain seraya berjalan dengan jari telunjuknya mengelus bibirnya sendiri.


"Apanya yang manis?" tanya Radid dari arah belakang Rain.


"Eh, Abang. Tidak ada, wajah Summer dari dulu tetap manis," kilah Rain.


"Yakin?"


"Iya, Bang."


"Ya sudah, ayo ke depan! Biarkan mereka istirahat," ajak Radid dengan dua gelas kopi di tangannya.


Kini keduanya sedang asyik berbincang, membicarakan tentang kelanjutan kasus Billy. Radid pun mengutarakan tentang kekhawatirannya pada ancaman Keluarga Mahendra. Sementara Rain dengan setia mendengarkan apa yang Radid katakan.


"Bang, kalau aku boleh usul, bagaimana kalau untuk sementara waktu kalian tinggal di rumahku dulu. Kemarin aku beli rumah untuk Alka. Tidak besar sih tapi cukup untuk Abang dan Summer tempati bersama dengan Alka dan Mbak Hanna. Karena setahu aku, ada yang mengintai Keluarga Abang. Sebelum kejadian di toko, orang itu terus mengikuti mobil aku dari semenjak keluar dari rumah ini. Mungkin, aku juga akan mengganti mobilku. Agar bisa mengecoh mereka."

__ADS_1


"Abang pertimbangan dulu. Abang sempat terkejut saat tahu kalau dalang perusakan toko itu Nyonya Rose. Abang tidak pernah menyangka, keluarga yang selalu terlihat baik dan dermawan memiliki sisi gelap seperti itu. Mereka benar-benar tidak bisa disinggung."


"Abang tenang saja, Alka sekarang sedang mengintai perusahaan mereka. Kemarin Dia membeli saham Mahendra group dalam jumlah banyak. Semenjak Billy terkena kasus itu, harga sahamnya semakin merosot. Tapi Alka justru membelinya. Entah apa yang akan anak itu lakukan?"


"Apa katamu, Alka? Apa yang dia lakukan? Dia masih kecil, Rain. Kamu jangan mengajari anak itu yang tidak-tidak!"


"Tidak, Bang. Aku hanya mengajari apa yang aku bisa. Tapi ternyata, kemampuan Alka di luar dugaan aku. Setiap prediksinya tidak meleset. Aku hanya perlu mengasah insting dia agar lebih tajam lagi."


"Tapi ingat Rain, aku tidak ingin Alka terlibat dalam kasus apapun. Aku tidak mau masa depannya berantakan," pesan Radid.


"Abang tenang saja! Tidak akan ada yang tahu kalau yang memainkan peran itu anak empat tahun. Mereka pasti mengira semua itu kerjaan aku karena Alka memakai IP aku saat dia sedang bermain-main."


...***...


Sidang terakhir perceraian Summer dan Billy baru saja selesai digelar. Radid yang mendampingi Summer terlihat tenang. Mereka merasa lega karena Summer berhasil memenangkan perkara.


"Sadewa, terima kasih untuk semuanya. Tapi sepertinya aku minta satu hal lagi," ucap Radid saat menghampiri teman kuliahnya itu.


"Kamu tahu sendiri, aku kena skor karena kasus kematian om dan tanteku dulu. Padahal waktu itu ... Sudahlah aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku hanya akan membantumu di belakang saja," tukas Radid. Dia tidak mau Summer mendengar tentang kisah kematian orang tuanya. Karena dia tidak mau menambah beban luka hati pada gadis itu.


"Oke, aku senang bisa bekerja sama lagi denganmu," ucap Sadewa menepuk pundak Radid.


Setelah mereka cukup berbasa-basi, Radid oun kembali menghampiri Summer yang sedang duduk sendiri. Wanita cantik itu terlihat murung setelah pembicaraannya dengan Nyonya Rose. Apalagi tadi Billy pun mengatakan kata-kata yang membuat dia jadi berpikir berulang kali.


Flashback on


Saat Radid menghampiri Sadewa, Nyonya Rose datang menghampiri Summer. Wanita cantik itu terlihat marah pada Summer karena Billy tidak bisa dibebaskan dari jeratan hukum.


"Dasar wanita pembawa sial! Gara-gara kamu, anakku harus mendekam di penjara. Aku menyesal dulu menyetujui anakku menikah dengan kamu. Wanita murahan! Belum punya suami tapi sudah berani melakukan hubungan seperti suami ini. Makanya kamu memiliki anak haram," geram Nyonya Rose.

__ADS_1


"Jaga bicara Anda, Nyonya! Anda pikir putra Anda sesuci itu, sehingga berani menghina aku. Asal Anda tahu, putra Anda jauh lebih buruk dari yang telah aku lakukan." Summer menunjuk wajah Nyonya Rose dengan telunjuknya.


"Wanita sialan! Beraninya kamu sama aku." Nyonya Rose akan menarik rambut Summer. Namun Summer segera menghindar dari Nyonya besar itu.


"Sudah, Mah! Jallang seperti dia tidak usah kita dekati tapi harus kita singkirkan sejauh mungkin. Kalau bisa sampai ke neraka. Sekalian sama semua keluarganya kita kirim ke neraka bersama-sama," ucap Billy dengan menatap tajam pada Summer.


"Dengar Summer! Kali ini kamu menang, tapi nanti kamu harus tanggung akibatnya."


Flashback off


"Summer, ayo kita pulang!" ajak Radid yang sukses membuyarkan lamunan Summer.


"Iya, Bang!" sahut Summer langsung berdiri dari duduknya.


"Tadi apa yang mereka katakan sama kamu?"


"Biasa, Bang. Seperti yang mereka lakukan saat meminta jalan kekeluargaan sama kita. Apa tidak sebaiknya kita mengikuti apa yang mereka katakan saja, Bang. Aku khawatir mereka menyakiti Alka dan Mbak Hanna," ucap Summer sendu. Dia jadi tidak mau memperpanjang masalah lagi, khawatir pada putranya.


"Kamu tenang saja. Untuk beberapa waktu, kita akan pindah ke rumah Rain yang baru. Abang terpaksa menerima tawaran dia waktu itu. Abang pikir-pikir juga, semua demi kebaikan kita."


"Abang yakin kita akan pindah?" tanya Summer dengan menatap lekat sepupunya.


"Iya Summer. Abang selalu merasa kalau rumah kita ada yang mengintai. Nanti kita pindah saat pulang dari sini. Mungkin sekarang Rain sedang membantu Mbak kamu membereskan baju Alka dan kamu yang akan dibawa."


"Kenapa tidak bilang dari kemarin, Bang?"


"Maaf Summer, Abang lupa."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukunganya ya! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2