
Melihat Rain yang tersenyum menggoda kepadanya, Summer pun segera bergegas masuk ke dalam rumah. Dia tidak menanggapi lagi ucapan Alka. Summer membiarkan ayah dan anak itu mengekornya dengan membawa begitu banyak mainan dan makanan.
"Rain, kenapa repot-repot bawa banyak sekali mainan dan makanan," tanya Hanna berbasa-basi.
"Tidak apa, Mbak! Ini sedikit buah untuk Mbak," ucap Rain tersenyum ramah.
Setelah mereka cukup berbasa-basi, Rain pun masuk ke dalam rumah Radid. Dilihatnya foto-foto Alka dari anak kecil itu masih bayi hingga sekarang yang sudah hampir empat tahun.
"Papa, Aka ganteng kan miyip Papa," ucap Alka dengan bangganya.
"Iya, anak Papa ganteng sekali. Maaf ya, Papa baru bisa bertemu dengan Alka." Rain tersenyum pada putranya seraya mengelus lembut rambut Alka.
"Tidak apa, Papa. Aka senang bisa ketemu Papa," ucap Alka dengan tersenyum cerah.
Tidak berapa lama kemudian, Summer datang dengan nampan di tangannya. Mau bagaimana pun juga, Rain tetap tamu di rumahnya. Sementara Rain, terus saja memperhatikan gerak-gerik Summer yang sedang menyimpan minuman dan cemilan yang dia bawa.
"Bunda, Bunda, Aka sama Papa miyip ya, Bunda. Kita ganteng kan, Bunda?" tanya Alka dengan hebohnya.
"Iya, anak Bunda namanya ganteng. Rain, diminum dulu!" suruh Summer dengan melihat ke arah Rain.
Namun, dia secepatnya mengalihkan pandangan. Saat beradu pandang dengan Rain yang sedang melihat ke arahnya. Summer tidak ingin kembali terjatuh dalam pesona Rain yang sangat sulit sekali untuk dia tolak.
"Summer, bolehkah aku meminta hak asuh Alka?" tanya Rain.
"Maksud kamu hak asuh? Aku kan sudah bilang kalau kamu boleh mengunjunginya, tetapi tidak boleh membawanya pergi jauh dari aku," tegas Summer.
"Aku hanya ingin mengajak Alka untuk tinggal bersamaku selama libur akhir pekan. Nanti pas minggu Sore, aku akan mengantarkannya ke sini."
"Tapi Rain, aku ....."
"Sabtu-Minggu. Aku hanya meminta waktu dua hari itu untuk bersama dengan Alka. Aku ingin membayar waktu yang telah aku lewatkan saat Alka masih kecil," potong Rain dengan menatap lekat mantan kekasihnya.
"Tapi aku tidak bisa jika jauh dari Alka," kelit Summer.
__ADS_1
"Kamu boleh ikut jika kamu tidak keberatan."
"Tidak bisa! Kalian tidak boleh tinggal satu rumah dengan alasan apapun. Abang merasa tidak yakin kalau kamu bisa menahan perasaan kamu pada Summer," serobot Radid yang baru datang.
Dia mendapatkan pesan dari istrinya kalau Rain datang berkunjung ke rumahnya. Radid pun bergegas pulang. Dia khawatir kalau Summer akan membatalkan pernikahannya dengan Billy. Padahal tanggal pernikahan sudah ditetapkan oleh mereka.
"Maaf, Bang! Kalau Abang merasa tidak percaya sama saya. Tapi saya janji akan menjaga Summer dan Alka."
"Abang mengerti. Tapi maaf Rain, Summer sudah mau menikah dengan Billy. Rasanya tidak pantas jika dia bersama dengan kamu di saat Summer sudah berstatus calon istri orang. Maaf, Abang tidak bisa mengijinkan Summer ikut bersama dengan kamu," ungkap Radid dengan menatap lekat Rain.
"Iya, Bang. Aku mengerti, Tapi kalau aku membawa Alka untuk menginap di rumahku, boleh kan, Bang? Aku hanya minta waktu untuk bersama dengan puteraku. Setidaknya sabtu dan Minggu, kami bisa tinggal bersama."
"Baik, Abang mengijinkannya. Anak laki-laki memang membutuhkan sosok seorang ayah sebagai panutannya. Meskipun Abang selalu memposisikan diri sebagai ayah Alka, mungkin Alka tahu kalau Abang bukan ayah kandungnya," ucap Radid dengan melemahkan suaranya.
"Abang!! Tapi aku ...."
"Summer, Alka butuh ayahnya untuk pembentukan pribadinya. Lebih baik kamu percaya pada Rain."
"Benar kata Abang, Summer. Aku tidak akan membawa Alka pergi jauh dari kamu. Aku hanya ingin lebih dekat lagi dengan putraku," timpal Rain.
Kedua lelaki itu tersenyum puas karena akhirnya, mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Alka langsung memeluk bundanya karena begitu bahagia. Bocah kecil itu menciumi Summer di seluruh bagian wajahnya.
"Rain, Abang masuk ke dalam dulu ya! Kalian lanjutkan saja mainnya. Tapi ingat jaga jarak," pesan Radid sebelum masuk ke dalam kamarnya
"Iya, Bang. Abang jangan khawatir
"Kalau begitu, Abang ke dalam dulu ya! Ayo kita masuk, Hanna!"
Tinggallah kini Summer dan Rain sedang menemani Alka yang terlihat asyik memainkan mainannya. Suasananya mendadak canggung. Namun Rain secepatnya menetralkan suasana.
"Alka, sudah makan belum? Kita makan di luar yuk! Papa punya penjual ayam bakar langganan yang rasanya tidak bisa diragukan lagi. Apa Alka mau mencobanya?" tanya Rain.
"Boyeh Pah. Bunda juga suka makan ayam bakang. Benang kan, Bunda?"
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ya sudah tunggu sebentar! Bunda mau bersih-bersih dulu. Apa Alka sudah mandi?"
"Sudah, dong Bun. Aka kan udah ganteng," jawab Alka.
Summer langsung pergi ke kamarnya. Secepat kilat dia membersihkan dirinya. Setelah semuanya siap, dia kembali menemui Rain dan putranya yang sedang asyik bermain di ruang tamu. Summer tidak langsung menyapa keduanya. Dia hanya berdiri di ambang pintu melihat keseruan ayah dan anak itu yang sedang merangkai mainan robot yang Rain bawa.
Dia menghela napas dalam, melihat Alka yang begitu bahagia saat bersama dengan Rain. Wajah bahagia Alka yang lepas, sangat berbeda saat dia sedang bersama dengan Billy. Meskipun benar Billy juga sayang sama Alka, tapia cara memperlakukan Alka tidak se-telaten Rain.
Semoga saat nanti sudah menikah dengan Bang Billy, Alka pun bisa bahagia seperti ini, batin Summer.
"Bunda, kenapa bediyi di situ?" tegur Alka saat menyadari kalau Summer sudah datang.
"Bunda takut ganggu kalian main. Sepertinya seru sekali mainnya," ucap Summer seraya mendekat ke arah Alka.
"Iya, dong Bun! Papa pinteng Bun, Papa ajayi Aka biking yumah buat Aka sama Bunda."
"Bilang apa sama Papanya?" tanya Summer mengelus lembut kepala putranya.
"Makasih, Papa!" ucap Alka dengan tulus.
"Iya, Sayang. Ayo kita berangkat! Agar pulangnya tidak kemalaman!" ajak Rain langsung berdiri dari duduknya. "Kita beresin dulu mainannya, baru berangkat ya, Sayang."
"Siap, Papa!"
Rain pun segera membereskan mainan Alka yang tadi dibawanya. Setelah semuanya kembali masuk ke dalam kantong plastik yang besar, Barulah mereka berangkat ke warung tenda langganan Rain.
Laki-laki itu memang sering datang ke sana. Ketika dia teringat dengan Summer. Karena saat dulu mereka pacaran, Rain dan Summer sering makan ayam bakar dan pecel ayam di warung tenda.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke tempat yang dituju. Kini ketiganya sudah duduk lesehan di tempat yang disediakan di sana. Rain pun langsung memesankan makanan tanpa bertanya dulu pada Summer.
"Bunda, Papa Aka keyen ya! Papa bisa tahu kayau Aka suka sekayi ayam bakang."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....