
Perlahan mata yang terus terpejam itu mulai mengerjap. Pupil matanya menyesuaikan cahaya yang masuk, setelah dua hari mata itu terpejam. Summer mengedarkan pandangannya melihat ke setiap penjuru ruangan. Tangannya meraba perut yang saat terakhir sebelum dia tidak sadarkan diri masih membuncit. Namun kini, perut itu sudah terlihat mengempis.
"Anakku ... Anakku mana?" lirih Summer pelan.
Bersamaan dengan Hanna yang masuk ke ruang ICU ingin melihat keadaan Summer. Dia sangat senang karena akhirnya Summer sudah sadarkan. Dia pun segera mempercepat langkahnya untuk melihat keadaan sepupu iparnya itu.
"Summer, syukurlah kamu sudah sadar," ucap Hanna dengan senyum bahagia menghiasi kedua sudut bibirnya.
"Mbak, anakku ...," lirih Summer.
"Anakmu sudah lahir dengan selamat. Dia laki-laki dan sangat tampan. Sebentar, Mbak panggilkan dokter dulu," pamit Hanna. Dia langsung menekan tombol hijau untuk memanggil tenaga medis. Terdengar ada orang yang berbicara pada intercom yang ada di sana.
"Tuan, Nyonya, ada yang bisa kami bantu?"
"Mbak, pasien Summer sudah sadar. Tolong segera ke sini!" ujar Hanna.
"Baik, Nyonya. Kami akan segera ke sana."
Tidak berapa lama kemudian, dokter dan perawat berdatangan untuk memeriksa Summer. Setelah memastikan keadaan Summer baik-baik saja, dokter dan perawat itu pun kembali ke ruangannya meninggalkan Summer bersama dengan Hanna.
"Mbak Hanna, berapa lama aku tertidur terus," tanya Summer.
"Dua hari, beruntung yang menyerahkan kamu mau bertanggung jawab sehingga semua biaya di rumah sakit ini mau sama dia."
"Mbak, aku ingin bertemu dengan anakku."
"Sebentar lagi perawat pasti ke sini membawa putramu. Dia anak yang sehat dan tampan. Tadi Mbak sudah melihatnya. Perawat baru saja memandikannya. Semua orang yang melihatnya jatuh cinta paa bayi kamu Summer."
Baru saja Hanna selesai bicara, Seorang perawat datang untuk menyerahkan bayi kecil itu agar mendapatkan ASI dari ibunya. Summer menerima bayi itu dengan tangan yang gemetar dan setitik air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Dia sangat terharu karena masih bisa melihat buah cintanya dengan Rain. Laki-laki yang sangat dicintainya.
Bunda tahu, cara Bunda memiliki kamu itu salah. Tapi kamu tetap seorang bayi yang suci dan tak berdosa, Nak. Tumbuhlah jadi anak yang baik yang berguna untuk sesama. Semoga Tuhan selalu melindungi, menjaga dan memberkahi kehidupanmu, aamiin.
__ADS_1
Tanpa drama tidak tahu di mana letak sumber kehidupannya, bayi laki-laki itu langsung menemukan apa yang dicarinya saat Summer mendekatkan ke dadanya. Seperti orang yang kelaparan berhari-hari, bayi itu menyedot dengan rakusnya membuat Hanna dan perawat yang membawanya tersenyum melihatnya.
"Dia sangat rakus sekali, sepertinya adik tampan ini sangat merindukan ibunya," ucap Perawat.
"Iya, benar. Lihat bayi kamu Summer, dia sangat bersemangat," timpal Hanna. "Apa kamu sudah menyiapkan namanya?"
"Sudah, Mbak. Alkanna Rain Lazuardi," jawab Summer dengan tersenyum tipis. Dia teringat pada Rain yang memilihkan nama itu saat mereka berdua sedang angan-angan menikah secepatnya dan memiliki seorang anak. Bahkan Rain sudah menyiapkan nama anak jika lahir perempuan ataupun laki-laki.
"Nama yang bagus," puji perawat itu.
Ketiga wanita cantik itu larut dalam obrolan seputar cara perawatan bayi sambil menunggu Alkanna selesai menyusui. Sampai akhirnya terdengar pintu ruang perawatan itu ada yang mengetuknya dari luar. Hanna pun langsung melihat siapa yang datang.
Nampak di sana Billy dan Radid datang bersama. Mereka memang diberitahu kalau Summer sudah sadarkan diri, sehingga bergegas datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan gadis itu.
"Sayang, bagiamana keadaan Summer?" tanya Radid begitu penasaran.
"Alhamdulillah sudah stabil. Tapi sekarang sedang menyusui Alka. Jadi masuknya nanti saja kalau Alka sudah selesai menyusu."
"Itu keponakan kita, Bang. Masa orang lain sih," jelas Hanna dengan sedikit cemberut.
"Pak Billy, maaf sepertinya kita tidak bisa melihat ke dalam. Bagaimana kalau kita duduk saja dulu di sini," ajak Radid pada Billy yang sedari tadi terdiam.
"Iya tidak apa, Mas. Kebetulan waktu saya juga sedang longgar." Bohong Billy dengan tersenyum.
Akhirnya mereka pun duduk di bangku tunggu yang ada di depan ruangan Summer. Kedua laki-laki dewasa itu terlihat sangat akrab. Apalagi pembawaan Billy yang supel membuat mereka sudah seperti teman lama.
Setelah cukup lama mereka berbincang di luar, perawat pun keluar dengan membawa bayi Alka kembali karena akan kembalikan ke ruang khusus bayi. Billy tersenyum melihat bayi tampan itu. Dia merasa jatuh cinta dan ingin memiliki bayi yang lucu itu.
"Apa sudah boleh dijenguk, Sus?" tanya Billy.
"Silakan, Tuan. Saya permisi dulu!" pamit perawat itu.
__ADS_1
Billy pun langsung masuk ke dalam ruang perawatan Summer. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin melihat korban kecelakaan itu. Billy merasa sangat lega saat melihat keadaan Summer yang sudah sadar. Dia memberikan senyum terbaiknya saat pertama kali bertatapan dengan wanita cantik itu.
"Nona, saya merasa sangat senang keadaan Anda sudah membaik. Saya minta maaf karena tidak sengaja menyerempet Anda. Waktu itu saya sedang terburu-buru menjemput adik saya yang baru pulang dari luar negeri," sesal Billy.
"Tidak apa, Tuan. Semuanya sudah terjadi, saya juga mau berterima kasih karena Anda mau bertanggung jawab dan membawa ke rumah sakit padahal Anda sedang terburu-buru."
"Sudah menjadi kewajiban saya, Nona. Oh iya, panggil saja saya Bang Billy, biar kita lebih akrab. Benar kan, Bang Radid?" Billy melihat ke arah Radid yang sedang memperhatikan dia dan Summer berbicara.
"Iya, benar Summer. Sepertinya, Tuan Billy usianya di atas kamu," ucap Radid.
"Baiklah, Bang!" Summer tersenyum manis pada Billy, membuat laki-laki itu merasakan ada sesuatu yang berbeda menyentuh hatinya.
Bukan rasa iba atau kasihan yang kini billy rasakan pada korban kecelakaan itu. Tapi sesuatu yang lain yang tidak dia mengerti. Billy hanya tahu, kalau dia ingin menjaga wanita itu.
Setelah hari itu, Billy lebih sering menjenguk Summer. Setiap hari dia mengunjunginya dengan membawa berbagai makanan dan perlengkapan bayi. Sampai saat Summer pulang dari rumah sakit pun, dia dengan sengaja menjemputnya dan mengantar Summer ke rumah Radid.
Namun, satu hal yang menjadi pertanyaannya, kenapa dia tidak pernah melihat suami wanita cantik itu, selama dia dirawat di rumah sakit. Akhirnya, Billy pun menanyakannya pada Radid karena dia takut menyinggung Summer jika langsung bertanya pada wanita itu.
"Bang, maaf sebelumnya. Suami Summer kenapa tidak pernah berkunjung ke rumah sakit untuk melihat keadaannya? Hanya teman-teman kerjanya saja yang pernah bertemu denganku," tanya Billy saat Summer sudah pulang ke rumah Radid.
"Sebenarnya Summer ditinggal menikah oleh kekasihnya," jawab Radid pelan.
"Maksud Abang ...." Billy tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Radid menganggukkan kepalanya.
Mungkin ini kesempatan aku untuk masuk ke dalam kehidupan wanita cantik itu. Seperti mendapatkan diskonan di mall, beli satu dapat dua. Mendekati ibunya, aku juga mendapatkan anak yang tampan dan menggemaskan itu. Sepertinya, menjadi seorang ayah pengganti tidaklah buruk.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1