
Perjalanan yang ditempuh oleh Rain terasa sangat lama. Dia merasa tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah Summer. Apalagi, saat dia tahu kalau ibunya datang menemui orang yang dicintainya. Sampai akhirnya, dia membelokkan mobilnya ke halaman rumah Summer.
"Papa ...," teriak Alka seraya berlari kecil menyambut kedatangan papanya.
"Sayang, apa ada nenek di rumah?" tanya Rain setelah dia keluar dari mobilnya. Dia langsung menggendong Alka dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ada, Pah. Alka mau diajak sama Nenek buat ketemu Kakek. Tapi Bunda gak setuju. Bunda khawatir sama aku. Papa, memangnya kakek jahat sama Bunda ya! Kenapa Bunda seperti takut kalau harus ketemu dengan kakek?" tanya Alka seraya melihat ke arah Rain.
"Tidak, Sayang! Kakek sama bunda dan Papa, ada sedikit salah paham. Tapi sebentar lagi juga baikan kho. Nanti Alka baik-baik ya kalau ikt dengan nenek," jelas Rain.
"Rain, cepat sini duduk! Kamu tuh, kenapa gak bilang dari dulu kalau sudah menemukan putramu. Apa Yasmin tahu tentang Alka?" tanya Bu Astrid.
"Tahu, Bu. Beberapa kali kami bertemu. Ibu tahu dari mana kalau Summer dan Alka ada di sini?" tanya Rain yang merasa heran.
"Ibu kan kenal dengan orang tua Summer. Sebelum kamu tahu, Ibu sudah tahu kalau rumah dia di sini."
"Maksud Ibu, Ibu dan Ayah udah kenal lama dengan almarhum orang tua Summer?" tanya Rain heran.
"Iya, sebenarnya ayah dan ayahnya Summer itu teman lama. Mereka selalu bersaing semasa sekolah dulu. Hanya saja, nilai ayah selalu dibawah Rigel, ayahnya Summer. Ayah tidak terima dikalahkan oleh Rigel yang bukan dari keturunan ningrat. Sehingga dia selalu membenci ayahnya Summer." Bu Astrid menghentikan ucapannya sejenak sebelum dia melanjutkan ceritanya.
"Apalagi, Rigel berhasil mendapatkan putri seorang profesor yang berasal dari luar negeri. Membuat Ayah semakin membencinya. Sampai akhirnya mengajak menikah pada Ibu yang waktu itu masih menjadi sahabat Ayah. Ibu yang merasa tidak tega pada ayah kamu, akhirnya menyetujui saja. Karena memang, kami sudah dijodohkan dari kecil."
__ADS_1
Summer dan Rain saling berpandangan mendengar penuturan dari Bu Astrid. Mereka tidak pernah menyangka dengan apa yang terjadi di masa lalu pada orang tuanya. Hingga akhirnya terdengar suara Alka yang berceloteh.
"Nenek, apa Kakek juga membenciku? Bukankah aku belum pernah bertemu dengan Kakek?"
"Tidak, Sayang! Dari itu kita bertemu dengan kakek ya! Alka buat kakek jatuh cinta sama Alka, agar dia bisa lupa dengan kebenciannya pada Kakek Rigel," ucap Bu Astrid.
"Begitu ya, Nek! Bunda, Alka mau ikut dengan nenek. Boleh ya, Bun?" pinta Alka dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Tapi, Sayang. Bagaimana kalau nanti ...."
"Tidak akan, Summer. Ayah tidak membenci Alka. Aku yakin, kalau ayah tidak akan menyakiti Alka. Apalagi Alka masih kecil. Ayah tidak akan tega menyakiti anak kecil," ucap Rain berusaha meyakinkan Summer.
"Baiklah, tapi hanya malam ini."
"Yah, mau bagaimana lagi. Ibu tidak bisa menolak pesona cucu Ibu yang menggemaskan ini. Seandainya dulu Ibu tahu kalau kamu hamil, mungkin Ibu juga akan membela kamu, Summer. Ibu pasti membantu Rain untuk menentang keinginan ayahnya."
"Semua sudah berlalu, Tan. Aku juga baru tahu kalau aku hamil, saat Rain menikah." Terdengar suara Summer sedikit bergetar saat dia berbicara.
"Maafkan aku, sudah menorehkan luka yang teramat dalam. Aku janji, tidak akan mengecewakan kamu lagi," ucap Rain dengan merangkul pundak Summer. Dia merasa sangat bersalah dengan semua yang sudah terjadi pada kekasih hatinya.
"Kamu wanita yang kuat, Summer. Ibu juga minta maaf karena tidak sengaja menjadi penyebab perpisahan kalian," sesal Bu Astrid.
__ADS_1
"Tidak apa, Bu. Yang terpenting Alka selalu baik-baik," lirih Summer.
"Bunda, Alka janji mau jadi anak baik."
"Terima kasih, Sayang!" Summer merentangkan tangannya agar Alka masuk ke dalam pelukannya. Dia mencium pucuk kepala putranya lama. menyalurkan keharuan yang membuncah di dada.
Setelah cukup berbincang-bincang, Bu Astrid pun berpamitan pulang dengan membawa Alka. Dia sudah bertekad untuk membantu Rain memperjuangkan Summer dan putranya.
Meskipun memang benar Alka lahir di luar nikah, tetapi tetap saja darah yang mengalir di tubuhnya itu darah Keluarga Lazuardi. Aku tidak mungkin membiarkan cucuku menderita di luaran sana. Sementara Wilson, yang tidak memiliki darah Lazuardi, mendapatkan pengakuan penuh dari keluarga besar, batin Bu Astrid.
Sementara itu, kecemasan terlihat jelas di wajah cantik Summer. Ibu muda itu merasa was-was karena Alka ikut dengan Bu Astrid ke rumahnya. Meskipun Rain dan ibunya terus memberikan pengertian pada Summer, tetap saja dia khawatir ayahnya Rain melakukan hal yang membuat Alka jadi down.
"Summer, jangan terus dipikirkan! Alka pasti baik-baik saja," ucap Rain saat melihat kekasih hatinya terus termenung. "Ayo sini! Kita lihat lewat CCTV apa yang terjadi di rumahku.
Rain langsung menarik Summer dan mengajaknya duduk bersama di sofa panjang, lalu memperlihatkan rekaman CCTV rumah Rain yang tersambung ke ponsel laki-laki itu. Namun, posisi mereka yang tidak berjarak, membuat Rain menjadi kelimpungan sendiri. Karena tiba-tiba saja, dia terperangkap oleh hasratnya sendiri.
Sabar Rain! Kamu tidak boleh tanam saham dulu! Kamu harus kuat menahannya! Aku yakin, kamu pasti bisa, batin Rain.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....