
Beberapa saat lamanya, Tuan Altair hanya terdiam di tempatnya. Di merasa tidak percaya kalau Alka anak dari wanita yang tidak disukainya. Bukan karena kekurangan Summer yang menjadi penyebabnya, tetapi latar belakang wanita cantik itu yang sangat tidak disukainya.
"Apih, apa Apih tidak suka pada Alka, karena Alka putranya papa sama bunda?" tanya Alka dengan menggoyangkan tangan Tuan Altair. "Bunda Alka baik kho! Bunda tidak suka marah-marah sama Alka. Bunda juga selalu baik pada semua orang. Bunda ...."
"Cukup Alka! Apih sudah tahu semuanya tentang bunda kamu itu. Apapun yang kamu katakan, tetap saja bunda kamu itu anaknya Rigel. Tidak mungkin berubah jadi anak orang lain," potong Tuan Altair.
"Rigel siapa Apih? Apa Alka kenal?"
"Ayah, yang memiliki masalah dengan Ayah itu Rigel bukan Summer maupun Alka. Ayah salah kalau tidak menyukai mereka yang tidak tahu apa-apa soal kalian. Lagipula, semua kebencian ayah itu tidak mendasar. Hanya karena Rigel ...."
"Cukup, Bu! Kalian pergilah, ayah butuh sendiri," usir Tuan Altair.
"Ayo Alka! Kita ke kamar Papa," ajak Rain dengan mengulurkan tangannya pada Alka.
"Iya, Pah! Apih, Alka pergi dulu ya! Alka sayang kho sama Apih sama Amih juga." Alka pun langsung mengikuti ke mana Rain membawanya.
Sesekali bocah kecil itu menengokkan kepalanya melihat ke arah Tuan Altair yang masih terdiam di tempatnya. Orang tua paruh baya itu, sepertinya benar-benar dilema. Antara menuruti egonya atau menerima Summer dan putranya menjadi anggota keluarganya.
"Ayah, sedikit saja hilangkan ego Ayah. Apa Ayah ingin kehilangan putra dan cucu yang menggemaskan seperti Alka. Apalagi Alka anak yang cerdas. Pasti keluarga besar Ayah akan merasa iri saat tahu, kalau Ayah memilki cucu yang cerdas dan menggemaskan seperti Alka." Bu Astrid mulai menjalankan rencananya untuk mengubah pandangan suaminya soal Summer dan Alka.
"Ayah lihat sendiri, Alka jauh lebih baik dari Wilson. Alka selalu bisa menempatkan dirinya, tetapi Wilson sering membuat kita malu kalau tiap ada pertemuan keluarga."
__ADS_1
"Bu, Wilson itu cucu kita."
"Tapi dia bukan darah daging Rain. Apa Ayah tidak bisa melihat, sedikit pun tidak ada wajah Rain di wajah Wilson. Anak itu lebih mirip dengan teman Rain yang menjadi bos penambang pasir."
"Bu, jangan asal bicara kalau tidak punya bukti. Wilson lahir saat Yasmin masih menjadi istri Rain. Ayah tidak percaya, kalau Rain sama sekali tidak menyentuh istrinya waktu itu."
"Wilson memang bukan putraku. Aku belum pernah menyentuh Yasmin sedikit pun. Dia hamil oleh laki-laki lain. Benar kata ibu kalau ayah biologis Wilson itu Topan, temanku yang menjadi pengusaha tambang pasir," ucap Rain yang kembali setelah menyuruh Alka untuk istirahat di kamar.
"Apa katamu? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya pada Ayah?" tanya Tuan Altair yang kembai terkejut dengan fakta yang baru di dengarnya.
"Aku hanya ingin melindungi putranya Yasmin agar tidak mendapatkan gunjingan dari orang-orang. Tapi ternyata, aku justru menelantarkan putraku sendiri. Darah daging aku. Apa Ayah akan melakukan hal itu juga? Lebih menyayangi anak yang tidak memiliki hubungan darah dengan ayah, daripada keturunan ayah sendiri?"
"Ayah, apa Ayah tidak apa-apa?" tanya Bu Astrid langsung panik melihat suaminya seperti itu.
"Dada ayah sakit sekali, Bu." lirih Tuan Altair.
"Ayo, Bu! Kita bawa Ayah ke rumah sakit saja," ajak Rain yang ikut menghampiri Tuan Altair saat melihat pria paruh baya itu meringis seraya memegang dadanya.
Tanpa menunggu lama, Rain langsung membawa Tuan Altair ke rumah sakit. Tidak lupa Alka pun ikut serta dibawa. Dia merasa cemas karena Ayahnya tiba-tiba saja terkena serangan jantung.
"Rain, bagaimana ini? Ayah sangat terkejut mendengar hal itu," tanya Bu Astrid cemas, saat mereka menunggu Tuan Altair di ruang rawat inap.
__ADS_1
"Ayah pasti baik-baik saja, Bu. Ayah hanya kaget dengan apa yang didengarnya," ucap Rain berusaha tenang. Karena kata dokter, Tuan Altair hanya mengalami serangan jantung ringan.
"Apa kamu sudah memberitahu Summer, kalau Alka ikut ke sini?" tanya Bu Astrid lagi.
"Alka sudah telepon Bunda, Amih. Nanti Bunda juga akan ke sini," timbrung Alka yang sedari tadi diam. Hanya memperhatikan Tuan Altair yang terbaring lemah dengan alat napas yang terpasang di hidungnya.
"Makasih, Sayang sudah kasih tahu Bunda. Papa panik jadinya lupa untuk menghubungi bunda. Pasti dia kaget karena di rumah tidak menemukan Papa," sesal Rain.
"Iya, Papa. Pah, mungkin Alka dan Bunda harus cepat-cepat pulang ke ibu kota. Sepertinya Apih tidak suka dengan Alka dan Bunda," ucap Alka seraya menundukkan kepalanya.
"Alka kembali ke sana, nanti bareng dengan Papa. Apih hanya kaget, beliau pasti sehat kembali. Alka jangan cemas ya! Kita do'akan saja agar Apih cepat sehat kembali," ucap Rain dengan merengkuh tubuh kecil putranya dan membawa ke dalam dekapannya.
"Iya, Sayang. Apih pasti sehat lagi. Nanti Amih dan Apih akan ikut ke ibu kota untuk menghadiri pernikahan Papa dan Bunda kamu."
Entah kenapa, aku merasa sangat yakin kalau Alta akan menerima Summer dan Alka, batin Bu Astrid.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1