Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 53 Sadar


__ADS_3

Dini hari yang sunyi, membuat Summer dapat mendengar dengkuran halus Rain yang tertidur di sampingnya. Tangannya terulur ingin mengelus rambut hitam legam kekasih hatinya. Akan tetapi, dia merasakan sakit saat menggerakkan tangannya yang terpasang gips.


Begitu parah kah keadaan aku? Sampai banyak alat medis yang terpasang di tubuhku. Aku hanya ingat, saat Alka datang dan melihat keadaanku yang menyedihkan. Disusul dengan Rain yang langsung mendorong Billy. Alka, di mana dia sekarang? Apa Billy menyakitinya? Tidak, aku harus bangun! Benar kata Mama, putraku membutuhkan aku, batin Summer.


Summer berusaha membangunkan Rain dengan tangan kirinya yang terpasang infuss. Sampai akhirnya laki-laki itu terbangun dari tidurnya. Rain sangat terkejut saat melihat Summer yang sudah tersadar dari komanya. Dia pun langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Summer, syukurlah kamu sudah bangun. Kamu jangan takut, bajingann itu sudah mendekam di balik jeruji besi. Kamu akan aman bersamaku. Karena aku tidak akan membiarkan dia menyakiti kamu lagi," cerocos Rain tanpa henti.


"Rain, kau haus!"


"Sebentar aku ambilkan!" Rain pun segera mengambil botol air mineral yang sengaja dia siapkan di atas nakas. Setelah membuka penutupnya, Rain pun segera memberikannya pada Summer.


"Terima kasih," ucap Summer setelah dia meminumnya. Bersamaan dengan dokter dan perawat yang datang ke ruang ICU.


Rain pun segera keluar ruangan untuk memberikan ruang pada tenaga medis itu memeriksa Summer. Sampai akhirnya, dokter itu selesai memeriksa, barulah Rain menanyakan keadaan Summer.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Rain dengan mimik wajah serius.


"Keadaannya sudah stabil. Semua organ vitalnya pun baik-baik saja. Mungkin besok akan dipindahkan ke ruang perawatan," jelas dokter itu.


"Terima kasih, Dok!" ujar Rain.


"Baiklah! Kalau begitu saya permisi. Tolong perhatikan, agar pasien jangan banyak bergerak dulu."


"Baik, Dok!"


Setelah kepergian dokter itu, Rain pun segera masuk ke dalam ruang ICU. Dia tersenyum pada Summer yang sedang menatap ke arahnya. Rain pun mengambil tangan Summer dan mencium punggung tangan yang terlihat pucat itu.


"Rain, terima kasih!"


"Sutt ... Tidak perlu berterima kasih padaku. Sudah menjadi kewajiban aku menjaga dan melindungi separuh hidupku. Aku pasti akan menyesal seumur hidupku saat tidak bisa menyelamatkan kamu dari laki-laki itu."


Summer tidak berkata-kata lagi. Hanya setitik air matanya yang menetes di pipi. Rain pun sesegera mungkin menghapus air mata itu.


"Ini air mata terakhir untuk semua luka dan derita yang kamu rasakan karena aku. Setelah ini, akan aku pastikan, hanya air mata kebahagian yang keluar dari kedua matamu."

__ADS_1


Bukannya berhenti menetes, air mata Summer semakin deras membasahi pipinya. Rasa sesal, kecewa dan sakit hati bercampur jadi satu. Rain pun ikut meneteskan air matanya seraya dia membantu menghapus air mata Summer.


"Summer, kita harus kuat demi Alka. Kalau kita lemah, bagaimana keadaan dia nanti jika tanpa kita? Jangan tangisi bajingann itu lagi! Lupakan semuanya dan berjalan bersamaku untuk mengukir semua kenangan indah kita."


Summer hanya menganggukkan kepalanya pelan. Kini dia yakin, meskipun dulu rain pernah mengecewakannya, tetapi perasaan laki-laki itu tidak pernah berubah padanya. Summer ingin mencoba meyakini kalau feeling putranya itu begitu kuat saat dia membedakan mana orang yang tulus dan hanya berpura-pura.


...***...


Keesokan harinya, Alka terlihat begitu bersemangat untuk bertemu dengan bundanya. Anak laki-laki itu terus saja menarik tangan Radid dengan tidak sabaran. Membuat ayah angkatnya itu langsung menggendong Alka.


"Sabar, Nak! Kasihan Ibu kalau kita berjalan cepat. Lihat ibu berjalan kesusahan dengan adik bayi yang selalu ibu bawa ke mana-mana," tegur Radid.


"Maaf Ayah! Alka ingin cepat-cepat ketemu Bunda," sesal Alka dengan menundukkan kepalanya.


"Jangan sedih begitu, Alka harus terlihat ceria di depan Bunda. Agar Bunda tidak bertambah sedih karena melihat Alka sedih. Ayo jagoan Ayah, tersenyum dulu!" suruh Radid menghibur Alka yang mendadak terlihat sendu.


"Ayo, Sayang! Ibu juga sudah kangen sekali pada Bunda Alka. Tapi Alka tidak boleh sedih-sedih lagi. Alka harus bahagia, harus selalu ceria," bujuk Hanna ikut menimpali.


Tanpa terasa, kini ketiganya sudah sampai di ruangan Summer. Alka pun dengan begitu bersemangat mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum ... Bunda Alka kangen!"


Alka segera meminta diturunkan dari gendongan Radid. Dengan tidak sabaran, Alka pun berlari ke arah Summer yang sedang duduk di atas tempat tidur. Dengan Rain yang sedang menyuapi.


Summer tersenyum sekaligus meneteskan air matanya menyambut kedatangan Alka. Dia merasa bahagia karena Alka dalam keadaan baik-baik saja.


"Sini, sayang! Bunda kangen sama Alka!" ajak Summer dengan merentangkan tangan kirinya.


Alka pun segera masuk ke dalam pelukan Summer. Dia menciumi wajah Summer. Setelah merasa puas, Alka pun menidurkan kepalanya di paha Summer.


"Alka, bobonya sama ibu saja. Bundanya masih sakit," ucap Hanna yang sedari tadi melihat apa yang Alka lakukan pada Summer.


"Tidak apa, Mbak! Kakiku tidak apa-apa," ucap Summer dengan memaksakan tersenyum.


"Bagaimana keadaan kamu? Abang minta maaf jika tanpa sengaja menjadi penyebab kamu seperti ini," sesal Radid dengan menundukkan kepalanya.


"Abang, tidak salah apa-apa. Aku sendiri yang memutuskan untuk menerima dia. Kita sama-sama tertipu dengan kebaikannya," ucap Summer dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


"Sudah Bang, Summer. Kalian tenang saja, aku akan membuat dia mempertanggungjawabkan semuanya. Aku sudah meminta temanku untuk mencari jaksa yang handal. Kebetulan temanku merekomendasikan seorang jaksa yang selalu menang dalam tiap kasusnya," beber Rain.


"Siapa Rain? Apa Abang mengenalnya?"


"Tuan Sadewa."


"Itu kan Jaksa paling mahal yang selalu dipakai oleh keluarga Wiratama setiap kali berurusan dengan lawan bisnisnya."


"Abang kenal?"


"Dia teman kuliah Abang. Keluarganya memang turun temurun mengabdi pada Keluarga Wiratama."


"Aku mendapat rekomendasi dari bos aku. Dia meminta temannya Tuan Elgar untuk membantu aku."


"Beruntung kamu berteman baik dengan keluarga itu. Abang yakin, Billy tidak akan lepas dari jeratan hukum. Meskipun Keluarga Mahendra juga kaya raya, tetapi masih kalah jauh dari Keluarga Wiratama."


"Semoga saja, Bang. Aku menyerahkan semuanya pada teman-temanku, karena aku kurang mengerti mengenai hukum."


Mendengar obrolan Rain dan Radid, Summer jadi teringat akan percakapan dengan papanya. Dia terus mengingat-ingat apa yang papanya katakan. Setelah Summer sudah mengingatnya dengan jelas, dia pun membuka suaranya.


"Rain, boleh pinjam ponsel kamu?" tanya Summer yang sukses membuat semua orang menjadi heran.


"Boleh, tapi untuk apa?" tanya Rain kaget. Dia pun memberikan ponselnya pada Summer.


"Nanti kamu juga tahu." Summer segera mengetikan sesuatu di ponsel Rain. Dia yakin kalau apa yang ditulisnya sama dengan apa yang papanya katakan. Setelah dia meyakinkan dirinya, Summer pun kembali berbicara. "Rain, coba kamu buka file itu. Aku sudah menuliskan passwordnya juga."


"File apa?"


"Aku tidak tahu, tapi papa meminta aku agar menyuruh kamu membukanya."


"Baiklah, sepertinya ini file penting. Aku akan membukanya di komputer khusus yang ada di apartemen."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2