
Derap langkah kaki terdengar begitu nyaring. Rasanya Summer sudah tidak sabar ingin melihat keadaan putranya. Sungguh dia merasa sangat khawatir saat Alka memberitahunya kalau Tuan Altair tiba-tiba sakit dan dibawa ke rumah. Hingga sampai di depan ruang perawatan ayah kekasihnya, Summer menghentikan langkahnya.
"Alka, bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Summer seraya memeluk tubuh putranya.
"Alka baik, Bun. Apih yang sedang sakit," jawab Alka apa adanya.
"Rain, ayah sakit apa?" tanya Summer dengan melihat ke arah Rain.
"Ayah kena serangan jantung. Dia hanya kaget dengan berita yang aku sampaikan. Sini duduk! Nanti kita melihat ayah bersama-sama sekalian meminta restu pada ayah," ucap Rain seraya menarik tangan Summer.
"Bagaimana keadaan ayah sekarang?" tanya Summer dengan menatap lekat Rain. Dia pun duduk di samping Rain dengan membawa Alka dalam pangkuannya.
"Ayah baik. Sekarang sedang berbicara dengan ibu. Aku sengaja menunggu kamu di sini. Karena kata Alka, kamu akan datang ke sini."
"Syukurlah! Rain, apa ayah sudah tahu tentang Alka?"
"Sudah, kamu jangan khawatir!" Rain pun menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Tidak ada yang dikurangi ataupun dilebih-lebihkan. Setelah dia selesai bicara, barulah Summer berbicara.
"Aku masih khawatir, ayah tidak bisa menerima aku. Mungkin beliau bisa menerima Alka karena ada darahnya yang mengalir di tubuhnya. Tapi aku ... Aku hanya orang asing untuknya."
"Sayang, percaya sama aku! Aku pasti akan membela kamu di depan ayah ataupun di depan orang lain yang tidak mau mengakui keberadaan kamu di sisiku. Karena aku tidak mungkin membiarkan cahaya hatiku padam dengan apa yang mereka lakukan."
"Iya, Bunda. Alka juga pasti belain Bunda. Alka gak akan biarkan ada orang yang menyakiti Bunda."
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang!" Summer mencium kening dan pipi Alka. Membuat Rain berdehem melihat apa yang wanita cantik itu lakukan.
"Hm ... Summer, kenapa aku mendapatkan ciuman seperti Alka. Bukankah kami sama-sama akan menjaga kamu?" protes Rain.
"Apaan sih?" Pipi Summer bersemu merah mendapatkan godaan dari Rain. Membuat laki-laki tampan itu bertambah gemas pada kekasih hatinya.
Tanpa permisi, Rain langsung mencuri ciuman di pipi Summer. Bersamaan dengan Bu Astrid keluar dari ruang perawatan Tuan Altair. Dia hanya menggelengkan kepala melihat apa yang putranya lakukan.
Cinta Rain begitu besar pada Summer. Mana mungkin aku tega memisahkan mereka kembali. Apalagi sekarang sudah ada Alka di antara mereka. Yang menjadi penguat perasaan keduanya.
"Amih, apa Alka sudah boleh melihat Apih?" tanya Alka yang lebih dulu menyadari kehadiran Bu Astrid.
"Iya, boleh. Amih ke luar karena Apih ingin bicara dengan Alka dan papa. Summer, kamu juga boleh ikut masuk. Ayah mau berbicara dengan kalian," ucap Bu Astrid dengan tersenyum.
Terlihat Tuan Altair sedang duduk menyandar pada tempat tidur yang sengaja ditinggikan. Tatapan matanya terus tertuju pada Summer yang berjalan menunduk dengan menggenggam erat tangan Rain. Semua orang yang melihat pasti tahu dengan raut ketakutan di wajah cantik itu.
"Summer, tidak perlu takut seperti itu! Om tidak akan memarahi kamu," tegur Tuan Altair.
"Apa kabar, Om? Apa sudah baikan?" tanya Summer dengan memberanikan diri untuk mencium punggung tangan laki-laki paruh baya itu.
"Om, baik. Terima kasih sudah datang menjenguk, Om. Summer, Om minta maaf dengan semua yang terjadi padamu. Mungkin, kalau Om tidak memaksa Rain untuk menikah dengan Yasmin, kamu tidak akan melewati masa kehamilan tanpa seorang suami." Tuan Altair menatap lekat Summer yang terlihat kaget dengan apa yang laki-laki itu katakan.
"Semua sudah terjadi, Om. Mungkin sudah menjadi jalan hidup aku harus seperti itu."
__ADS_1
"Summer, Om ingin menitipkan putra dan cucu Om padamu. Mungkin, dengan kamu yang merawat dan menjaga mereka, Rain dan Alka akan bahagia. Benar apa yang dikatakan ibu Rain, kami sudah tua. Sudah seharusnya melepaskan semua kebencian dan dendam yang tersimpan di hati. Karena entah esok ataupun lusa, mungkin malaikat maut menjemput, Om." Tuan Altair terlihat sendu dengan apa yang dia katakan.
"Om, harus panjang umur. Karena kami yang masih muda, masih butuh petuah dan teguran dari Om. Saat kami tidak sengaja melakukan hal yang di luar batas."
"Iya, Ayah! Ayah harus sehat dan hidup lebih lama lagi. Agar Ayah bisa melihat anak-anak kami yang menggemaskan," timpal Rain.
"Sepulang Ayah dari rumah sakit, cepat kalian resmikan hubungan kalian! Lalu Ayah harus melamar Summer pada siapa?"
"Pada Bang Radid, selama ini Summer menjadi tanggung jawab Bang Radid."
"Baiklah, Ayah akan meminta Summer padanya."
"Terima kasih Ayah, sudah merestui kami."
Mereka pun akhirnya berbincang mengenai rencana pernikahan Summer dan Rain. Terlihat Bu Astrid begitu bersemangat. Apalagi, Rain merencanakan pesta pernikahannya di ibu kota.
Rasanya lega, setelah aku melepaskan semua kebencian aku pada anak itu. Kenapa selama ini mata hatiku tertutup? Rigel dan Myori berhasil mendidik anak yang baik untuk menjadi pendamping putraku.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1