Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 64 Mengenang Masa Lalu


__ADS_3

Suasana meja makan terlihat hening. Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar. Semuanya makan dengan lahap menikmati masakan Rain. Setelah menghabiskan makanannya, barulah rain berbicara.


"Bang, mungkin hari jum'at besok, aku akan membawa Alka dan Summer pulang kampung. Aku ingin segera menghalalkan Summer," ucap Rain mengawali percakapan


"Apa kamu serius, Ingin secepatnya sah dengan adikku? Lalu bagaimana dengan istri dan orang tua kamu?" tanya Radid dengan menatap tajam Rain.


"Aku serius, Bang. Soal Yasmin, aku sudah pisah dengan dia setahun setelah aku menikah dengannya. Kalau soal ayahku, aku akan bicara dulu sama Ayah sebelum membawa Alka dan Summer ke rumah. Abang jangan khawatir, aku tidak akan seperti dulu yang menerima begitu saja keputusan ayah," beber Rain dengan wajah yang serius.


"Baiklah kalau begitu. Abang tidak keberatan Summer menikah dengan siapa pun. Asalkan laki-laki itu mau bertanggung jawab terhadap Summer dan Alka. Mau menerima mereka apa adanya dan jangan menyakitinya." Radid menghela napas dalam sebelum dia melanjutkan bicaranya.


"Karena saat kamu atau siapa pun laki-laki yang menjadi suami Summer menyakitinya. Baik verbal maupun non-verbal, maka Abang akan mengambilnya kembali. Karena Abang memberikan Summer pada kamu atau laki-laki itu, bukan untuk disakiti. Tapi untuk dicintai dan dibahagiakan."


"Iya, Bang. Aku mengerti! Aku janji akan selalu ada untuk Summer dan memperbaiki semua kesalahan aku di masa lalu. Karena Summer maupun Alka adalah sumber kebahagiaan aku. Saat mereka terluka, aku pun pasti akan merasakan luka itu." Rain menatap sendu Summer dan Alka secara bergantian. "Aku mencintainya lebih dari yang kalian tahu."


"Terima kasih, Rain. Abang dan Mbak ke kamar duluan," pamit Radid.


Radid pun mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar. Begitupun dengan Alka yang memilih untuk pergi ke kamarnya sendiri. Karena memang, semenjak tinggal di rumah itu, Alka jadi punya kamar sendiri. Sementara Summer menempati kamar utama. Karena setiap Rain menginap di sana, dia pasti tidur bersama dengan Alka.


"Rain, aku bereskan meja makan dulu ya!"


"Ayo aku bantu!"


Rain pun segera membantu Summer yang sedang membereskan piring-piring bekas makan malam mereka. Kedua terlihat bahagia bisa mengerjakan semua itu bersama. Mereka terasa kembali ke masa saat masih berada di kampung halamannya.


"Summer, kamu tahu, kalau aku sangat merindukan saat-saat seperti ini. Dulu, hampir setiap hari kita menghabiskan waktu bersama. Saat kamu pergi aku merasa duniaku runtuh. Setiap hari aku mencari kamu tapi sedikitpun aku tidak dapat menemukan jejak kamu," beber Rain dengan pikiran menerawang jauh ke masa-masa sulitnya dulu.


"Tapi aku yakin, hidup kamu pasti lebih sulit dari yang aku rasakan. Kamu harus melewati masa-masa kehamilan tanpa seorang pendamping. Beruntung ada Bang Radid dan Mbak Hanna yang baik sama kamu."


"Kamu benar, beruntung aku memiliki sepupu yang baik seperti Abang dan Mbak Hanna, sehingga aku tidak merasa begitu kesulitan saat menjalani masa kehamilanku. Aku pun merasa baik-baik saja. Tidak merasakan mual dan muntah seperti yang dialami oleh Mbak Hanna," ucap Summer dengan tangan yang terus mencuci piring bekas makan.

__ADS_1


"Mungkin aku yang ngidam, karena setelah kamu pergi, setiap hari aku harus mual muntah di pagi hari. Herannya, saat siang hari rasa mual itu mulai berkurang."


"Pantas saja Alka bisa langsung dekat dengan kamu, ternyata kalian memiliki ikatan batin yang sangat kuat."


"Mungkin itu cara dia memberitahu keberadaannya sama aku. Summer, apapun yang terjadi, jangan pernah pergi lagi dari hidupku!" Rain memeluk Summer dari belakang dengan menopangkan dagunya di bahu Summer.


"Tergantung bagaimana kamu memperlakukan aku, karena aku tidak mau jika harus terluka lagi. Apalagi kalau sampai harus berbagi cinta dengan wanita lain. Meskipun itu sahabat aku sendiri. Aku tidak akan pernah siap," ucap Summer seraya menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Aku janji, tidak akan mengulang kembali kebodohan aku."


...***...


Hari yang dinanti pun telah tiba. Alka sudah bersiap sedari pagi. Anak laki-laki itu terlihat begitu antusias saat tahu akan diajak pulang kampung oleh orang tuanya. Tidak lupa, dia juga berpamitan pada tetangga kesayangannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Alka yang menyelinap keluar rumah untuk bertemu dengan Shello dan Zia.


"Wa'alaikumsalam, Alka pagi-pagi sudah ganteng. Mau jalan-jalan ke mana? Om gak diajak nih?" Juki yang kebetulan membuka pintu langsung menggoda putra sahabatnya itu.


"Ada, sedang di halaman belakang sama bibi."


"Boleh Alka bertemu dengan Dede Zia?" tanya Alka kemudian.


"Yuk masuk! Dedenya sedang makan pagi. Alka sudah sarapan belum?"


"Sudah, Om! Alka langsung ke sini pas tadi sehabis sarapan."


Juki terus saja melontarkan pertanyaan yang tidak penting pada bocah kecil itu. Hingga sampai di halaman belakang rumahnya, Alka langsung berlari kecil menghampiri Zia yang sedang disuapi oleh Shello. Sementara pengasuhnya kembali ke dalam rumah untuk membereskan kamar Zia.


"Pagi, Tante!" sapa Alka dengan tersenyum ramah pada wanita cantik itu.

__ADS_1


"Pagi Alka! Wah sudah ganteng nih, calon menantu Tante. Sudah sarapan belum? Zia malah belum mandi. Masih sarapan pagi," ucap Shello tersenyum manis melihat kedatangan tetangga barunya itu.


"Sudah, Tante! Alka mau bilang ke dede Zia, kalau Alka mau liburan ke kampung Papa."


"Oh, berapa lama liburannya? Pasti Tante kangen sama Alka."


"Alka gak tahu, Tante. Tapi nanti, Alka pasti bawa oleh-oleh buat Tante sama Dek Zia."


"Jangan lupa, bawa buat Om juga ya! Kue mochi yang biasanya Rain bawa kalau pulang kampung."


"Siap, Om! Alka pulang dulu ya Om, Tante. Dadah Dede Zia," ucap Alka seraya memainkan tangan Zia yang terlihat gemuk.


Setelah berpamitan dengan tetangganya, Alka pun langsung pulang ke rumahnya. Terlihat kedua orang tuanya sedang memasukkan koper ke dalam mobil. Dia pun langsung menghampiri dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.


"Alka dari mana, Sayang?" tanya Summer saat melihat kedatangan putranya.


"Alka habis pamitan dengan Dede Zia. Bunda, boleh Alka masuk? Tadi Om Juki minta dibawain mochi, Pah. Memangnya mochi apaan sih Pah?" tanya Alka penasaran.


"Masuk saja, Sayang. Bunda mau mengambil tas dulu di dalam," ucap Summer seraya berlalu pergi ke dalam rumah.


Sementara Rain langusng menghampiri Alka yang akan masuk ke dalam mobil. "Kue mochi itu kue khas kampung Papa. Rasanya enak, kenyal dalamnya isi kacang. Nanti kalau Alka nyobain pasti ketagihan," jelas Rain.


"Beneran, Pah? Nanti bawa yang banyak ya, Pah buat Dede Zia."


"Iya, Sayang! Tapi dede kan belum boleh makan kue itu. Paling juga buat Om dan Tante."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2