
Keluarga kecil yang belum tercatat di catatan sipil itu terlihat sedang bahu membahu membersihkan toko dari kekacauan yang preman itu lakukan. Sampai hari sudah menjelang malam, barulah mereka menghentikan kegiatan dan memutuskan untuk pulang. Sementara Radid sedang sibuk mengurus kasus Billy dan mamanya.
"Sayang, apa kamu lelah, Nak?" tanya Summer saat melihat Alka sedang duduk menyender ke meja kasir.
"Tidak Bunda! Alka ... Hoammm!"
Summer hanya tersenyum melihat kelakuan putranya. Dia pun segera menggendong Alka dan menghampiri Rain yang masih menyusun barang-barang. "Rain, kita pulang saja, yuk! Biar besok dilanjutkan sama yang kerja."
"Ya sudah ayo! Sepertinya putra Papa sudah ngantuk," ucap Rain seraya mengelus lembut rambut Alka.
Bukannya menyahut ucapan Rain, Alka justru semakin mengeratkan pelukannya pada Summer dan memejamkan matanya. Anak laki-laki itu sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya yang mendera.
"Summer, duluan saja kamu ke mobil. Aku akan membereskan ini dulu sebentar," suruh Rain seraya dia memberikan kunci mobil.
"Ya sudah aku tunggu di mobil ya!" sahut Summer seraya mengambil kunci mobil dan berlalu pergi menuju ke parkiran.
Summer sedikit kesusahan saat dia membuka pintu mobil. Namun Rain secepatnya menyusul dia dan membukakan pintu mobil. Dia pun langsung menuju kemudi setelah memastikan Summer dan Alka duduk dengan nyaman.
Perlahan roda empat itu keluar dari parkiran. Namun sesaat kemudian, Rain langsung melajukan dengan kecepatan yang lumayan tinggi agar cepat sampai di rumah Radid. Dia melirik ke arah yang terlihat kelelahan tidak jauh beda dengan Alka.
Seandainya aku tidak terlambat menemukanmu, mungkin semua kejadian ini, tidak akan pernah ada. Summer, apapun yang akan terjadi, aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu ada untuk kamu dan akan aku pastikan, kamu akan mendapatkan keadilan, batin Rain.
Tidak berapa lama kemudian, mobil yang Rain bawa sudah sampai di depan rumah Radid. Rain pun segera turun dan menggendong Alka. Sementara Summer mengikuti Rain dengan lunglai di belakang laki-laki itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Rain saat sudah sampai di depan pintu Radid.
Tidak lama kemudian, pintu depan ada yang membuka dari dalam. terlihat Hana menyambut kedatangan mereka. Ibu hamil itu hanya tersenyum tipis pada Rain.
"Langsung bawa ke kamar saja ya!" suruh Hanna dengan memberikan jalan pada Rain.
"Iya, Mbak!" sahut Rain seraya berlalu menuju ke kamar Summer.
Hanna hanya menghela napas dalam saat melihat Summer yang berjalan lunglai. Dia oun mengajak Summer untuk duduk di sofa. Sampai akhirnya dia membuka suaranya.
__ADS_1
"Summer, kamu tidak apa-apa kan? Bagaimana dengan yang lain? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Hanna dengan melihat ke arah Summer.
"Semuanya baik mbak. Hanya saja, toko yang berantakan. Aku sudah membereskan baju-baju yang masih bagus dan membuang baju-baju yang sudah tidak berbentuk lagi," jelas Summer.
"Sudah tidak apa-apa! Yang penting kalian baik-baik saja. Soal baju tidak usah dipikirkan lagi," ucap Hanna dengan mengelus tangan Summer.
"Maafkan aku, Mbak. Semua ini terjadi karena aku," sesal Summer dengan meremass jari jemarinya.
"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri! Mbak tidak pernah menyalahkan kamu. Anggap saja, semua ini sebagai musibah, sebagai ujian dari Allah agar kita lebih taat lagi kepada-NYA."
"Terima kasih Mbak! Aku sangat beruntung memiliki Mbak dan Bang Radid." Summer langsung memeluk Hana dengan keharuan yang memenuhi dadanya. Dalam hatinya dia berdoa, semoga orang-orang yang telah baik dan tulus sayang kepadanya akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.
"Hm ... Aku jadi iri, Mbak. Kenapa aku tidak mendapatkan pelukan dari Summer?" goda Rain yang baru saja datang setelah menidurkan Alka.
"Mana boleh, Rain? Kalian tuh belum halal. Kamu harus sabar sampai masa iddah Summer selesai," tegur Hanna dengan menguraikan pelukannya pada Summer.
"Kalau Summer sudah selesai masa iddah-nya, berarti aku sudah boleh langsung menikahinya ya, Mbak?" tanya Rain dengan mengerlingkan matanya pada Summer.
"Apaan sih kamu Rain? Siapa juga yang mau nikah sama kamu?" Summer balik menggoda mantan kekasihnya.
"Iya nih, Mbak. Summer tega sekali sama aku. Padahal selama ini aku sudah cinta mati sama dia," ucap Rain dengan memelas.
"Salah kamu sendiri, khianati aku."
"Iya aku salah. Aku sangat menyesal dengan kebodohan aku waktu itu."
"Sudah sudah! Lebih baik kalian makan saja dulu! Mbak mau istirahat, jam segini bawaannya sudah mengantuk." Hana pun langsung beranjak pergi menuju ke kamarnya meninggalkan dua insan yang saling mencintai.
"Ayo, Rain kita makan dulu!" ajak Summer dengan beranjak pergi menuju ke ruang makan.
Rain hanya mengikuti langkah kaki Summer. Hatinya merasa sangat bahagia karena dia merasa seperti saat dulu mereka masih bersama. Sering menikmati makan malam berdua tanpa ada orang yang menggangu.
"Mau makan sama apa?" tanya Summer saat sudah duduk dan siap mengambil nasi untuk Rain.
__ADS_1
"Aku sama ikan goreng, lalap sambal sama tahu tempe," jawab Rain dengan terus saja melihat wajah cantik ibu dari putranya.
Sementara Summer dengan sigap mengambilkan makanan untuk Rain. Sudah bukan hal yang aneh kalau Rain sering memperhatikannya. Bahkan, saat Summer sedang tidur pun, Rain suka sekali menikmati keindahan yang Tuhan suguhkan di depan matanya.
"Rain, kamu tidak berubah! Selalu saja melihat aku seperti itu," ucap Summer seraya menyimpan piring yang berisi nasi dan lauk seperti apa yang Rain minta.
"Terima kasih Bunda Cantik!" Bukannya menanggapi ucapan Summer, Rain justru menggoda wanita cantik itu.
"Rain, makan dulu. Nanti keburu habis loh jam kunjung-nya," ucap Summer seraya mengambil nasi dan lauk untuknya.
"Memang dibatasi?" tanya Rain kaget.
"Iya, apa kamu lupa waktu itu pernah disuruh pulang oleh Abang. Di sini batas tamu hanya sampai jam sembilan malam," jelas Summer.
"Ya sudah, ayo kita makan!"
Akhirnya mereka pun makan dalam diam setelah Rain memimpin doa terlebih dahulu. Mereka terlihat begitu lahap menikmati hidangan yang tersedia. Sampai akhirnya Radid datang memecah kesunyian di antara keduanya.
"Rain, masih di sini?" tanya Radid yang baru saja datang.
"Iya, Bang. Aku numpang makan," jawab Rain dengan tersenyum malu ketahuan tuan rumah.
"Lanjutkan saja. Abang mau mandi dulu. Oh iya Rain, jangan pulang dulu! Ada hal yang ingin Abang bicarakan," ucap Radid.
"Baik, Bang."
Radid pun segera menuju ke kamarnya. Persoalan Summer dan kekacauan di toko membuat dia terpaksa harus lembur untuk menyiapkan berkas-berkas tuntutan pada Keluarga Mahendra. Sementara Summer hanya menatap dalam punggung kokoh sepupunya. Dia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
"Maafkan aku, Bang! Karena masalah aku, kalian harus terlibat.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....