
Acara jalan-jalan yang diharapkan akan menghilangkan kepenatan dari rutinitas. Justru membuat Summer menjadi banyak pikiran. Dia terus saja memikirkan pertemuan yang tidak sengaja Rain dengan putranya. Apalagi, Alka sepertinya saat bahagia bertemu dengan laki-laki yang merupakan ayah biologisnya.
"Summer, dimakan dong! Kenapa hanya diaduk saja makanannya," tegur Billy menatap lekat ke arah Summer. "Apa mau aku suapi?"
"Tidak usah, Bang. Aku makan sendiri saja. Aku hanya sedang kepikiran untuk memasukkan Alka sekolah." Bohong Summer.
"Kenapa? Apa kamu kebingungan untuk pembuatan akte kelahiran Alka?" Billy menatap dalam wajah cantik yang terlihat seperti banyak pikiran.
"Tawaran aku masih sama, Summer. Aku masih menunggu sampai kamu menjawab iya. Kalau kamu menyetujuinya, aku bisa memasukkan Alka ke dalam kartu keluarga kita. Mereka tidak akan tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya sama kamu. Hanya kita, Bang Radid dan Mbak Hanna yang mengetahuinya."
"Aku ... Aku masih belum memiliki jawaban itu, Bang." Summer menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menerima perasaan Billy, tapi Summer juga tidak bisa menolak lelaki itu mentah-mentah. Selama ini Summer berharap agar Billy menyerah dengan sendirinya, saat dia menawarkan sebuah persahabatan pada laki-laki itu.
"Tidak apa. Abang akan menunggunya sampai kamu berkata iya," ucap Billy dengan tersenyum. Dia menggenggam tangan Summer untuk menunjukkan kalau dia baik-baik saja.
"Bunda, Aka sudah kenyang," ucap Alka tiba-tiba. Bocah kecil itu sengaja mencairkan suasana yang terjadi di antara dua orang dewasa itu.
"Ayo, kita cuci tangan dulu!" ajak Summer langsung berdiri dari duduknya. Dia pun membawa Alka menuju ke wastafel yang disediakan oleh restoran tempat mereka makan.
Sementara Billy, hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Ada sedikit kesal di hatinya karena Alka mengganggu moments dia dengan Summer. Karena jarang sekali, laki-laki itu bis menggenggam tangan Summer seperti itu.
Sabar Billy! Itu resiko kamu karena menyukai janda beranak satu, batin Billy.
Tidak lama kemudian, Summer dan Alka kembali dari mencuci tangan bocah kecil itu. Billy pun menyambut ibu dan anak itu dengan tersenyum manis. Dia tidak mungkin memperlihatkan kekesalannya karena Billy juga bisa maklum karena Alka masih kecil dan tidak mengerti apa-apa.
"Bang, kalau makannya udah, kita pulang saja yuk! Bang Radid pasti khawatir kalau kita pulang kemalaman," ajak Summer.
"Ya sudah, ayo! Abang juga sudah selesai makannya." Billy langsung menyetujui ajakan Summer karena dia merasa ada hal lain yang Summer sembunyikan darinya. Akan tetapi, dia tidak tahu masalah apa yang mengganggu pikiran wanita cantik.
Selama perjalanan pulang, ketiganya tidak ada yang mengeluarkan suara. Alka yang tertidur kelelahan. Summer yang sedang asyik melamun dan Billy yang terus bergelut dengan pikirannya. Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di depan rumah berlantai dua yang terlihat asri.
Hanna yang sedang menyiram bunga di depan rumahnya, langsung menyambut kedatangan sepupu dan keponakannya. Begitupun dengan Radid yang sedang asyik merawat tanaman bonsainya.
__ADS_1
"Wah, Alka mainnya puas sekali ya! Dari pagi sampai petang," goda Radid seraya berjalan menuju ke mobil Billy.
"Mereka cocok sekali ya, Bang jadi ikon keluarga kecil yang bahagia," timpal Hanna menghentikan pekerjaannya.
Billy hanya tersenyum mendengar godaan dari pasangan suami istri itu. Karena memang dia sangat berharap bisa menikah dengan Summer. Namun, bertahun-tahun dia menunggu, wanita cantik itu belum juga bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain.
"Summer, biar Alka sama Abang saja. Kamu tunggu sebentar di sini," ucap Billy, saat Summer mau turun dari mobilnya.
"Iya, Bang!" sahut Summer yang langsung menyetujui usulan Billy.
Billy pun langsung mengambil alih Alka dan membawanya ke kamar. Sementara Summer hanya mengekor dari belakang. Yang sukses membuat kedua sudut bibir Radid terangkat sempurna melihat sikap Billy.
"Abang, siap jadi wali kamu," goda Radid lagi saat Summer melewati laki-laki itu untuk menyusul Billy yang masuk ke dalam kamarnya
"Apaan sih Bang?" Summer langsung pergi begitu saja meninggalkan Radid. "Oh, iya ini oleh-oleh buat Mbak Hanna."
"Makasih ya, Summer."
Setelah hari itu, Alka terus saja mengatakan kekagumannya pada Rain. Apalagi, nama mereka memiliki kesamaan. Tentu hal itu membuat Summer semakin pusing karena putranya selalu berharap ingin bertemu lagi dengan laki-laki yang dia tahu sebagai teman Billy.
"Bunda, nanti kayau Aka sudah besang, pasti miyip Om Yain. Dia ganteng Bunda. Baik juga, Om Yain bantu Aka ambiy mainan," ucap Alka untuk yang kesekian kalinya.
"Sayang, di dunia ini banyak orang yang memiliki nama yang sama. Kenapa Alka suka dengan orang yang baru ketemu satu kali. Kalau Alka di suruh pilih mau Om Billy atau om yang ketemu di toko mainan?" tanya Summer.
"Om Biyyi baik, tapi Aka yebih suka Om Yain, Bunda. Namanya sama dengan nama Aka. Bunda nanti kayau yibuy yagi, kita ke sana yuk! Biar ketemu Om Yain," ajak Alka dengan menggoyangkan tangan Summer.
"Iya, Sayang. Nanti kalau Bunda gajian ya!"
"Hoyeyy, tapi jangan ajak Om Biyyi! Aka mau kenayin Bunda sama Om Yain. Kayau Om Biyyi ikut, nanti Bunda gak boyeh main sama Om Yain."
Apa yang harus aku lakukan untuk mengalihkan perhatian Alka pada Rain. Maafkan Bunda Alka! Mungkin Bunda tidak bisa mengabulkan keinginan kamu untuk terus bertemu dengan papamu. Kita harus bisa menerima keadaan, kalau papa kamu tidak bisa kita miliki. Sepertinya aku harus mengikuti apa yang Bang Radid katakan. Mulai membuka hati untuk Billy agar perhatian Alka teralihkan dengan kehadiran papa sambungnya.
__ADS_1
Melihat ibunya yang melamun, Alka tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengambil ponsel Summer dan membuka aplikasi hijau yang selalu membuatnya penasaran. Dia mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya pada kontak yang pernah dia kirim gambar hati. Tentu saja hal itu membuat Summer terkejut saat dia sudah sadar dari lamunannya.
"Alka, jangan mainin ponsel Bunda!" tegur Summer seraya mengambil ponselnya dari tangan Alka.
"Nggak kho, nggak apa-apa!" kelit Alka.
"Beneran? Ya sudah, ayo kita tidur!"
Sementara itu, lagi-lagi rain merasa heran dengan pesan yang dikirim oleh penulis Lara kepadanya. Namun dia baru mengerti, saat Rain membaca pesan singkat itu. Mungkin anak penulis itu yang sering mengirim pesan singkat kepadanya.
AT Lara
[Bunda dan Alka]
^^^[Malam Kak, anak Kakak pintar sekali sudah pandai berkirim pesan]^^^
[Maaf, Kak. Putra saya suka memainkan ponsel. Maaf ya kak kalau ada pesan asal masuk]
^^^[Tidak apa Kak. Namanya juga anak-anak, kalau saya sudah punya anak,, mungkin juga kan seperti putra Kakak]^^^
Rain menunggu jawaban pesan dari penulis Lara, tetapi dia tidak mendapatkan balasan lagi. Akhirnya Rain memilih untuk memejamkan matanya. Namun bayangan anak kecil itu terus saja mengganggunya.
Kenapa aku sangat merindukan anak itu ya! Rasanya aku ingin bertemu lagi dengan dia, batin Rain.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Summer-Rain update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1