Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 71 Panggil Apih


__ADS_3

Wajah tampan Alka terlihat serius selama perjalanan menuju ke rumah neneknya. Dia terus saja berpikir, bagaimana caranya agar bisa merebut hati kakeknya. Sampai akhirnya Bu Astrid menyadari ketegangan di wajah cucunya.


"Jangan takut sama Kakek! Sebenarnya dia orangnya baik. Hanya saja, keputusan terkadang susah ditentang. Tapi Alka jangan khawatir, Nenek pasti akan berpihak pada Papa kamu," ucap Bu Astrid dengan mengelus lembut rambut Alka.


"Iya, Nek! Makasih sudah sayang Alka dan Bunda," ucap Alka sendu. Tanpa para orang tua sadari, sebenarnya Alka mengerti apa yang sebentar terjadi pada kedua orang tuanya.


"Iya, Sayang." Bu Astri menghentikan roda empatnya, saat sudah tiba di sebuah rumah yang besar dua lantai. "Alka, kita sudah sampai. Ini rumah nenek. Ayo kita turun!"


"Iya, Nek!" sahut Alka.


Bocah kecil itu langsung mengikuti ke mana Bu Astri membawanya. Dengan mata yang terus memperhatikan sekelilingnya, dia melangkahkan kakinya dengan begitu tergesa. Sampai akhirnya, dia bertemu dengan Tuan Altair yang sedang duduk di sofa dengan secangkir kopi di meja.


"Darimana saja, Bu? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Tuan Altair.


"Ibu habis mencari Rain. Tapi gak ketemu, malah mau menabrak anak ini. Ibu bawa pulang saja karena takut dihakimi masa." Bohong Bu Astrid dengan wajah tegangnya.


Menabrak hatinya maksudku, batin Bu Astrid.


"Astaga Ibu! Bisa hancur nama baik kita kalau Ibu menabrak anak itu. Tapi sebentar, bukannya dia ... Anak kecil yang sudah menolongku saat tadi siang tidak sengaja menjatuhkan dompet," ucap Tuan Altair dengan menelisik Alka yang berdiri di samping Bu Astrid dengan berpegangan tangan pada wanita cantik itu.


"Hallo, Tuan. Kita bertemu lagi," sapa Alka dengan tersenyum manis paa laki-laki paruh baya itu.

__ADS_1


"Iya benar, kamu Alka, kan?" tanya Tuan Altair dengan antusias yang sukses membuat istrinya kaget, karena ternyata cucu dan suaminya sudah saling mengenal.


"Ayah sudah kenal dengan Alka?" tanya Bu Astrid heran.


"Tentu saja! Dia itu malaikat penolong Ayah. Sini, Nak! Ayah senang bisa bertemu lagi dengan dia. Ibu tahu, didikan orang tuanya bagus sekali. Anak sekecil ini saja sudah mengerti kalau menolong orang itu harus tanpa pamrih. Andai saja bukan dia yang menemukan dompet Ayah, sudah pasti Ayah kelimpungan karena barang-barang penting Ayah ada di dompet itu." Tuan Altair membawa Alka untuk duduk di sampingnya. Dia mengelus lembut rambut Alka dengan tersenyum senang.


"Kata Bunda, menolong orang itu kewajiban kita tapi tidak boleh mengharapkan imbalan apapun. Karena kita pun pasti akan membutuhkan pertolongan orang lain." Alka tersenyum pada Tuan Altair yang sedang menatap ke arahnya.


"Ayah ingin sekali memiliki cucu seperti Alka. Coba saja kalau Rain mau menikah denan putrina Raihan, mereka dari keluarga baik-baik. Sekarang saja, Raihan jadi dewan rakyat. Sudah pasti dia terpilih karena memiliki latar belakang yang baik."


"Ayah tuh selalu saja silau dengan tahta. Itu yang ibu tidak suka dari Ayah. Tapi untung saja, Rain tidak menuruni sifat Ayah yang seperti itu," ketus Bu Astrid merasa kesal dengan cara pandang suaminya. "Ayo Alka, kita ke kamar saja. Malam ini Alka tidur dengan Nenek ya! Biar Kakek tua itu tidru sendiri di kamarnya."


Bu Astrid pun segera menarik tangan Alka. Namun, secepat kilat Tuan Altair menahan tangan istrinya. Dia tidak mengijinkan Bu Astrid membawa Alka secepat itu.


"Itu omahnya Alka, Tuan. Alka baru pertama kali ke sini karena Ayah dan Ibu selalu sibuk untuk pulang, jadinya Omah yang sering mengunjungi Alka ke kota." Dengan lancar Alka menjawab pertanyaan Tuan Altair.


Cerdas sekali cucuku, ternyata perpaduan gen Rain dan Summer sangat bagus, Hingga aku memiliki cucu yang pintar seperti Alka, batin Bu Astrid.


"Apa kamu putranya Radid yang bekerja di kejaksaan itu?"


"Iya, Tuan!"

__ADS_1


"Jangan panggil Tuan, Nak. Panggil saja Apih," pinta Tuan Altair.


"Loh, kho Apih sih? Kenapa gak kakek saja?" protes Bu Astrid tidak setuju dengan permintaan suaminya.


"Ayah tidak mau dipanggil kakek tua. Apa Ibu mau dipanggil nenek poet?" debat Tuan Altair.


"Ya sudah, nanti panggil Nenek dengan Amih ya, Sayang."


"Iya, Amih, Apih." Alka hanya tersenyum melihat perdebatan orang tua papanya.


"Apa Alka sudah makan malam? Ayo kita makan malam dulu! Ayah dari tadi menunggu Ibu untuk makan malam bersama," ajak Tuan Altair.


"Ayo, Sayang! Amih lupa kalau kita belum makan malam."


Alka pun hanya menurut pada Bu Astrid dan Tuan Altair. Dia terlihat bahagia karena mendapatkan sambutan baik dari sang kakek yang dia kira akan menolak kehadirannya. Sampai saat makan pun, Tuan Altair tidak segan untuk menyuapi anak kecil itu.


Kenapa aku merasa de javu, serasa sedang menyuapi Rain saat dia masih kecil dulu. Tapi dilihat-lihat, wajah Alka mengingatkan aku pada Rain. Mungkin karena aku terus memikirkannya, sehingga mengira anak ini mirip dengan putraku, batin Tuan Altair.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2