
Lain Yasmin, lain pula dengan Summer. Dua sahabat yang dulu begitu dekat seperti kepompongnya, kini saling bertentangan seperti kutub utara dan kutub selatan.
Summer terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Begitupun dengan Rain yang mengenakan jas pengantin. Sudah lebih satu jam mereka berada di depan kamera. Mencari pose yang pas untuk foto prewedding. Setelah fotografer merasa puas dengan hasil bidikannya, barulah keduanya menyudahi pengambilan gambar.
"Kamu lelah, Sayang?" tanya Rain dengan mengelus kening Summer yang mengeluarkan keringat.
"Aku tidak terbiasa. Kamu tahu sendiri kalau aku malas foto," jawab Summer dengan menghentikan tangan.
"Sehabis ini udahan kho! Kita bisa pulang. Tapi nanti mampir sebentar ke kantor ya! Tadi Regan meminta file yang aku simpan di brangkas."
"Iya, gak apa. Ganti baju yuk! Aku gerah," ajak Summer dengan berlalu pergi ke ruang ganti.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Rain langsung mengikuti ke mana Summer pergi. Tentu saja hal itu membuat wanita cantik mendengus kesal karena Rain masuk ke dalam ruang ganti bersamanya.
"Rain, kenapa ikut ke sini?"
"Bukannya kamu, tadi mengajak ganti baju? Aku hanya mengikuti ajakan kamu."
"Maksud aku, kamu di ruangan sebelah, Rain. Bukan di sini."
"Bukannya sama saja? Kita kan, sudah sama-sama tahu apa yang kita sembunyikan di balik baju."
"Astaga, Rain! Kamu tuh bicaranya ...." Summer langsung mendorong tubuh calon suaminya agar keluar dari ruang ganti yang dia tempati.
"Summer, sedikit aja. Aku kangen sama kamu," mohon Rain dengan wajah melas.
"Gak ada, Rain. Bukankah kita sudah berjanji untuk memperbaiki semuanya?"
"Baiklah! Tinggal seminggu lagi, kan kita kan menikah? Nanti kita tiap malam ya!"
__ADS_1
"Tau akh!" Summer langsung masuk kembali ke ruang ganti dan mengunci pintunya.
Secepatnya dia pun mengganti baju. Setelah rapi berpakaian, keduanya pun langsung menuju ke kantor Rain setelah berpamitan pada orang-orang yang membantunya foto prewedding.
"Sayang, tunggu di ruangan aku ya! Aku mau ke ruangan Regan dulu," pamit Rain saat sudah sampai di kantornya.
"Oke. Aku lelah Rain, ingin istirahat dulu."
"Iya, Sayang!" Rain mengecup bibir Summer singkat sebelum dia pergi ke ruangan Regan.
Dia pun bergegas ke ruangan bosnya karena Regan berkali-kali menelponnya dan meminta dia agar datang secepatnya. Setibanya di ruangan Regan, terlihat laki-laki itu sedang serius dengan pekerjaannya.
"Sorry, Bos! Ini file yang kamu minta. Memangnya ada hal apa? Sepertinya ada hal yang penting," tanya Rain dengan wajah yang serius.
"Aku akan merubah kebijakan. Kita kebocoran dana karena ada penulis yang curang. Kamu cuti beberapa hari, kantor jadi kacau Rain. Besok kamu bisa kan masuk kerja. Kita akan adakan meeting darurat. Awal bulan depan harus sudah ada regulasi baru yang menguntungkan pihak kita dan juga penulis," ucap Regan dengan wajah yang serius.
"Regan, kalau kamu mau tegas, tegas sekalian. Kalau kamu membuat kebijakan yang abu-abu, malah yang tidak bersalah ikut menjadi korbannya. Sudahlah, yang curang turunkan saja ke level dasar atau takedown sekalian. Masih banyak kho penulis yang ceritanya bagus, hanya saja ceritanya tertimpa dengan cerita lain. Jadinya tidak bisa muncul."
"Dari itu, aku harap kamu bisa ikut meeting besok. Kamu editor senior di sini, pasti sudah tahu mana yang berkualitas dan mana yang tidak."
"Iya, aku pasti akan datang. Tapi sekarang aku mau pulang dulu. Kasian istriku menunggu di ruangan aku sendirian."
"Ck! Lagumu tuh, Rain. Mentang-mentang mau nikah, malah panas-panasin aku yang jomblo."
"Aku gak percaya kalau seorang Regan jomblo. Bukannya pacar kamu tersebar di setiap penjuru kota?" Rain tertawa pelan dengan apa yang dia ucapkan.
"Jangan menghina aku! Mau aku batalkan hadiah pernikahan kamu itu?"
"Memangnya, kamu mau kasih hadiah apa?" tanya Rain penasaran.
__ADS_1
"Hanya Fortuner. Itu pun kalau kamu mau, kalau gak mau, bisa aku menggantinya dengan yang lain."
"Jangan Regan! Aku mau kado yang itu. Buat istriku mengantar sekolah Alka."
"Iya ... Iya ... Tapi jangan lupa besok masuk kerja!"
"Oke, Bos!" sahut Rain dengan bersemangat. "Aku pulang dulu ya!"
Dia terus tersenyum seraya berjalan menuju ke ruangannya. Dia merasa senang dengan kado pernikahan yang Regan janjikan. Sampai orang-orang yang bertemu dengannya merasa heran dengan sikap Rain yang berubah menjadi murah senyum.
"Kak Rain, kalau tersenyum begitu gantengnya berlipat-lipat. Bikin hatiku meleleh."
"Iya benar, beberapa bulan terakhir Kak Rain memang selalu terlihat cerah. Ternyata, dia mau menikah dengan cinta pertamanya. Kata Kak Beno, wanita yang akan menikah dengan Kak Rain itu seorang penulis loh."
"Memang iya? Apa dia pernah menulis di platformm kita?"
"Entahlah! Tapi tadi dia datang ke sini bersama dengan seorang wanita cantik. Mungkin itu calon isterinya."
Terus saja teman kerja Rain saling berbisik. Mereka memang sangat penasaran dengan kehidupan Rain yang selalu tertutup. Selain dengan teman dekatnya, Rain selalu bersikap formal pada teman kerjanya yang lain.
Sementara itu, darah Rain mendadak berdesir hebat saat melihat baju Summer yang tersingkap. Wanita cantik itu tertidur pulas di sofa ruang kerja Rain. Perlahan dia pun mendekat ke arah Summer dan berjongkok di bawah sofa.
Sepertinya Tuhan sedang bahagia saat dia menciptakan kamu. Buktinya, semua hal yang wanita lain inginkan, ada padamu. Kamu begitu sempurna, Summer.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1