Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 83 Rumpi Sebelum Tempur


__ADS_3

Pesta pernikahan yang meriah itu pun telah usai. Semua tahu sudah kembali pulang. Hanya menyisakan sahabat terdekat Rain dan keluarga, yang memang sengaja mem-booking kamar di hotel itu. Mereka masih asyik bercengkrama saling bertukar cerita dan pengalaman saat malam pertama.


Terlihat Beno menyeruput minuman yang ada di depannya lalu bertanya, "Rain, kamu sudah minum jamu kuat belum? Atau tissue magic sudah siap?"


"Aku gak butuh semua itu, Beno! Meskipun sudah lama tidak diasah, tapi aku yakin tongkat baseball aku masih jitu dan bisa mencetak poin."


"Jangan dengarkan, Beno! Masa kita-kita yang masih muda dan rajin olahraga, benda pusakanya udah tidak berfungsi baik," timpal Juki. "Tapi kasian Bos Besar kita, dia belum menggarap ladang karena istrinya belum kelulusan sekolah, Hahaha ...."


Seketika tangan besar Elgar melayang menggeplak pelan kepala Juki. Dengan mata yang menatap tajam pada Juki. Tentu saja semua orang yang ada di sana begitu terkejut karena mereka berpikir Elgar tersinggung dengan ucapan Juki.


"So-sorry ... Aku hanya bercanda!" sesal Juki seraya mengelus kepalanya.


"Hahaha ... Aku juga hanya bercanda." Elgar tertawa lepas melihat ekspresi dari semua sahabatnya.


"Bang El tuh kadang-kadang. Sebelas dua belas sama Opa-nya. Kata Opa aku juga, sifat Bang Elgar hampir mirip dengan Opa-nya," ucap Orion dengan mencebikkan bibirnya.


"Sudahlah! Aku mau ke kamar dulu. Istriku pasti sudah menunggu di sana. Kalian lanjutkan saja rumpinya," tukas Rain seraya bangun dari duduknya.


"Ya kali emak-emak, kita rumpi katanya. Aku juga mau ke kamar saja, istriku pun pasti sudah menunggu di kamar." Juki pun mengikuti Rain yang sudah pergi lebih dulu. Akhirnya mereka membubarkan diri menuju ke kamarnya masing-masing.


Sementara Rain, jantungnya terus saja memompa darah lebih cepat dari biasanya. Meskipun ini bukan pengalaman pertama baginya. Tapi ini pertama kalinya dia melakukan ibadah bersama-sama dengan istrinya.


Perlahan Rain membukakan pintu kamar. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna saat melihat Summer sedang duduk di sofa seraya memainkan ponselnya. Dia pun menghampiri wanita cantik itu, yang kini sah menjadi istrinya.

__ADS_1


"Sedang apa, Sayang?"


"Ini, Alka mengirim pesan. Katanya dia tidur bersama dengan Ayah dan Ibu," jawab Summer dengan melihat ke arah Rain.


"Begitu ya! Beruntung sekali kita memiliki putra yang baik dan pintar seperti Alka. Meskipun dia terlahir dari cara yang salah. Sayang, bagaimana kalau kita mulai memperbaiki kesalahan itu mulai dari sekarang."


"Caranya?"


"Kita melakukan hal itu bukan semata-mata untuk menyalurkan hawa napsu tapi karena Allah. Ayo kita berdoa dulu sebelum melakukannya!"


"Apa kamu hapal do'a-nya?"


"Tentu saja, dulu kita sering lupa tapi sekarang tidak boleh lupa lagi untuk berdo'a dulu."


Perlahan Rain pun mendekatkan wajahnya. Hingga hembusan napas Summer terasa hangat di wajahnya. Aroma mint menguar lembut dari hembusan napas wanita yang dicintainya.


Rain memejamkan matanya, begitupun dengan Summer. Sampai kedua benda kenyal itu saling menyapa satu sama lain. Keduanya sama-sama terbuai menikmati sensasi yang sudah lama tidak mereka rasakan.


Malam yang dingin dengan deburan ombak yang saling bersahutan, mereka lewati dengan penuh gairah. Saling menyalurkan rasa yang tersimpan rapi di hati.


...***...


Keesokan harinya, Rain dan Summer terbangun oleh suara gedoran pintu kamarnya. Keduanya terlonjak kaget dan langsung lari tunggang langgang tanpa sehelai benang pun menuju ke toilet, saat mereka mendengar suara teriakan Alka di luar kamar.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kita ke sini semua?" tanya Rain bingung sendiri.


"Astaga! cepat pakai jubah mandi dan buka pintu. Alka pasti menunggu kita. Aku mandi duluan ya!" suruh Summer.


Rain pun hanya menurut dengan apa yang Summer katakan. Dia langsung membuka pintu kamar. Terlihat di sana Alka dan ayahnya berdiri di depan pintu.


"Papa, Dede bayi sudah lahir. Tadi Alka telpon ayah, katanya adik Alka laki-laki. Ayo papa, kita lihat adik bayi!" ajak Alka dengan antusias.


"Alka berangkat sama Apih saja. Lihat papa kamu masih berantakan begitu. Apih yakin kalau dia belum mandi," selidik Tuan Altair melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala putranya.


"Ayah tahu saja." Rain menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Alka berangkat duluan sama Apih dan Amih ya! Nanti Papa nyusul sama Bunda.".


"Ya udah deh!" sahut Alka cemberut. Dia jadi merasa sedikit tersisih karena Papa dan Bundanya selalu berdua dan tidak mengajaknya.


"Sayang, sepulang dari melihat adik bayi, kita jalan-jalan ke dunia fantasi ya! Alka jangan pulang dulu sebelum Papa dan Bunda datang."


Wajah sedih Alka kembali terlihat bahagia dengan apa yang dikatakan oleh papanya. Dia merasa bahagia bisa bersama dengan kedua orang tuanya. Alka pun langsung melompat ke arah Rain dan mencium pipi laki-laki yang menjadi panutannya.


"Makasih, Papa. Alka berangkat duluan sama Apih," pamit Alka.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2