Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 40 Demam Tinggi


__ADS_3

Tanpa ada rasa lelah sedikit pun, Rain terus saja menjaga putranya. Dia berulang kali mengganti kompres Alka. Obat penurun panas pun sudah dia berikan. Namun, bukannya turun, suhu badan Alka semakin tinggi, saat efek obatnya sudah hilang.


Rain yang panik melihat keadaan putranya, langsung membereskan baju Alka dan berniat membawa anak kecil itu ke rumah sakit. Dia tidak peduli dengan Summer dan Billy yang masih sibuk melayani tamu yang berdatangan. Karena dia yang akan menjaganya sendiri.


"Rain, Alka mau di bawa ke mana?" tanya Summer yang melihat Rain menggendong Alka keluar dari kamar dengan tas jinjing yang dia bawa di tangannya.


"Ke rumah sakit. Kamu lanjutkan saja pestanya! Aku dan putraku tidak akan menggangu kebahagian kalian," sarkas Rain dengan bergegas pergi.


"Tunggu Rain, aku ikut! Aku ganti baju dulu sebentar."


"Aku tunggu di mobil," ucap Rain datar. Dia pun pergi ke luar rumah Radid lewat pintu samping. Karena di depan terlihat masih banyak tamu.


Sementara, Summer langsung mengganti bajunya. Terlihat lemari Alka yang berantakan. Summer yakin kalau Rain yang sudah mengacak-acak lemari putranya.


Maafkan Bunda, Nak! batin Summer dengan menitikkan air matanya.


Setelah berpakaian lengkap, dia pun segera menemui Radid dan Billy yang masih berbincang di depan. Meskipun Summer nampak ragu, tetapi dia memberanikan diri untuk berbicara pada mereka tentang Alka.


"Summer, kenapa sudah ganti baju? Kamu mau ke mana?" tanya Billy yang lebih dulu menyadari keberadaan Summer.


"Bang, aku harus pergi ke rumah sakit. Alka demam tinggi," ucap Summer.


"Bukankah sudah ada laki-laki itu yang menjaga putramu? Ingat Summer, ini hari pernikahan kita! Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku di sini?" ketus Billy.


"Apa demam Alka semakin tinggi?" tanya Radid yang ikut cemas.


"Iya, Bang. Dia butuh aku untuk merawatnya. Bukan orang lain. Aku harapa Bang Billy mengerti," ucap Summer dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku juga butuh kamu Summer. Baru saja kita menikah, kamu sudah berani menentang aku."


"Maaf Billy! Semua ini di luar rencana. Abang harap kamu bisa mengerti keadaannya. Summer, pergilah lebih dulu! Nanti Abang menyusul ke sana," suruh Radid.

__ADS_1


"Baik, Bang! Aku pergi duluan!" Summer pun langsung beranjak pergi tanpa menunggu persetujuan Billy. Dia tahu kalau dia berdoa sudah menentang suaminya. Tapi rasa sayang Summer pada putranya membuat dia tidak memperdulikan hal itu.


Ya Allah ampuni hamba atas semua dosa-dosa hamba, batin Summer.


Sesampainya di mobil, terlihat Rain yang sedang duduk seraya memangku putranya. Laki-laki itu terlihat rapuh dengan terus mengelus rambut lebat Alka. Sungguh hatinya terasa hancur melihat keadaan putra semata wayangnya yang tidak berdaya.


"Rain, biar Alka sama aku!" Summer merentangkan tangannya agar Rain memberikan Alka kepadanya.


"Terima kasih," ucap Rain pelan.


Dia pun segera memberikan Alka dan berpindah ke depan kemudi. Setelah dirasa siap, dia pun segera melajukan kendaraannya, membelah jalanan yang terlihat lengang. Sesekali dia melihat ke arah belakang melalui kaca depan yang menggantung. Dia hanya bisa menghela napas dalam saat melihat Summer sedang menangis sambil memeluk Alka.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun sudah sampai di rumah sakit terdekat. Sebuah rumah sakit daerah yang terawat dengan baik. Rain pun segera mengehentikan mobilnya di depan ruang IGD.


"Mas, tolong putra saya demam tinggi!" mohon Rain pada perawat laki-laki yang berjaga di sana.


Perawat itu pun segera mengambil brangkar dan membantu Rain yang menggendong Alka keluar dari mobil. Setelah memastikan putranya yang tertidur di brangkar, laki-laki itu pun segera memarkirkan mobilnya. Sementara Summer langsung mengikuti ke mana perawat itu membawa Alka.


"Mbak, silakan tunggu di luar! Kami akan memberi tindakan dulu pada putra Anda," ucap perawat sebelum dia menutup pintu ruang IGD.


Summer terus saja melihat ke arah pintu ruang IGD. Hatinya benar-benar cemas dan gelisah. Dia takut terjadi hal yangtidak diinginkan pada Alka. Sampai akhirnya Rain datang menghampirinya.


"Summer duduklah! Lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Alka," ucap Rain seraya menarik Summer agar duduk di kursi tunggu.


"Rain, apa admisnistrasi-nya sudah diurus?" tanya Summer melirik ke arah Rain yang kini duduk di sampingnya.


"Sudah! Summer, apa dari semalam Alka sudah demam?" tanya Rain dengan melihat ke arah Summer.


"Tidak, semalam dia masih baik-baik saja. Hanya saja, dia terus merengek agar aku membatalkan pernikahanku. Dia marah saat aku tidak bisa menyetujui keinginannya. Apa aku terlalu egois dengan tidak memperdulikan perasaannya?" ucap Summer dengan menundukkan kepalanya.


"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri! Bukan hanya kamu yang bersalah pada Alka. Tapi aku pun sangat bersalah pada dia. Karena keegoisan kita, anak kita yang menjadi korbannya. Semoga saja, Alka cepat sembuh dan bisa menerima Billy sebagai ayah sambungnya."

__ADS_1


Meskipun sebenarnya aku juga tidak suka melihat kamu bersama dengan Billy. Tapi demi kebahagian kamu, aku berusaha mengikhlasakannya, batin Rain.


Summer hanya melihat ke arah Rain. Laki-laki berwajah teduh itu terlihat menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan menumpu pada pahanya. Summer bisa merasakan kekalutan hati Rain yang tidak jauh beda dengan dirinya. Namun, laki-laki itu berusaha bersikap tenang di depannya.


Tidak lama kemudian, seorang dokter ke luar dari ruang IGD. Summer dan Rain pun segera menghampirinya. Mereka segera memberondong dokter muda itu dengan berbagai pertanyaan.


"Dokter, bagiamana keadaan putra saya?"


"Dokter, apa Alka baik-baik saja?"


"Dokter, apa panasnya sudah turun?"


"Dokter, apa kami bisa melihatnya sekarang?"


Dokter yang merasa bingung dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, segera mengangkat kedua tangannya, sehingga Summer pun mengurungkan niatnya saat dia kan bertanya kembali.


"Tenang, Mas, Mbak! Putra Anda sudah mendapatkan penanganan dari kami. Suhu tubuhnya masih empat puluh dua derajat. Tapi kami sudah memberikan obat untuk menurunkan suhu tubuhnya lewat infus. Semoga saja, obatnya cepat bereaksi. Kami juga sudah mengambil sampel darah untuk diperiksa di lab. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," jelas dokter panjang lebar.


"Baik, Dok Terima kasih! Apa kami sudah bisa melihatnya?" tanya Summer dengan wajah cemasnya. Bagaimana tidak cemas. Suhu tubuh Alka sangat tinggi.


"Silakan, Mbak. Kalau begitu saya permisi!" pamit dokter itu.


Rain dan Summer pun segera masuk ke ruang IGD. Terlihat Alka yang masih tidur dengan infus yang terpasang di tangan bocah kecil itu. Summer pun langsung meraih tangan itu dan menciumnya.


"Maafkan Bunda, Sayang! Alka cepat sembuh ya, Bunda sayang sama Alka."


"Maafkan Papa juga, Nak. Papa terlambat membaca pesan yang kamu kirimkan. Seandainya Papa membacanya tepat waktu, mungkin saja ...." Rain tidak melanjutkan ucapannya. Dia hanya mengelus lembut rambut putranya.


Mungkin saja, Papa akan melakukan rencana gila untuk menggagalkan pernikahan Bunda kamu, lanjut Rain dalam hati.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kakak! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2