
Layaknya anak baru gede yang sedang kasmaran, Rain terus saja tersenyum sendiri. Berjalan beriringan dengan Summer. Hatinya merasa sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa pergi berdua dengan wanita yang dicintainya.
"Rain, kita beli baju di toko Sunrise saja. Biasanya aku beli di sana kalau beli baju buat Alka," saran Rain.
"Boleh! Aku ikut saja ke mana kamu pergi," sahut Rain dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Ya sudah yuk!" ajak Summer seraya menarik tangan Rain agar masuk ke dalam toko yang dituju.
Rain tidak menyahut ucapan Summer. Dia hanya melihat tangan ramping itu sedang memegang tangannya. Sungguh Rain sangat merindukan kebersamaannya dengan Summer. Andai saja, waktu dapat dia putar kembali, Rain tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, sehingga harus kehilangan orang yang dicintanya.
"Rain, menurut kamu, baju yang ini bagus gak?" tanya Summer membuyarkan lamunan Rain. Dia memperlihatkan baju yang menurutnya cocok untuk Alka.
"Bagus, tapi sepertinya Alka cocok dengan baju detektif. Ayo kita ambil semua baju yang cocok untuk Alka!" ajak Rain langsung mengambil semua baju yang menurutnya pas untuk putranya.
Summer mengerutkan keningnya melihat apa yang Rain lakukan. Bukankah laki-laki itu mengajaknya karena dia bilang tidak tahu persis ukuran putranya? Tapi kenapa setiap yang Rain itu ambil memang ukuran baju Alka.
"Rain, sudah cukup! Lebih baik kita bergegas pulang," ajak Summer menghentikan tangan Rain yang akan mengambil kembali baju-baju dengan berbagai motif dan model yang ada di toko itu.
"Tapi ini lucu, Bun! Pasti Alka tambah ganteng kalau pakai baju ini," kekeh Rain segera memasukkan ke dalam keranjang.
"Ya sudah ini yang terakhir," ucap Summer pasrah.
Akhirnya dia hanya mengikuti Rain mengambil semua baju yang ingin dibelinya. Setelah merasa puas, Rain pun menarik tangan Summer menuju ke kasir untuk membayar semua belanjaannya.
Summer sempat kaget saat Rain mengeluarkan kartu debit platinum. Dia pun melihat ke arah Rain. Namun sepertinya laki-laki itu tidak menyadari kalau dia menjadi pusat perhatian wanita yang dicintainya.
"Summer, kita makan dulu ya! Perutku lapar sekali," keluh Rain.
"Ya, sudah! Tapi jangan lama ya!" pinta Summer dengan mengikuti ke mana Rain akan membawanya.
__ADS_1
Sampai di sebuah rstoran yang menyajikan makanan nusantara, mereka pun memilih tempat duduk lesehan. Rain menyimpan barang belanjaan yang dia bawa tepat di sampingnya, sedangkan Summer duduk tepat di depan Rain. Tidak lama kemudian, pelayan pun datang untuk mencatat pesanan mereka.
"Mbak, ayam rica-rica dua, udang tempura dua, sama minumnya es greentea dan jus jeruk," pesan Rain tanpa menanyakan dulu pada Summer.
"Baik, Mas. Ditunggu ya!" ujar pelayan itu kemudian berlalu pergi.
"Rain, memnag kamu yakin aku akan memakannya?"
"Aku yakin, mungkin orang akan berubah sifat dan prilakunya, tetapi selera makan pasti akan sama." Rain tersenyum pada Summer sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Oh iya, aku mau menitipkan sesuatu kamu. Ini untuk Alka, tapi kamu pun boleh memakainya. Setiap bulan pasti akan aku isi." Rain mengeluarkan dompetnya dari kantong celana. Kemudian dia mengambil sebuah kartu platinum dan menyimpan kartu itu di depan Summer.
"Rain, ini tidak perlu. Aku masih bisa membiayai hidup Alka meskipun tanpa bantuan kamu," tolak Summer mendorong kembali kartu itu.
"Summer, aku tahu kamu wanita yang hebat. Tapi ini bentuk ungkapan rasa sayang dan tanggung jawab aku pada putraku. Aku menitipkan padamu, takut suami kamu nanti merasa keberatan membiayai Alka.Walau bagaimana pun, Alka bukan anak kandung Billy tapi anakku. Aku mohon jangan menolaknya!"
"Tapi Rain, aku ...."
Keduanya pun jadi sama-sama diam. Melihat Pelayan yang sedang menyusun makanan dia atas meja, sehingga mau tidak mau Summer menyimpan baik-baik kartu pemberian dari Rain untuk putranya.
Selesai keduanya menikmati hidangan yang tersedia, Summer pun mengajak Rain untuk cepat-cepat pulang. Pikirannya jadi tidak menentu. Summer mendadak kepikiran Billy. Bagaimana kalau calon suaminya itu melihat dia jalan dengan Rain? Summer berharap semoga Billy belum mengetahui tentang Rain yang ternyata ayah kandung Alka.
"Rain, bisa lebih cepat tidak bawa mobilnya?" tanya Summer saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Kamu kenapa, gelisah begitu?" tanya Rain dengan mengulurkan tangannya mengelus lembut rambut Summer.
"Rain, jangan seperti ini!" Summer pun segera menghentikan tangan Rain.
"Sorry, aku selalu lupa kalau sekarang kita bukan kekasih. Karena aku sudah terbiasa dengan kamu," ucap Rain dengan melirik sekilas ke arah Summer.
__ADS_1
Summer tidak menyahut ucapan Rain. Dia hanya memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela. Entahlah, pikirannya benar-benar sedang tidak menentu. Hingga akhirnya dia sampai di depan rumah Radid, Summer hanya bisa menghembuskan napasnya kasar saat melihat mobil Billy terparkir di luar pagar
"Rain, aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa mengajak kamu mampir," sesal Summer.
"Kenapa? Kamu takut Billy salah paham? Kalau aku bilang Billy punya wanita lain, apa kamu akan percaya?" Rain menatap dalam Summer.
"Entahlah, aku akan percaya kalau sudah terlihat oleh mata kepala aku sendiri." Summer segera keluar dari mobil Rain.
"Oke, aku mengerti!"
Baru saja Rain keluar dari mobilnya, sebuah tinjuan mentah langsung mendarat di wajahnya. Rupanya Billy sudah mengetahui kedatangan mereka, sehingga dia bergegas menghampiri keduanya.
"Bang Billy, jangan!" teriak Summer saat melihat Billy akan menyerang Rain kembali.
"Kenapa? Kamu membela bajingann ini? Aku kerja matia-matian untuk pesta pernikahan kita, kamu malah asyik-asyikan berselingkuh dengan mantan kamu. Di mana hati nurani kamu Summer?" tanya Billy dengan nada tinggi.
"Jangan sok suci brengsekk! Kamu pikir, aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakang Summer, hah?" sentak Rain balik.
"Kamu jangan menuduh orang kalau tidak punya bukti, bajingann!"
Sial! Kenapa waktu itu aku tidak memotret dia dan cewek itu. Kalau sudah begini, aku tidak punya bukti untuk membuktikan kelakuan Billy waktu itu, batin Rain.
"Sudah hentikan! Lebih baik kalian pulang," usir Radid yang keluar rumah mendengar teriakkan Summer. "Kalian boleh kembali ke sini kalau kalian sudah bisa tenang. Abang tidak suka ada keributan di rumah Abang. Tidak baik dilihat orang, terutama oleh Alka, karena anak kecil akan lebih cepat meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa."
"Baik, Bang. Aku minta maaf! Summer, aku titip Alka," pamit Rain langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Pergilah bajingann! Sejauh yang kamu bisa dari kehidupan calon istriku."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....