
Pagi hari yang seharusnya diawali dengan semangat baru, kini Summer awali dengan kekesalan yang membuncah di dadanya. Bagaimana tidak, saat dia terbangun dari tidurnya, dia harus mendapatkan kenyataan yang membuat darahnya mendadak mendidih seketika. Saat tanpa sengaja membaca chatting yang Alka tulis pada Editor March.
Ingin rasanya dia memarahi Alka. Tetapi putranya masih tertidur lelap dengan pulas-nya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan permintaan maaf pada editor itu.
Send to Editor March
^^^[Halo Kak, maaf Kak,^^^
^^^semalam anakku yang main ponsel]^^^
[Tidak apa, Kak. Anak kakak pintar sekali. Salam ya buat anaknya]
^^^[Baik, kak. Terima kasih]^^^
[Sama-sama]
Summer tidak membalas lagi pesan dari editor itu. Dia melihat ke arah jam dinding yang menggantung. Rupanya masih sangat pagi untuk dia mengirim pesan pada orang lain, karena jam baru menunjukkan angka empat.
Ternyata masih sangat pagi, tapi Kak March sudah bangun. Kenapa aku jadi teringat pada Rain. Dia pasti pulang dari rumahku saat sudah jam empat. Meskipun dia bangun lebih pagi dari itu. Oh Tuhan ... Kenapa aku tidak bisa melupakan dia? Begitu banyak kenangan yang membekas di hatiku.
Summer segera beranjak pergi ke kamar mandi. Tanpa sengaja berpapasan dengan Radid yang akan pergi ke mesjid. Kakak sepupunya itu memang tergolong orang yang taat beribadah, Namun laki-laki itu tidak menghakimi saat Summer melakukan kesalahan besar itu.
Dia justru mengayomi adiknya dan membimbing Summer agar bisa berubah menjadi lebih baik. Berkat kesabaran dan bimbingan Radid, Summer pun akhirnya melakukan taubat nasuha dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Mau subuh, Dek? Abang ke mesjid dulu," pamit Radid.
"Iya, Bang. Apa Mbak Hanna sudah bangun?" tanya Summer lagi.
"Sudah, tadi sedang bersiap. Abang berangkat sekarang."
Summer hanya melihat punggung kokoh itu hilang di balik pintu. Dia merasa sangat bersyukur karena memiliki saudara yang peduli padanya seperti Radid. Mungkin hanya keluarga Radid yang selalu perhatian padanya. Karena saudara yang lain, sudah seperti orang asing.
__ADS_1
Selesai dia membersihkan dirinya, Summer pun kembali ke kamarnya untuk menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Bersamaan dengan Alka yang bangun dari tidurnya. Bocah kecil itu hanya melihat ke arah bundanya dengan satu tangannya menggosok mata.
"Bunda ...," panggil Alka pelan.
Summer melihat ke arah putranya. Dia meminta Alka untuk datang menghampirinya. Tanpa diminta dua kali, Alka langsung menghampiri bundanya yang masih bersimpuh di atas sajadah.
"Boleh Bunda tanya sesuatu?" tanya Summer dengan nada lembut.
"Tanya apa, Bunda?"
"Kenapa Alka mengirim pesan pada bos Bunda? Alka tahu, kalau bosa bunda itu marah bagaimana? Kalau nanti pekerjaan Bunda dipersulit bagaimana? Terus kalau sampai Bunda tidak boleh kerja lagi bagaimana? Bunda bisa dapat uang dari mana kalau tidak kerja?"
"Tapi Om Yain baik, Bun. Om Yain malah mau jadi papanya Aka. Papa boong-boongan, Bun. Aka sama Om Yain lagi main anak dan papa boongan," jelas Alka apa adanya.
"Apa maksud Alka? Om Yain? Namanya March, bukan Yain."
"Itu, Om Yain yang pernah ketemu sama Aka di toko mainan. Bunda sih gak tahu. Coba Bunda tahu, pasti Bunda suka sama Om Yain. Oyangnya baik, mau bantu Aka ambing mainan."
"Alka coba tulis nama Om Yain itu," suruh Summer karena sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh putranya.
"Sebentang, Aka tuyis dulu!" Alka pun segera bangun dari duduknya. Dia mengambil pulpen dan kertas yang ada di meja belajar Summer.
Meskipun Alka belum bisa menulis dengan rapi, tetapi tulisan bocah kecil itu dapat dibaca oleh orang dewasa. Dia pun segera menuliskan sebuah nama yang membuat Summer menutup mulutnya dengan tangan. Saat melihat Alka menuliskan nama RAIN di kertas itu.
Bagaiamana bisa Rain jadi editor, bukankah dia bekerja di kota itu dengan gaji yang lumayan besar. Lalu aku harus bagaimana? Sepertinya aku harus menghindari dia. Mungkin akan lebih baik jika aku menerima Billy, agar keinginan Alka untuk memiliki seorang papa seperti temannya dapat terwujud, batin Summer.
"Bunda, Aka suka kho kalau Om Yain jadi Papa Aka. Nanti Bunda menikah saja sama Om Yain biang kayak Ayah sama Ibu."
"Sayang, Om Yain itu sudah menikah dan punya anak. Tidak mungkin akan menikah dengan Bunda. Bagaimana kalau Om Billy saja yang menjadi papa Aka? Apa Aka setuju?"
"Ya udah deh gak apa. Tapi Om Yain mau kho jadi Papa Aka. Tapi kalau Bunda gak setuju, ya udah deh teseyah Bunda." Alka sedikit meruncingkan bibirnya karena sebenarnya dia ingin laki-laki yang dia temui di toko mainan itu yang menjadi papanya.
__ADS_1
Maafkan Bunda Alka! Bunda juga sebenarnya ingin bersama dengan papa kamu, tapi keadaan memaksa kita untuk pergi jauh dari papa kamu. Bunda tidak mau menjadi orang ketiga dalam pernikahan papa kamu. Bunda juga tidak ingin, kehadiran kamu ditolak oleh keluarga papamu.
...***...
Selama Summer mengajar, pikirannya terus menerawang teringat percakapannya tadi pagi dengan Alka. Dia juga merasa kasihan pada putranya yang menginginkan sosok seorang ayah. Meskipun benar kalau Radid selalu memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah pada Alka. Akan tetapi, bocah kecil itu tahu kalau sebenarnya Radid bukan ayahnya.
"Bu Guru, apa benar platform Biru akan goes to school untuk memberikan materi cara penulisan novel yang baik," celetuk salah satu siswa.
"Soal itu, Ibu belum dapat informasi konkrit. Mungkin nanti akan Ibu tanyakan pada Bu Juliet, karena beliau lebih tahu."
"Semoga saja ya, Bu. Biar anak bahasa di sekolah kita bisa jadi penulis yang hebat."
"Iya, Bu. Aku juga pembaca setia di sana. Ceritanya bagus-bagus. Apalagi yang judulnya Jangan Jadikan Aku Yang Kedua karya Author Lara, aku sampai nangis bacanya."
"Kalau aku suka cerita Simpanan Brondong Tajir."
Terus saja murid-murid Summer saling berbalas kata. Mengatakan bacaan apa yang mereka sukai. Sampai akhirnya ibu guru cantik itu mengetuk mejanya untuk menenangkan suasana kelas yang mendadak gaduh.
"Tenang anak-anak! Soal pembahasaan itu kita pending dulu ya, sekarang ayo kita lanjutkan lagi belajarnya."
"Baik, Bu!" Kompak semua siswa.
Summer hanya tersenyum seraya memperhatikan muridnya satu per satu. Dia merasa sangat bahagia karena ternyata salah satu muridnya ada yang menyukai hasil karyanya. Meskipun mereka tidak tahu kalau sebenarnya author yang menulis cerita itu gurunya sendiri.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Summer-Rain update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1