Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 56 Rain, tolong aku!


__ADS_3

Selama berkutat dengan pekerjaannya, Rain terus saja teringat dengan apa yang Alka katakan. Dia terus saja memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, seandainya Alka bertemu dengan orang tuanya.


Ternyata masih ada satu dinding lagi yang harus aku runtuhkan. Sebelum Alka bertemu dengan ayah dan ibu, aku harus lebih dulu mengatakan soal Alka pada kedua orang tuaku. Aku tidak ingin kalau sampai ayah dan ibu menyakiti perasaan Alka dan Summer. Sudah cukup mereka menderita karena aku. Summer, rasanya aku sudah tidak sabar ingin menikah dengan kamu dan memberikan adik bayi yang lucu buat Alka, batin Rain.


Baru saja, Rain memikirkan tentang Summer, terdengar ponselnya berbunyi. Dia pun segera mengangkat panggilan telepon dari Summer. Namun, Rain sedikit terkejut mendengar suara Summer yang sepertinya sedang menangis.


"Rain, tolong aku!!!" pinta Summer di seberang sana.


"Summer kamu kenapa?" tanya Rain cemas. Dia langsung berdiri dari duduknya dan melihat ke arah Alka yang sedang asyik dengan tab di tangannya.


"Toko Mbak Hanna diobrak-abrik preman. Jumlah mereka banyak sekali," adu Summer denan suara serak menahan tangisnya.


"Kamu sudah lapor polisi?"


"Sudah, tapi belum datang."


"Aku ke sana sekarang."


Rain segera menutup ponselnya. Dia pun menghampiri Alka yang sedang melihat ke arah papanya dengan wajah yang penuh tanda tanya. "Papa, ada apa?"


"Kita ke toko Bunda. Tapi nanti Alka jangan keluar mobil ya. Satu lagi, Alka hubungi ayah agar datang ke toko."


"Baik, ayah!" Alka pun dengan patuh mengikuti apa yang Rain katakan.


Kedua ayah dan anak itu begitu tergesa menuju ke mobil, membuat temannya Rain merasa aneh dengan sikap Rain yang tidak membalas sapaan darinya. Namun, dia tidak mau ambil pusing dan melanjutkan tujuannya datang ke perusahaan itu.


Sementara Alka segera menghubungi Radid saat mereka sudah berada di mobil. Ternyata Radid pun sedang menuju ke toko. Dia semakin bingung dengan apa yang terjadi di toko ibunya. Akhirnya, anak kecil itu segera meretas CCTV di daerah pertokoan Hanna.


"Papa, kenapa mereka merusak toko ibu? Sepertinya mereka sengaja disuruh oleh orang untuk merusaknya. Lihat Papa! Sebelum mereka merusak toko ibu, ternyata mereka mengikuti kita."

__ADS_1


"Apa? Mengikuti kita? Berarti mereka sudah berencana menjadikan kita target. Alka, coba telusuri mereka datang dari mana? Satu lagi, cek plat mobilnya, siapa nama pemilik mobil itu?" Rain memberi perintah pada putranya seraya dia mengemudi.


Alka pun hanya mengikuti apa yang papanya katakan. Dia mengecek pemilik plat nomor yang ada di mobil para preman itu. Sampai akhirnya, Alka melihat sebuah nama yang seperti nama bunga.


"Rose Widuri Mahendra," gumam Alka.


"Screenshot Alka. Nanti buat laporan ke polisi." Rain terus saja memberi arahan pada Alka seraya dia mengemudi. Alka pun mengikuti dengan patuh apa yang dikatakan oleh papanya. Hingga akhirnya mobil yang Rain bawa sudah sampai di depan toko Hanna yang terlihat berantakan.


"Rain!" panggil Summer yang keluar dari toko sebelah.


Dia dan beberapa karyawan di tokonya langsung bersembunyi karena takut dengan preman itu yang membawa senjata tajam. Bahkan satpam yang berjaga di pertokoan itu dibuat babak belur saat ingin membantu Summer. Sehingga mereka membiarkan saja preman itu melakukan apa yang diinginkannya sambil menunggu polisi datang.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rain langsung memeriksa keadaan Summer.


"Aku tidak apa-apa! Tapi toko Mbak Hanna hancur. Kasian para karyawan toko jadi tidak punya pekerjaan.


"Jangan ke sana! Mereka tidak berperasaan, Rain. Kita tunggu polisi datang saja," cegah Summer.


Benar saja, tidak lama kemudian, terdengar sirine polisi yang datang ke sana. Para preman itu pun segera berlari menuju ke mobilnya. Tapi ternyata, mobil yang akan mereka tumpangi, ban mobilnya kempes di sana sini. Mereka pun kembali turun untuk memeriksa.


"Cepetan kabur! Polisi sudah datang," suruh salah satu preman yang langsung diikuti oleh yang lainnya. Mereka berlari tunggang langgang menghindari kejaran polisi. Sampai akhirnya para preman itu dapat ditangkap berkat bantuan orang-orang yang merasa kesal dengan apa yang sudah preman itu lakukan.


"Summer, siapa nama mertua kamu yang perempuan?" tanya Rain seraya melihat polisi yang sudah berhasil meringkus para preman itu.


"Nyonya Rose," jawab Summer dengan mengikuti arah pandang Rain. "Alka di mana?" tanya Summer kemudian.


"Alka di sini Bunda," ucap Alka dengan tersenyum.


Summer pun segera menghampiri putranya yang datang dari arah mobil para preman itu. "Apa yang sudah Alka lakukan? Kenapa tangannya kotor?" tanya Summer dengan melihat tangan Alka yang terlihat berwarna hitam.

__ADS_1


"Gak apa kho Bunda. Alka gak habis ngapa-ngapain," kelit Alka dengan menyembunyikan tangannya.


"Coba Papa lihat!" Rain segera berjongkok dan mengambil tangan putranya. "Habis kempesin ban ya!"


"Hehehe...." Alka hanya cengengesan dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


"Anak Papa hebat, ayo kita cuci tangan!" ajak Rain menuntun Alka masuk ke dalam toko.


"Summer, titip Alka dulu. Aku mau memberikan laporan pada polisi," pamit Summer.


"Sebentar Summer, bilang pada mereka kalau Nyonya Rose Widuri Mahendra yang menjadi dalangnya. Mobil yang para preman itu bawa, mobil milik Nyonya Rose," ucap Rain.


Summer hanya menghembuskan napasnya kasar. Lagi-lagi kekacauan di hidupnya karena Keluarga Mahendra. Dia pun segera memberikan kesaksiannya pada polisi tentang kekacauan yang terjadi di toko Hanna.


Setelah dia memberikan kesaksiannya, Summer kembali ke toko memilih baju yang masih bagus dan mengumpulkan baju-baju yang sudah sobek tak berbentuk. Lagi-lagi dia hanya bisa menghembuskan napasnya kasar mengingat berapa kerugian yang harus ditanggung oleh toko.


"Mereka benar-benar keterlaluan! Apa aku harus menyerah dengan semuanya. Biarkan saja Billy bebas asal dia tidak menggangu aku lagi dan keluarga aku," gumam Summer.


"Abang tidak setuju, mereka harus bertanggung jawab atas semuanya. Ternyata Keluarga terpandang tidak menjamin memiliki attitude yang baik," serobot Radid yang baru saja datang.


"Abang, aku minta maaf!" sesal Summer dengan menundukkan kepala. Air mata yang sedari dia tahan akhirnya tumpah juga di hadapan Radid.


"Sudahlah, Summer! Abang tidak menyalahkan kamu. Abang hanya akan meminta pertanggungjawaban dari keluarga Mahendra. Mungkin mereka sengaja melakukan hal ini, agar kita mencabut tuntutan pada Billy. Tapi sebelum itu terjadi, Abang yang akan menjerat mereka ke ranah hukum."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2