Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 6 Ikatan Batin


__ADS_3

Ruang kerja yang nyaman dengan hembusan angin AC yang sejuk, tidak membuat Rain merasa nyaman berada di tempat itu. Wajahnya mulai memucat menahan rasa sakit yang melilit di perutnya. Laki-laki tampan itu segera menghentikan pekerjaannya dan menghampiri rekan kerjanya dengan terus saja memegang perut.


"Jupiter, bisa minta tolong antarkan aku ke rumah sakit," pinta Rain dengan meringis menahan sakitnya.


"Kamu kenapa? Bukankah tadi pagi baik-baik saja?" tanya laki-laki yang dipanggil Jupiter itu.


"Perutku sakit sekali, ayo cepat antarkan aku!" desak Rain karena rasa sakit yang sangat hebat kini tengah menyerangnya.


"Oke, sebentar! Aku matikan dulu komputer-ku," Jupiter segera membereskan mejanya dan menyimpan file penting ke dalam nakas lalu menguncinya. Dia segara memapah Rain menuju ke mobilnya yang terparkir rapi di depan gedung bertingkat itu.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah sakit terdekat. Karena memang gedung tempat mereka bekerja ada di pusat kota, sehingga memudahkan akses ke manapun. Saat sudah sampai di rumah sakit, Jupiter segera melakukan pendaftaran di adminstrasi dan meninggalkan Rain di kursi tunggu.


Namun, entah kenapa seperti ada yang menarik Rain menuju ke ruang anak. Dia terus saja berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sampai akhirnya berpapasan dengan perawat yang membawa bayi kecil. Hatinya begitu tertarik untuk mengikuti bayi itu. Sampai dia tidak menyadari kalau rasa sakit di perutnya sudah tidak terasa lagi.


Rain terus saja mengintip bayi-bayi mungil di balik jendela besar yang transparan itu. Ingin rasanya di menggendong salah satu bayi yang ada di sana. Sampai dia terkejut saat ada yang menepuk bahunya dari belakang.


"Permisi, Mas! Apa Mas bisa Adzan?" tanya perawat itu.


"Bisa, Mbak. Memangnya kenapa?" tanya Rain heran dengan pertanyaan perawat itu.


"Saya mau minta tolong untuk mengadzani bayi yang baru lahir. Ibunya terserempet mobil sehingga harus melahirkan mendadak. Sementara keluarganya belum ada yang datang. Ada juga yang membawa ibu hamil itu ke mari, beliau tidak bisa adzan," jelas perawat itu panjang lebar.


"Kalau begitu, biar saya saja. Di mana bayinya?" tanya Rain merasa tidak sabar ingin menggendong bayi yang dimaksud.


"Mari, ikut saya!" ajak perawat itu.


Rain pun mengikuti perawat itu menuju ke ruang khusus bayi dan mengambil bayi kecil yang tadi dibawanya. Dia pun memberikannya pada Rain. Pucuk dicinta ulam pun tiba, dengan senang hati Rain menerima bayi kecil itu.

__ADS_1


"Mbak, bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Rain sebelum dia meng-adzaninya.


"Bayinya laki-laki, Mas. Pasti kedua orang tuanya tampan dan cantik karena baru lahir saja sudah terlihat tampan begini," puji perawat itu


Tapi kenapa ya, aku merasa bayinya mirip dengan Mas ini!


"Iya, dia memang sangat tampan."


Rain pun segera mengadzani di sebelah telinga kanan dan iqamat di sebelah telinga kiri. Setelah melakukan semua itu, tidak lupa Rain membaca doa dan meniupkan-nya ke ubun-ubun bayi kecil yang terlihat sangat tampan itu. Rain menyempatkan mencium kening dan pucuk kepalanya sebelum dia berikan pada perawat.


"Jadi anak yang sholeh ya nak! Berbakti pada orang tua, dan selalu mejadi kebanggaan keluargamu. Semoga kebaikan, keselamatan, kesuksesan dan keberkahan selalu menyertai perjalanan hidupmu, Aamiin."


"Aamiin," sahut perawat itu seraya mengambil bayi kecil itu dari tangan Rain. " Terima kasih ya, Mas."


"Iya, Mbak sama-sama." Rain tersenyum puas karena keinginan hatinya sudah terpenuhi. Dia pun langsung berbalik badan untuk kembali ke tempat semula.


"Halo, Rain. Kamu di mana? Kenapa pergi? Namamu sudah dipanggil," tanya Jupiter saat panggilan telepon itu sudah tersambung.


"Aku ada di ruang bayi."


"Ngapain kamu di sana? Apa hari ini anakmu lahir?"


"Anak? Tidak! Aku sedang melihat bayi yang lucu-lucu."


"Shittt! Cepat kemari, kalau tidak akan aku tinggal."


"Iya sebentar! Aku ke sana sekarang." Rain langsung bergegas ke tempat tadi dia berpisah dengan Rain. Terlihat temannya itu sedang berkacak pinggang. Sudah dipastikan, seorang Jupiter pasti sedang marah karena dia pergi dia bilang dulu.

__ADS_1


"Sorry, Bro! Tadi aku tidak sengaja tersasar saat ingin ke toilet," kilah Rain.


"Ck! Menyusahkan saja! Memangnya kamu tidak bisa membaca tulisanyang gede itu," tunjuk Jupiter pada lorong yang berlawanan arah dengan lorong yang tadi dilalui oleh Rain.


"Hehehe ... Aku yang salah jalan."


"Sudah cepat! Perawat dari tadi sudah panggil nama kamu," ajak Jupiter dengan menarik tangan Rain. Laki-laki itu merasa jengah pada temannya yang asal pergi begitu saja.


Sementara itu di ruangan lain, terlihat Summer yang sudah dipindahkan pasca operasi caesar ke ruang ICU. Namun, dia masih belum sadarkan diri karena begitu banyaknya darah yang dia keluarkan. Radid dan istrinya pun sudah datang. Bersamaan dengan Rain yang akan masuk ke ruang poli umum.


"Bang, tadi Abang lihat gak? Aku merasa melihat pacarnya Summer yang waktu itu pernah dikenalkan pada kita," ucap Hanna saat suami istri itu sedang duudk berdua di depan ruang ICU.


"Abang juga melihat. Tapi sebisa mungkin, kita harus berpura-pura melihatnya. Jangan sampai dia tahu kalau Summer bersama dengan kita. Kata Mama, awal-awal Summer di sini, dia sering menanyakan Summer pada Mama dan tetangga sekitar rumah Summer. Tapi beberapa bulan belakangan, sudah tidak tidak pernah menanyakan Summer lagi. Rupanya sekarang dia tinggal di kota," jelas Radid panjang lebar.


"Iya, Mas. Biar saja dia kelimpungan. Enak saja habis mengambil sarinya Summer, dia tinggalkan begitu saja. Yang lebih menyakitkan lagi, di malah menikah dengan sahabatnya Summer."


Terus saja sepasang suami istri itu berbincang, sampai akhirnya Billy datang untuk berpamitan. Karena laki-laki itu sedang ditunggu oleh rekan bisnisnya untuk meeting.


"Permisi, Mas, Mbak. Sepertinya saya tidak bisa menjaga adik Mas karena sedang ditunggu untuk meeting. Untuk semua biayanya, sudah saya deposit ke rumah sakit. Jadi Mas dan Mbak tidak usah khawatir, saya pasti akan bertanggung jawab. Kalau ada apa-apa pada adik Mas, silakan hubungi saya di nomor ini," ucap Billy dengan mmeberikan kartu namanya pada Radid.


"Baik, Mas. Terima kasih sudah bertanggung jawab pada adikku," ucap Radid dengan menerima kartu nama yang diberikan oleh Billy.


Pengusaha muda yang sukses itu langsung pergi setelah cukup berbasa-basi dengan Radid dan Hanna. Dia sangat terburu-buru pergi ke tempat meeting-nya. Karena jika sampai terlambat dan calon investor itu membatalkan rencananya, dia akan rugi besar.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2