
Kondisi Summer kini semakin membaik. Semua perban dan gips yang melekat di tubuhnya kini sudah dilepas. Wanita cantik itu hanya menghabiskan waktunya di layar laptop untuk membuat cerita yang menarik.
Bersyukur, banyak orang yang menyukai ceritanya. Sehingga, tanpa kerja di sekolah pun Summer masih bisa mendapatkan penghasilan. Selain itu juga, Summer menggantikan Hanna menjaga tokonya.
Rain pun sudah kembali bekerja seperti biasanya. Sementara proses perceraian Summer dengan Billy masih menunggu persidangan terakhir. Meskipun keluarga Billy kerap kali datang mengancam pada Summer dan Radid. Namun, mereka tidak goyah untuk membuat Billy mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Seperti suasana pagi ini, terlihat meja makan Radid dipenuhi oleh canda tawa. Apalagi, Rain selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Alka. Terkadang, Rain juga mengajak Alka ke kantornya. Untuk mengasah kemampuan putranya di bidang IT.
"Alka, hari ini ikut Papa ke kantor ya! Nanti istirahat makan siang, Papa antar ke toko Bunda," ucap Rain saat mereka baru saja selesai sarapan.
"Horeee ... Nanti makan siang sama Bunda sama Papa," sorak Alka senang.
"Pintar sekali kamu Rain. Menggunakan cara halus untuk mendekati adikku. Alasan antar Alka, padahal ingin bertemu dengan bundanya," celetuk Radid dengan melihat ke arah Rain yang terlihat mengulum senyum.
"Bisa saja, Bang. Yah, namanya juga usaha." Rain melirik ke arah Summer yang sedang sibuk membereskan bekas makan mereka.
"Tapi ingat, Summer belum resmi bercerai. Lagipula, apa orang tua kamu setuju, kalau kamu kembali bersama dengan Summer? Lalu bagaimana dengan istrimu?"
"Aku akan memperjuangkan Summer, tidak peduli ayah mau setuju atau tidak. Soal Yasmin, aku sidah bercerai dengannya setahun pernikahan kami. Yah, meskipun awalnya penuh drama, tapi akhirnya Yasmin menyetujui untuk bercerai denganku, karena ternyata dia sedang mengandung anak dari laki-laki lain," jelas Rain panjang lebar.
"Maksud kamu, anak kecil yang selalu bersama dengan Yasmin itu bukan anakmu?" tanya Summer terkejut.
"Bukan, tapi dia minta agar aku mengakui anak itu sebagai anakku agar mudah mengurus akte kelahirannya. Aku terpaksa menyetujui karena kasian pada anaknya. Tapi saat itu juga aku langsung jatuhkan talak tiga sama dia."
"Lalu bagaimana dengan ayahmu?" tanya Summer lagi penasaran.
"Ayah tahu kalau Yasmin berselingkuh, tapi dia malah menyalahkan aku karena tidak memperlakukan Yasmin sebagaimana seorang suami pada istrinya. Ayah pun mau mengakui kalau Wilson itu cucunya karena anak itu lahir di tengah-tengah pernikahan aku dengan Yasmin. Meskipun sebenarnya, itu benihku. Karena sedikitpun aku tidak pernah menyentuh Yasmin," jelas Rain dengan menatap sendu Summer.
Bagaimana bisa dia menyentuh wanita lain, kalau di pikiran dan hatinya hanya ada Summer, Summer, dan Summer. Semua tentang Summer seperti potongan film yang terus berputar-putar di kepalanya.
"Apa sekarang Yasmin sudah menikah lagi?" tanya Summer.
__ADS_1
"Tidak, saat Topan mau menikahinya pun, dia menolaknya."
"Maksud kamu Topan ketua geng Gosong itu?" tanya Summer sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Iya, Topan ayah dari anaknya Yasmin."
"Apa? Bagaimana bisa Yasmin pernah menjalin hubungan dengan berandal itu? Dia kan yang selalu mengganggu aku waktu di kampus dulu," tanya Summer, lagi-lagi terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Entahlah, itu urusan mereka. Ayo kita berangkat! Sudah siang," ajak Rain seraya berdiri dari duduknya. "Bang Radid, Mbak Hanna, aku berangkat dulu. Terima kasih sarapannya."
"Iya Rain, sama-sama. Titip Summer sama Alka ya!" pesan Hanna dengan tersenyum.
Setelah cukup berbasa-basi, Rain pun segera berangkat bersama dengan Summer dan Alka. Dia terus saja tersenyum dengan melirik Summer yang duduk di sampingnya. Sungguh hatinya bahagia, karena tidak akan lama lagi dia bisa memiliki Summer seutuhnya.
"Bunda, tidak apa kan Alka ikut dengan Papa?" tanya Alka memecah kesunyian di dalam mobil.
"Iya tidak apa. Alka gak boleh rewel di kantor Papa ya!"
"Alka, yang sebelahnya boleh Papa yang cium?" tanya Rain menggoda putranya.
"Gak boleh! Kata Ayah, Papa boleh cium Bunda kalau Papa udah nikah sama Bunda. Alka disuruh sama Ayah agar jagain Bunda biar Papa gak cium-cium Bunda."
"Astaga, Bang Radid sampai segitu. Masa Alka dijadikan pengawal kamu, Summer. Aku jadi merasa seperti penjahat," keluh Rain berpura-pura sedih di depan Alka.
"Alka bisa ijinkan Papa cium Bunda. Tapi dengan syarat."
"Apa syaratnya?" tanya Rain dengan bersemangat.
"Papa harus kasih Alka dedek bayi kaya punya Ayah dan Ibu. Alka mau dede bayi."
Gubrak! Summer langsung menepuk jidatnya sendiri mendengar permintaan dari Alka. Bagaimana bisa Rain memberikan Alka adik kalau tidak membuat adonannya. Sementara cium saja sudah diwanti-wanti oleh Radid agat mereka menahan diri agar tidak melakukannya sebelum nikah.
__ADS_1
Berbeda dengan Rain yang tersenyum lebat dengan keinginan putranya. Dia mengerlingkan mata genit pada Summer untuk memberi kode. Namun, Summer segera membuang muka mendapatkan godaan seperti itu dari Rain.
"Sayang, Ayah sama Ibu bisa memberikan adik bayi pada Alka karena Ayah dan Ibu sudah menikah. Kalau Bunda sama Papa kamu kan belum menikah jadi belum bisa kasih adik bayi buat Alka."
"Lalu kapan Bunda sama Papa menikah? Biar cepat-cepat kasih adik bayi buat Alka," tanya Alka dengan melihat ke arah Summer dan Rain secara bergantian.
Summer hanya diam tidak menjawab pertanyaan putranya. Karena dia pun bingung harus menjawab apa. Sementara urusan dia dengan Billy saja belum selesai.
"Alka sabar, doakan secepatnya. Nanti kita main dulu ke rumah kakek dan nenek. Beliau pasti senang saat tahu sudah memiliki seorang cucu yang sangat pintar," jawab Rain dengan mengelus lembut rambut Alka dengan satu tangannya.
"Apa kakek dan nenek baik, Pah? Alka takut nanti kakek sama nenek tidak suka sama Alka," tanya Alka dengan raut wajah sedih.
"Sayang, semua orang tua pasti sayang sama anak dan cucunya. Hanya saja cara mereka mengungkapkannya tidak seperti yang kita harapkan. Jadi Alka tidak perlu takut, kakek sama nenek sudah pasti sayang sama Alka." Lagi-lagi Rain menenangkan putranya. Meskipun dia tidak yakin sikap ayahnya pada Alka akan baik, tetapi Rain tidak ingin Alka berpikiran, kalau kehadirannya tidak diharapkan oleh keluarganya.
"Alka jangan takut orang-orang tidak suka sama Alka karena Bunda sangat sangat menyukai Alka. Jangan sedih dong anak gantengnya Bunda. Nanti kalau gantengnya berkurang bagaimana?"
"Benar kata Bunda. Anak ganteng harus tersenyum ga boleh sedih-sedih. Lihat kayak Papa begini." Rain langsung tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya. Membuat Alka menahan senyumnya.
"Papa, gak lucu!" cebik Alka dengan menahan tawanya melihat ekspresi Rain yang kaget.
"Astaga anak Papa sudah bisa godain Papa. Awas ya Papa gelitik nih!"
"Sudah Rain? Kamu lagi nyetir. Bercandanya nanti saja. Lagipula sebentar lagi kita akan turun."
Benar saja apa yang Summer katakan. Tidak berapa lama kemudian Rain memarkirkan mobilnya di depan toko baju Hanna. Summer pun langsung keluar setelah berpamitan pada dua laki-laki yang dicintainya. Mereka tidak menyadari kalau sedari tadi ada mobil yang mengikuti
Kena kalian! Tunggu saja kejutan dari kita. Itu resikonya karena kalian sudah berurusan dengan bos kami.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....