Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 26 Taman Hiburan


__ADS_3

Sinar mentari bersinar dengan cerah. Secerah hati seorang anak kecil yang akan bertemu dengan laki-laki yang dia rindukan. Alka sudah memberitahu pada Rain dengan rencananya untuk pergi ke taman bersama dengan Summer.


Sedari bangun tidur, Alka langsung bersiap. Dia meminta pergi mandi pagi-pagi sekali dan memakai pakaian terbaiknya. Sementara Summer hanya mengikuti saja apa yang putranya inginkan. Karena beberapa hari ini, Alka terlihat murung dan lebih banyak diam.


"Bunda, ayo kita berangkat!" ajak Alka.


"Sayang, ini masih pagi. Taman hiburannya pasti masih tutup," ucap Summer seraya membereskan tempat tidurnya.


"Kita beyangkat jam beyapa, Bunda?"


"Jam sembilan ya! Sekarang Alka sarapan dulu. Bunda mau siapkan bekal untuk kita di sana."


"Siap, Bunda! Aka mau sayapan dulu." Alka langsung berlari kecil keluar dari kamarnya. Dia menghampiri Radid yang sedang mengaji di ruang tengah.


"Ayah, yihat Aka duyu! Aka udah ganteng, kan?" tanya Alka dengan menggoyangkan tangan Radid.


"Putra Ayah selalu ganteng setiap hari. Mau ke mana sudah rapi begini?" tanya Radid seraya mencium pipi Alka yang chuby. Dia pun segera menutup kitab suci yang sedang dibacanya.


"Aka mau main ke taman hibuyan sama Bunda," jawab Alka dengan wajah yang berbinar.


"Ayah boleh ikut tidak?" goda Radid.


"Tidak boyeh! Aka mau sama bunda aja," ketus Alka.


"Iya, deh! Ayah mau ke taman komplek saja sama Ibu, jalan sehat. Agar adik bayi lahirannya lancar."


"Aka ikut!" pinta Alka.


"Katanya mau ke taman hiburan, nanti ketinggalan sama Bunda."


"Iya deh. Aka mau sama Bunda aja."


Radid dan Hanna pun berangkat pagi-pagi untuk menghirup udara segar. Karena memang, semenjak kehamilannya, Hanna dan Radid membiasakan untuk jalan-jalan pagi sebelum dia pergi ke kantornya. Apalagi sekarang hari libur, laki-laki itu mengajak istrinya ke taman komplek.


Sementara itu, Summer pun bersiap untuk pergi ke taman hiburan. Dia sudah memesan taksi untuk membawanya ke sana. Karena dengan angkutan umum, Summer kurang menegrti jalan yang harus dia lalui.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Alka buru-buru keluar dari mobil. Dia begitu tidak sabaran ingin cepat-cepat bertemu dengan Rain. Apalagi, tadi malam Rain sudah bilang akan menunggu mereka jam delapan pagi di sana.


"Alka, tunggu Bunda! Kita beli tiket dulu."


"Gak usah Bunda! Ayo, kita sudah ditungggu!" ajak Alka dengan menarik tanga Summer.


"Ditunggu sama siapa? Om Billy?"


Alka tidak menjawab pertanyaan dari bundanya. Dia terus saja celingukan mencari orang yang sudah menunggunya di sana. Namun, sepertinya Alka tidak melihat keberadaan Rain di tugu pintu masuk ke taman hiburan. Sampai akhirnya, ada suara yang mengagetkan kedua ibu dan anak itu.


"Summer, Alka!" panggil Rain dari belakang.


Degh ... Degh ... Degh ....


Jantung Summer langsung berdetak hebat mendangar suara yang sangat dikenalnya. Dia memejamkan matanya untuk menetralkan perasaannya saat bertemu dengan mantan kekasihnya itu.


Sementara Alka langsung melepaskan pegangan tangannya pada Summer. Bocah kecil itu langsung memburu Rain, seperti mereka sudah kenal sangat lama sekali. Tidak ada kecanggungan di antara keduanya. Rain pun langsung menciumi wajah tampan anak kecil yang sekarang ada di dalam gendongannya.


"Om Yain, Aka kangen!" ujar Alka tanpa sungkan.


Mendengar apa yang Rain katakan, Summer hanya bisa tersenyum kecut. Ternyata semua ini sudah direncanakan oleh mereka. Pertemuan ini ternyata karena permintaan Rain. Dia pun segera membalikkan badannya melihat ayah dan anak itu yang saling melepaskan rindu.


"Jadi, semua ini rencana kalian?" tanya Summer dengan suara yang bergetar.


"Bunda jangan mayah! Aka hanya mau main dengan Om Yain dan Bunda." Alka semakin mengeratkan pelukannya pada Rain. Mencari perlinduangan dari laki-laki dewasa itu.


"Summer, ada hal yang harus kamu jelaskan sama aku. Tapi tidak di sini. Ayo kita cari tempat untuk bicara!" Rain menatap lekat wanita cantik yang sedang menatap ke arahnya.


Perasaan ini tidak pernah berubah sedikit pun, setiap melihatnya, melihat sorot matanya. Jantung ini selalu berdetak kencang untuk dia, batin Rain.


Aku tidak bisa memungkiri perasaanku, setiap kali melihatnya, jantungku selalu berdetak kencang untuknya. Tapi aku pun sadar, tidak mungkin aku akan bersamanya karena dia sudah menjadi milik gadis lain, batin Summer.


"Om, Bunda, Aka mau naik komedi putar yang kapal-kapalan," ucap Alka yang sukses membuat kedua orang dewasa itu saling mnegalihkan pandangannya.


"Ayo, kita masuk! Om sudah membeli tiket untuk kita!" ajak Rain langsung membawa Alka pergi. Tidak lupa dia menarik tangan Summer agar mengikutinya.

__ADS_1


Alka nampak bahagia berada dalam gendongan Rain. Dia merasa memiliki sebuah keluarga yang utuh seperti yang selalu dilihatnya di televisi dan saat dia diajak main ke taman oleh Radid. Perasaan nyaman yang berbeda dengan yang dia rasakan saat bersama Radid.


Mereka pun langsung naik turangga rangga yang berada di dekat pintu masuk. Untuk sesaat, Summer melupakan apa yang sebenarnya terjadi di antara dia dan Rain. Ketiganya terlihat bahagia mencoba setiap permainan yang aman untuk anak kecil.


"Bunda, Aka cape!" keluh Alka.


"Kita istirahat di sana yuk, sambil menikmati danau buatan!" ajak Rain.


"Wah, seru Om, bisa masuk ke dayam boya."


"Katanya lelah, ayo kita buka bekal dulu. Bunda juga bawa tikar kho!" Summer pergi lebih dulu, mendekat ke arah danau buatan. Sementara Rain membeli dulu mekanan bersama dengan Alka sebelum mengikuti ke mana Summer pergi.


Tidak berapa lama, ayah dan anak itu sudah datang dengan tentengan makanan di tangannya. Mereka langsung menghampiri Summer yang sudah duduk di atas tikar seorang diri.


"Bunda yihat! Om Yain, beyi makanan yang banyak." Alka berseru bahagia dengan apa yang dibawanya.


"Kenapa beli makanan banyak sekali? Bunda kan bawa bekal dari rumah," tanya Summer dengan melihat ke arah dua laki-laki yang memiliki wajah yang mirip.


"Tidak apa, Summer. Ayo kita makan! Alka mau Om suapi? Bunda juga mau disuapi tidak?" tanya Rain dengan suara yang sedikit bergetar. Dia jadi teringat saat mereka masih bersama. Selalu saling menyuapi saat makan berdua.


"Tidak, terima kasih. Aku makan sendiri," tolak Summer.


"Aka mau, Om. Pasti enak kayau Om yang suapi," jawab Alka dengan tersenyum senang.


"Oke, kita makan bersama!"


Rain dengan telaten menyuapi Alka. Dengan sesekali menyuapi dirinya sendiri. Sampai tanpa sadar tangannya mengarah pada Summer. Wanita itu pun dengan refleks menerima suapan dari Rain.


Aku senang, kamu masih mau makan dari tanganku. Tuhan, semoga Engkau menjodohkan aku dengan wanita yang tadi aku suapi. Aku sangat mencintainya dan tidak ingin kehilangan dia lagi untuk yang kedua kalinya.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2