Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 67 Penolakan Ayah


__ADS_3

Terasa dihantam batu besar, Tuan Altair hanya diam membisu mendengar apa yang putranya katakan. Dia tidak pernah menyangka akan memiliki cucu dari putri saingannya. Setelah menguasai kekagetannya, barulah dia berbicara.


"Rain, apa kamu berpikir Ayah akan menyetujui rencana kamu untuk menikahi gadis itu?" tanya Tuan Altair dengan menatap tajam Rain yang sedang duduk di sofa panjang. "Jangan bermimpi, Rain! Ayah sudah memilihkan seorang gadis dari keluarga baik-baik untuk menjadi pendamping kamu."


"Maaf, Ayah! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan gadis manapun, kalau dia bukan Summer. Aku tidak akan pernah mengulang kebodohan aku lagi. Aku tidak akan mempertaruhkan kebahagiaan aku lagi, demi mengikuti keinginan Ayah. Sudah cukup aku dan Summer menderita selama bertahun-tahun karena ego Ayah. Tidak! Aku tidak akan membiarkan Summer pergi lagi dari hidupku karena Ayah," tegas Rain.


Plak!


Tangan kanan Tuan Altair mendarat dengan sukses di pipi kiri Rain. Orang tua itu merasa tidak terima dengan apa yang putranya katakan. Karena biasanya, Rain tidak pernah menentang apa yang dikatakannya.


"Kamu! Berani menentang Ayah demi gadis itu? Rain, apa kamu ingin menjadi anak durhaka?" geram Tuan Altair dengan menatap tajam pada Rain yang sedang memegang sebelah pipinya.


"Tidak Ayah! Aku hanya ingin memperjuangkan cintaku dan juga putraku, darah daging aku. Ayah boleh menghukum aku tapi keputusanku tidak akan berubah. Aku akan tetap menikah dengan Summer, dengan dan tanpa restu dari Ayah." Rain menghentikan ucapannya sejenak, sebelum dia melanjutkannya.


"Aku memberitahu Ayah, karena aku dan Summer menghargai Ayah sebagai orang tuaku."


"Dengar Rain! Ayah tidak akan pernah menyetujui kamu menikah dengan dia."

__ADS_1


"Baik! Kalau Ayah tidak bisa menerima Summer dan putraku di rumah ini, maka aku pun akan keluar dari sini. Terima kasih, Ayah! Untuk semua cinta dan kasih sayang Ayah selama ini." Rain segera berdiri dari duduknya. Namun, ibunya yang mendengar pembicaraan ayah dan anak itu segera memburu tubuh putranya dan memeluk Rain erat.


"Nak, kamu mau ke mana? Baru saja datang, kenapa sudah pergi lagi? Apa tidak kangen pada Ibu? Ayo masuk dulu! Ibu akan masak makanan kesukaan kamu," tanya Bu Astrid, ibunya Rain.


"Biarkan dia pergi, Astrid! Dia sudah memilih gadis itu dan melupakan kita sebagai orang tuanya. Dia sudah tidak menghargai kita sebagai orang tuanya." Tuan Altair segera menarik tangan istrinya dan membiarkan Rain pergi begitu saja.


"Ayah, Ibu, aku permisi! Maaf, aku tidak bisa mengikuti keinginan Ayah lagi," ucap Rain sebelum dia kembali pergi dari rumahnya. Dia sudah memutuskan akan tinggal di hotel yang tidak jauh dari tempat tinggal Summer. Karena tidak mungkin Rain mengatakan pada Summer kalau ayahnya tidak merestui hubungan mereka.


Sementara Bu Astrid langsung menatap tajam pada suaminya. Dia merasa kesal karena suaminya masih saja tidak bisa mengerti keinginan Rain. Padahal mereka sama-sama tahu kalau Rain begitu menderita dengan pernikahannya bersama Yasmin. Meskipun Rain tidak pernah mengatakannya, tetapi Bu Astrid bisa merasakan penderitaan Rain.


"Aku sudah melupakannya, tapi aku tidak mau keturunanku berhubungan dengan anaknya Rigel."


"Sudah, kalau Ayah tidak mau merestui mereka, biar Ibu yang akan menikahkan Rain dengan Summer. Apalagi sekarang mereka sudah punya anak. Ayah akan sangat berdosa jika membiarkan mereka kembali melakukan dosa besar karena Ayah tidak mau merestui mereka," ketus Bu Astrid seraya pergi ke luar rumah.


"Ibu mau ke mana?" tanya Tuan Altair saat melihat istrinya bergegas dengan kunci mobil di tangannya.


"Ibu mau melihat cucu Ibu. Kalau Ayah tidak mau melihatnya, ya sudah tidak apa."

__ADS_1


Bu Astrid terus saja melangkahkan kakinya menuju ke garasi mobil. Dia tidak peduli pada suaminya yang terus saja memanggilnya agar berhenti. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang Rain katakan kalau ternyata dia sudah memiliki seorang anak dari Summer. Meskipun putranya Yasmin dia akui sebagai cucunya, tetapi Bu Astrid tidak merasakan kedekatan dengan anak laki-laki itu.


Setibanya di rumah Summer, nampak rumah itu terlihat sepi. Dia menghela napas dalam sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Setelah dirasa siap, Bu Astrid pun keluar dari mobilnya.


Ting ting ... Ting tong ....


Baru saja dia akan menekan bel untuk yang ketiga kalinya, terlihat pintu rumah Summer ada yang membukanya dari luar. Bu Astrid pun langsung tersenyum saat melihat Summer berdiri di depannya.


"Summer, boleh Tante masuk?"


"Silakan, Tan! Maaf rumahnya masih berantakan." Summer langsung mencium punggung tangan Bu Astrid.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik vote, rate, like, comment dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2