
Laki-laki tampan itu terlihat bahagia saat melihat Summer memasak di dapurnya. Dia menyuruh semua pembantunya istirahat dan tidak mengijinkan mereka masuk ke dalam rumah utama. Karena Billy tidak mau kebersamaannya dengan Summer ada yang mengganggu. Jarang-jarang dia bisa berduaan dengan Summer. Karena Alka sedang asyik bermain ponsel ibunya.
"Summer, apa masih lama?" tanya Billy dengan melongokan kepalanya di belakang Summer sehingga pipinya dengan pipi Summer menempel.
"Sebentar lagi, Bang!" sahut Summer dengan sedikit gugup. Dia merasa posisi Billy sangat dekat sekali dengannya. "Bang, akunya susah gerak."
"Sorry, aku hanya sedang membayangkan seandainya sandiwara tadi beneran terjadi. Pasti aku menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia ini. Karena bisa memiliki wanita cantik yang baik hati seperti kamu," cerocos Billy dengan menyandarkan bokongnya pada kitchen set seraya melihat ke arah Summer.
"Abang bisa saja gombalnya."
"Abang serius, Summer! Apa tidak bisa, kamu memberi Abang kesempatan? Abang akan menanggap Alka seperti putra Abang sendiri."
"Beri aku sedikit waktu lagi, Bang."
"Baiklah, Abang akan menunggu kamu sampai kamu siap."
Sementara di ruang tengah rumah Billy, terlihat seorang bocah kecil sedang asyik berkirim pesan pada orang yang tidak dikenalnya. Namun, entah kenapa, Alka merasa sangat suka mengirim pesan pada orang itu.
Apalagi, dia sedang belajar merangkai huruf-huruf agar membentuk sebuah kata yang biasa dia dengar dan dia baca di video. Alka pun mempraktekannya dengan mengirim pesan pada orang yang dia kira teman bundanya.
Send to Editor March
^^^[I love u]^^^
^^^[I miss u]^^^
^^^[see you]^^^
[Maaf Kak, ini maksudnya apa ya?]
"Aka jawab apa ya? Oh iya, Aka tahu ...," gumam Alka. Dia pun kembali mengirim pesan pada orang itu.
Send to Editor March
^^^[Ganteng]^^^
[Kak, boleh video call?]
^^^[Boleh]^^^
Tidak berapa lama kemudian, ada panggilan video masuk ke ponsel Summer, Alka pun segera menggeser tombol hijau yang terus bergerak-gerak. Terlihat di layar ponsel Rain tersenyum melihat wajah tampan bocah kecil yang dia temui di toko mainan waktu itu.
"Hayow Om Yain!" sapa Alka dengan wajah yang bahagia karena ternyata itu kontak laki-laki yang selalu ingin dia temui.
__ADS_1
"Hallo Ganteng! Om pikir siapa yang kirim pesan sama Om, ternyata anak ganteng. Apa Alka putranya Author Lara?"
"Bukan! Aka anaknya Bunda Sameng. Bunda Aka cantik loh Om."
"Benarkah? Pasti papa Alka juga ganteng kayak kamu ya!"
"Aka belum pernah ketemu papa." raut wajah bahagia Alka mendadak sendu saat Rain berkata seperti itu.
"Oh, gimana kalau Om jadi papanya Alka-nya saja?"
"Emang boyeh? Kata bunda, nanti bunda hayus nikah duyu sama Om, bayu Aka boyeh pangging papa sama om."
"Oh, begitu. Bagaimana kalau kita main papa-papaan? Alka boleh panggil Papa sama Om, karena kita lagi boongan."
"Beneyan Om."
"Iya, benar. Hari minggu, Papa tunggu di toko mainan ya!"
"Boyeh Om eh sayah. Aka pangging papa ya, Om. Kayena kita yagi boong-boongan."
"Iya. Alka, boleh papa minta foto bunda kamu? Papa penasaran lihat wajah bunda hebat yang sudah melahirkan anak yang tampan dan pintar seperti kamu."
"Nanti Aka piyih duyu foto Bunda yang paying cantik. Bunda Aka kan, gak suka dandan."
"Sama dengan kekasih, papa dong!"
"Teman dekat, sedekat nadi dan darah."
"Om, tutup duyu ya! Bunda datang sama Om Biyyi, nanti Aka dimayahin kalau ketahuan nepon Om."
Alka langsung mematikan ponselnya saat melihat kedatangan Summer dan Billy. Kedua orang dewasa terlihat saling melempar senyum saat melihat Alka sedang asyik dengan ponselnya.
"Alka, kita makan dulu yuk! Bunda sudah selesai masaknya," ajak Billy.
"Oke, Om!" Alka pun menyimpan kembali ponsel Summer dan segera mengikuti ajakan Billy. Dia terlihat sangat bahagia. Membuat Summer berpikir untuk kalau Alka merasa nyaman bersama dengan Billy.
Selesai mereka menikmati hidangan makan malam yang sederhana, Billy tidak langsung mengantarkan Summer pulang. Dia terlihat sibuk menelpon seseorang yang ada di seberang sana.
"Bunda, kita nginap di sini?" tanya Alka yang sudah mulai bosan berada di rumah megah itu.
"Enggak, Sayang. Kita akan pulang. Tunggu Om Billy menelpon dulu ya!"
"Iya, Bunda!" sahut Alka dengan cemberut. "Bunda, boyeh Aka pinjam hapenya? Aka bosan nonton tivi teyus."
__ADS_1
"Ya udah ini. Bukannya tadi Alka mainin ponsel Bunda terus ya!" tebak Summer.
"Sebentang Bunda. Ya udah deh, Aka mau puyang sekayang." Alka mulai merajuk ingin cepat-cepat pulang ke rumah Radid.
"Sebentar, Bunda bilang dulu sama Om Billy."
Baru saja Summer akan bangun dari duduknya, terlihat Billy datang menghampiri ibu dan anak itu. Dia tersenyum manis melihat ke arah keduanya.
"Maaf ya lama! Mau menginap apa pulang?" tanya Billy basa-basi.
"Pulang sekarang, Bang! Alka sepertinya sudah bosan."
"Ya sudah, ayo!"ajak Billy.
...***...
Berbeda dengan Rain yang menjadi gelisah teringat dengan anak kecil tadi. Entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang selalu menariknya agar mendekat pada Alka. Meskipun baru dua kali bertatapan muka. Namun Rain merasa seperti sudah kenal lama dengan bocah kecil itu.
"Kenapa aku semakin penasaran dengan anak kecil itu. Rasanya aku ingin membawa dia ke sini agar menemani aku. Tapi semua itu tidak mungkin karena sudah pasti orang tuanya akan melarang," gumam Rain.
Semakin Rain memikirkan Alka, semakin dia ingin cepat-cepat hari minggu. Rasanya Rain sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bocah kecil itu. Dia pun berusaha memejamkan matanya karena memang malam sudah semakin larut. Namun, saat dia terlelap, alam bawah sadarnya membawa dia pada kenangan ketika dia masih bersama dengan Summer.
Dibawah pohon yang rindang, terlihat sepasang muda-mudi sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Mereka sengaja memilih tempat itu karena keduanya sangat menyukai alam terbuka. Bahkan mereka sering pergi kemping bersama teman-temannya saat libur sekolah.
"Summer, kalau kita menikah dan punya anak, pasti salah satu anak kita ada yang berambut lurus dan ada juga yang berambut ikal. Ada yang mirip kamu, ada juga yang mirip aku. Tapi aku inginnya, anak kita perpaduan aku dan kamu."
"Memang kamu yakin, akan menikah denganku?" tanya Summer menghentikan pekerjaannya mengerjakan soal latihan.
"Aku sangat yakin! Setelah kita lulus kuliah dan bekerja aku pasti akan melamar kamu dan mejadikan kamu istriku satu-satunya."
"Bagaimana kalau takdir berkata lain?" tanya Summer dengan menatap lekat kekasihnya.
"Aku akan tetap meminta pada Tuhan, agar kamu yang menjadi istriku. Aku tidak akan biarkan kamu menjadi milik orang lain. Karena sampai kapanpun, kamu tetap akan menjadi milikku."
Rain langsung terbangun dari tidurnya. Setiap kali dia bermimpi tentang Summer, pasti laki-laki itu akan susah untuk memejamkan matanya. Penyesalan dan rasa bersalahnya membuat RAin tidak bisa lepas dari bayangan Summer.
"Summer, apa yang harus aku lakukan? Agar aku bisa bersama dengan kamu lagi?"
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambil menunggu Summer-Rain update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.