
Libur akhir pekan yang Alka tunggu-tunggu kini datang jua. Bocah kecil itu begitu bersemangat karena dia sudah tahu akan diajak oleh Rain untuk menginap di rumah Papanya. Sedari malam, Alka terus saja bertanya pada Rain tentang papanya, terutama tentang keluarga Rain. Summer pun menjawab apa yang dia ketahui tentang mantan pacarnya itu.
"Bunda, Papa kenapa yama sekayi? Aka sudah kangen sama Papa," tanya Alka untuk yang kesekian kalinya dia bertanya pada Summer.
"Sayang, baru jam enam pagi. Mungkin Papa juga baru mandi," jawab Summer sekenanya.
"Bunda, boyeh pinjam hape Bunda, enggak?" tanya Alka dengan memasang wajah melas.
"Ya sudah, tapi jangan lama nelpon papanya, ya!"
"Siap, Bunda. Aka yaksanakan!" Alka memberi hormat pada Summer seperti seorang prajurit pada komandannya.
Summer hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya. Dia pun memberikan ponsel miliknya pada Alka. Tidak lama kemudian, panggilan video yang Alka lakukan pada Rain, kini sudah tersambung.
"Hallo, Sayang! Sudah ganteng aja anak Papa." Terlihat di layar ponsel Rain sudah rapi dengan jaket yang melekat di tubuhnya.
"Papa, kenapa beyum ke yumah Aka?"
"Papa berangkat sekarang. Tungguin Papa ya!"
"Siap, Papa!"
Alka langsung menutup panggilan video pada Rain. Dia berlari kecil menghampiri Summer yang sedang sibuk di dapur. Wajah anak kecil itu kini terlihat berseri kembali.
"Bunda ... Bunda, Papa udah mau beyangkat. Aka mau nunggu Papa di depan," ucap Alka dengan bersemangat.
"Ayo sama Ayah!" ajak Radid seraya menggendong keponakannya itu.
Summer hanya melihat kepergian kedua lelaki berbeda generasi itu. Dia hanya bisa menghela napas dalam. Meskipun sebenarnya dia merasa keberatan Alka dibawa oleh Rain, tetapi Summer pun bisa mengerti bagaimana perasaan Rain.
"Sudah, jangan dipikirkan! Mbak yakin kalau Rain tidak akan membawa Alka pergi jauh dari kamu. Paling juga menjadikan Alka sebagai alat agar bisa dekat lagi dengan kamu. Semua laki-laki memang suka begitu," ucap Hanna dengan menepuk pundak Summer.
"Tidak akan mungkin terjadi, kalau Bang Billy dan Bang Radid sudah menentukan tanggal."
__ADS_1
"Summer, boleh Mbak bertanya hal yang sangat pribadi?" tanya Hanna dengan hati-hati.
"Tanya saja, Mbak. Memangnya mau bertanya apa?" tanya Summer dengan melihat ke arah Hanna.
"Apa kamu masih mencintai Rain?"
"Kalau soal itu aku ... Aku...."
"Mbak mengerti! Memang susah untuk melupakan seseorang yang sangat berarti untuk hidup kita. Meskipun orang itu pernah menorehkan luka yang teramat dalam." Hanna melihat ke arah Summer yang sedang menunduk.
"Sebagai seorang wanita kita tidak boleh diam saja dan menerima begitu saja saat cinta kita dipermainkan. Jangan pernah terpaku hanya pada satu cinta tapi cinta itu menyakitkan, karena akan ada cinta lain yang datang untuk mengobati setiap luka hati kita. Mbak berharap semoga Billy bisa mengobati setiap luka hati kamu."
"Iya, Mbak. Terima kasih," ucap Summer pelan.
Saat keduanya sama-sama terdiam, Alka datang menghampiri kedua wanita cantik yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia ingin memberi tahu tentang kedatangan Rain pada mereka.
"Ibu, Bunda, Papa Aka sudah datang. Kata Ayah, suyuh bawa minum buat Papa," ucap Alka.
"Sebentar, ya Bunda bikin dulu minumnya." Tanpa bertanya dulu mau minum apa, Summer langsung membuat teh manis. Karena memang, Rain sangat suka minum teh manis di pagi hari.
"Rain, ini teh manisnya. Aku siapkan barang-barang Alka dulu," ucap Summer sebelum dia kembali ke dalam.
Summer meninggalkan Rain yang sedang terpaku menatap ke arahnya. Rain seperti terhipnotis melihat wanita yang dia cintai. Sampai akhirnya Radid menyadarkan dia dari lamunan singkatnya
"Rain, lupakan adikku! Aku yakin kalian kaan hdup bahagia bersama dengan pasangan kalian masing-masing."
"Tidak mudah untuk aku melupakan dia, Bang. Aku hanya bisa berdo'a semoga Allah menjodohkan aku dengan Summer," ucap Rain melihat ke arah Radid sekilas.
Aku tahu kalau cintamu masih besar untuk Summer, tapi aku juga tidak bisa membiarkan kalau nanti keluarga kamu menyakiti adikku, batin Radid.
Setelah cukup berbasa-basi dengan Summer dan Radid, Rain pun segera membawa Alka ke apartemennya. Dia akan mengajak Alka untuk melihat putri temannya yang baru lahir, setelah Alka mengetahui apartemennya.
"Papa, di sini Papa tinggang dengan siapa? Yumahnya besang sekayi," tanya Alka seraya melihat ke sekeliling apartemen.
__ADS_1
"Papa tinggal sendiri. Papa sengaja memilih yang besar agar Alka bisa leluasa tinggal di sini," ucap Rain dengan menyimpan tas yang berisi perlengkapan Alka selama menginap.
"Alka mau istirahat dulu apa mau main? Papa sudah siapkan ruang bermain untuk Alka. Pasti suka karena ada laptopnya juga. Alka bisa mulai belajar membuat gambar kartun sesuai keinginan Alka," ucap Rain seraya berjalan menuju ke sebuah pintu yang terdapat hiasan gantung berbentuk awan.
"Papa kho tahu, kayau Aka pengen beyajang bikin gambang?" tanya Alka setelah berada di depan pintu itu.
"Karena Papa, ayah kandung kamu. Papa bisa mengerti apa yang Alka inginkan. Apalagi saat Papa tahu kalau Alka sudah bisa mengirim pesan tanpa sepengetahuan bunda. Papa yakin kalau anak Papa itu anak yang genius dan Papa akan mendukung cita-cita Alka, apapun itu selama tidak bertentangan dengan norma." Rain tersenyum penuh arti pada putranya.
"Apa Alka mau belajar trading? Papa bisa ajarkan sama Alka. Atau Alka mau belajar coding seperti Papa? Papa akan dukung apa yang Alka mau."
"Aka gak ngeti apa yang Papa biyang, tapi kayau Aka yihat apa yang Papa yakukan, pasti Aka ngeti."
"Siap, Bos Kecil!" canda Rain.
"Bukan Bos Kecing Papa tapi nama aku Aka."
...***...
Sore harinya, kedua laki-laki tampan beda generasi itu sudah terlihat rapi. Mereka sudah bersiap dengan buah tangan yang sudah Rain siapkan jauh-jauh hari. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah teman kerja sekaligus teman kuliahnya dulu.
"Papa, ini yumah siapa?" tanya Alka saat mereka turun dari mobil.
Terlihat banyak mobil bagus yang berjejer rapi di depan rumah yang akan Rain datangi. Dia pun bertemu dengan teman-temannya di sana. Tanpa sungkan, Rain memperkenalkan Alka sebagai putranya.
"Rain, apa ini putramu? Tampan sekali. Andai aku sudah punya anak, akan aku jodohkan dengan dia," seloroh Beno saat bertemu di depan pintu masuk.
"Iya, ini putraku. Alka kenalkan ini Om Beno. Dia teman Papa," ucap Rain.
"Hayou Om, aku Aka."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....