
Wajah tampan bak dewa yunani itu kini terlihat semakin bersinar. Tidak seperti biasanya yang selalu menampilkan wajah datar dan murung. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, Rain selalu tersenyum sendiri setiap kali dia mengingat wajah tampan dan tingkah lucu putranya.
Apalagi, anak kecil itu sangat bisa dia andalkan untuk menjaga Summer dari laki-laki lain yang ingin mendekatinya termasuk Billy. Dia tidak mau laki-laki itu mengambil keuntungan pada Summer sebelum mereka menikah.
"Rain, cerah bener hari ini. Kamu dapat jackpot? Apa kamu sedang dapat untung dari trading?" tanya Beno saat temannya itu masuk ke ruangan Rain.
"Dapat untung dari trading udah biasa. Udah gak wow lagi, Beno. Yang aku dapatkan lebih dari itu. Kamu tahu, gadis yang aku cari selama ini sudah aku temukan. Bahkan, bukan hanya dia. Tetapi juga putraku. Kau bahagia, karena ternyata aku memiliki seorang putra yang sangat tampan dan menggemaskan. Ditambah lagi, dia bisa diajak kerjasama agar aku bisa dekat lagi dengan mantanku itu," beber Rain panjang lebar.
Beno hana melongo mendengarkan penuturan dari sahabatnya yang biasanya tidak banyak bicara. Apalagi, sampai membicarakan masalah pribadinya. Beno hanya tahu, kalau Rain selalu mencari keberadaan gadis itu selama hampir empat tahun ini.
"Kenapa kamu bengong?" tanya Rain lagi. Dia merasa heran melihat ekspresi Beno yang seperti orang cengo.
"Kamu beneran Rain, kan? Temanku yang biasanya tidak banyak bicara itu," tanya Beno dengan melihat ke arah Rain.
"Tentu saja Beno! Kenapa kamu merasa heran sama aku?"
"Karena kamu biasanya tidak mau bercerita banyak."
"Sudahlah! Aku sebenarnya memang seperti ini, sebelum dia pergi dari hidup aku."
"Sekarang dia ada di mana? Apa kamu secepatnya akan menikahi dia?"
"Tidak! Dia akan menikah dengan laki-laki lain," jawab Rain lesu.
"Bodoh! Lalu kamu akan biarkan begitu saja dia menikah dengan orang lain, sementara kalian sudah memiliki seorang putra. Kenapa kamu tidak berusaha mendapatkan kembali hatinya?"
"Dia tidak mau kembali padaku, Beno. Aku sudah mencoba untuk mengajaknya berbaikan, tapi tetap saja dia tidak mau."
"Bertahun-tahun kamu mencarinya, kamu tidak putus asa. Tapi saat sudah menemukannya, kenapa kamu putus asa? Sia-sia pencarian kamu selama ini." Beno terus saja menasehati Rain yang terlihat seperti sedang merenungkan ucapannya.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Rain dengan menatap lekat laki-laki yang sedang menatap ke arahnya.
"Dekati dia lagi, tapi kamu jangan bilang terus terang sedang mendekatinya. Kamu bisa jadikan anak kamu sebagai alasan untuk mendekati mantan kamu itu. Apalagi, kata kamu kalau anakmu bisa diajak kerjasama. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada."
__ADS_1
"Baiklah Beno! Aku mengerti maksud kamu. Terima kasih sudah memberikan aku solusi yang baik. Aku harus mendapatkan hatinya kembali."
Summer, maafkan aku kalau aku tidak menepati ucapan aku kemarin. Tapi selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan untuk memiliki kamu lagi. Alka, bantu Papa untuk mendapatkan Bunda kamu, batin Rain.
...***...
Sore harinya, Rain sengaja meminta pulang cepat dari biasanya. Dia pergi ke toko mainan dan membeli banyak mainan untuk putranya. Dia juga pergi ke toko kue untuk membeli kue kesukaan Summer. Setelah dia mendapatkan semuanya, barulah Rain melajukan mobilnya menuju ke rumah Radid.
Terlihat Alka berlari kecil untuk menyambut kedatangannya. Seperti sebuah telepati, Alka seperti sudah tahu kalau papanya akan datang, sehingga dia merengek untuk pulang cepat pada Hanna.
"Hoyeyy ... Papa datang! Ibu ... Papa Yain datang," sorak Alka kegirangan.
Dia langsung memeluk Rain yang sudah berjongkok dengan merentangkan tangannya. Ayah dan anak itu saling berpelukan melepasakan kerinduan mereka. Meskipun baru saja kemarin mereka bertemu dan bermain bersama di taman hiburan.
"Alka siapa yang datang?" tanya Hanna yang baru keluar dari rumah.
"Papa, ini Ibu Aka. Isti ayah Aka," ucap Rain memperkenalkan Hanna pada Rain.
"Sudah, Mbak. Terima kasih sudah menjaga Alka dan Summer. Mbak, bukannya istri Bang Radid?" tanya Rain.
"Iya, ya sudah ayo masuk. Alka, papanya diajak masuk dulu. Sebentar lagi bunda kamu pasti pulang," suruh Hanna.
"Terima kasih, Mbak." Rain tersenyum ramah pada Hanna.
Bukannya langsung masuk, Rain beranjak pergi menuju ke bagasi mobilnya dengana menggendong Alka. Anak laki-laki itu terlihat bahagia saat melihat begitu banak mainan yang dibawa oleh Rain.
"Papa, banyak sekayi mainannya. Papa di yumah seying main sendiyi kaya Aka ya!" tebak Alka dengan tidak melepaskan pandangannya pada mainan yang sedang Rain keluarkan dari bagasi mobil.
"Tidak, Sayang. Ini semua untuk Alka. Kalau Alka kurang nanti kita beli lagi ya!" Rain memberikan mainan transformer yang bisa berubah bentuk menjadi mobil dan robot.
"Semuanya, Pah?" tanya Alka merasa tidak percaya.
"Iya, Sayang. Semuanya buat Alka."
__ADS_1
Baru saja Rain selesai berbicara, terlihat Summer baru datang dari sekolah. Dia cepat-cepat membuka helm yang dipakainya saat tahu kalau Rain datang ke rumah Radid. Dia pun segera menghampiri ayah dan anak yang sedang mengeluarkan semua isi bagasi mobil Rain.
"Rain, kenapa kamu bawa mainan sebanyak ini?" tanya Summer dengan wajah terkejutnya.
"Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk Alka. Bukankah beberapa tahun ini, aku tidak memberikan apa-apa buat dia? Summer, ijinkan aku menebus waktu yang sudah terlewatkan. Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan membawa kabur Alka. Aku hanya ingin selalu dekat dengan putraku," ucap Rain dengan memandang lekat Summer.
"Baiklah, asal kamu tidak berniat membawa pergi Alka. Ayo, Sayang kita masuk!" ajak Summer dengan mengulurkan tangannya pada Alka.
"Sebentar Sayang, belum semuanya aku keluarkan," ucap Rain berpura-pura tidak mengerti.
"Bukan sama kamu, Rain. Aku bicara sama Alka." Summer memutar bola matanya malas.
"Bukankah dulu, kamu memanggil aku sayang?"
"Sudahlah Rain! Jangan mengungkit yang sudah lewat kalau kamu masih ingin bertemu Alka."
"Baiklah! Asal selalu bisa melihat kamu dan Alka, itu tidak jadi masalah."
"Bunda, jangan gayak-gayak sama Papa. Yihat Bun, Papa bawa banyak oyeh-oyeh buat kita. Papa Aka baik, kan?" Alka mencium pipi Rain sebelah. "Ayo, Bunda! Cium Papa kaya Aka karena Papa sudah baik."
"Bunda masuk duluan! Mau menyimpan tas dulu," pamit Summer tanpa memperdulikan ucapan Alka.
"Summer sebentar! Ini kue kesukaan kamu, tadi aku tidak sengaja lewat toko kue," ucap Rain dengan memberikan satu kantong besar kue-kue kesukaan Summer.
"Rain, kamu tidak salah? Mana sanggup aku makan kue sebanyak ini."
"Tidak apa Bunda, biang Bunda tambah cantik."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1