
Pikiran Summer terus saja berkecamuk memikirkan apa yang dilihatnya di restoran. Baru kali ini dia tahu kalau Billy memiliki mantan kekasih yang sangat cantik dan seksih. Apalagi saat mengingat pembicaraannya dengan Billy. Membuat percakapan itu seperti cuplikan film yang terus menari-nari di pikirannya.
Flashback on
Perasaan Summer yang tidak menentu, membuat dia lebih banyak diam. Barulah setelah pulang dari restoran, Summer meminta penjelasan pada Billy. Meskipun benar, dia belum bisa mencintai Billy, tetapi dia merasa tidak suka saat Billy mempermainkan pernikahannya.
"Bang, sedekat apa Abang dengan Vera?" tanya Summer.
"Seperti kamu dengan mantanmu itu. Aku pun sama, pernah akan memiliki anak dari Vera. Tapi Vera sangat berbeda dengan kamu. Meskipun mantan kamu menikah dengan gadis lain tetapi kamu mau membesarkan anak itu, sedangkan Vera tidak mau melahirkan anakku karena dia memilih kariernya yanag sedang cemerlang." Billy tersenyum miring saat mengingat kisah cintanya dengan Vera.
"Lalu apa yang akan Abang lakukan sekarang? Apa akan kembali pada Vera dan mengulang kisah cinta kalian atau tetap bersamaku?"
"Tergantung kamu memperlakukan aku?"
"Maksud Abang?" tanya Summer dengan mengerutkan keningnya.
"Tergantung kamu bagaimana memberikan pelayanan padaku. Kamu tahu Summer, seorang lelaki, sangat sulit untuk menahan hasratnya. Kalau kamu bisa memenuhi semua kebutuhan biologis aku, aku pastikan akan selalu bersama kamu."
"Apa maksud Abang bicara seperti itu?"
"Kamu pikir saja sendiri, selama ini kamu sudah seutuhnya menjadi seorang istri belum?"
Apa benar apa yang Yasmin katakan, kalau aku memang hanya istri pajangan yang tidak bisa memuaskan suamiku sendiri, batin Summer.
Flashback off
"Kenapa aku baru tahu sekarang kalau Bang Billy itu pacarannya terlalu jauh. Tidak jauh berbeda dengan aku dan Rain. Apa seperti ini, yang mereka bilang kalau jodoh kita cerminan diri kita sendiri? Pantas saja Bang Billy mau menerima aku dan Alka, ternyata dia pun sudah pernah melakukan hal itu sebelum nikah," gumam Summer.
Summer terus saja berbicara sendiri selama dia mengajar jam pelajaran. Sampai akhirnya jam mengajar dia sudah selesai, Summer pun berniat untuk pulang cepat. Dia ingin melihat keadaan Alka. Karena rasa rindunya sudah tidak bisa dia bendung lagi. Namun, sebelum dia berangkat, Summer pun menghubungi Rain terlebih dahulu. Khawatir ayah dan anak itu tidak ada di apartemen.
"Hallo, Rain. Bagaimana keadaan Alka?" tanya Summer saat sudah tersambung.
"Alka baik, dia ikut ke tempat kerjaku."
__ADS_1
"Boleh aku ke sana sekarang? Aku kangen sama dia."
"Boleh saja. Datanglah! Alka pasti senang saat tahu kamu akan datang ke sini. Nanti, kalau kamu sudah sampai di lobby, telpon aku lagi!"
"Oke, Share lock ya!"
"Oke! Aku tutup dulu, bye."
Rain pun segera menutup panggilan telepon dari Summer. Dia melihat putranya yang sedang duduk di sofa. Sepertinya bocah kecil itu sedang asyik mengawasi rumah Billy. Dia teringat dengan pengasuhnya yang sangat membutuhkan pekerjaan.
"Alka, Bunda mau datang ke sini." Rain berbicara di meja kerjanya.
"Kapan Pah?" tanya Alka dengan melihat ke arah Rain.
"Mungkin sebentar lagi datang. Alka mau ikut dengan Bunda, atau tetap dengan Papa?"
"Pah, Alka suka dengan Papa. Tapi Alka takut kalau Om Billy nanti menyakiti Mama dan Mbak Idah."
"Bukankah Alka bisa memantaunya dari sini?"
Keduanya terus saja berbincang seraya Rain mengecek semua pesan yang masuk ke e-mailnya. Sampai akhirnya Summer menelponnya dan mengatakan kalau dia sudah ada di lobby. Dengan cepat, Rain pun mengajak Alka untuk turun dan menemui Summer.
"Bunda ...." Alka langsung berlari memburu Summer yang sedang menunggu bocah kecil itu di kursi tunggu yang ada di lobby.
Summer yang mendengar suara Alka memanggilnya, langsung tersenyum cerah. Dia berjongkok dan merentangkan tangannya menyambut kedatangan Alka. Ibu dan anak itu saling berpelukan menimbulkan keharuan pada semua orang yang melihatnya.
"Alka kangen sama Bunda."
"Bunda lebih kangen sama Alka. Kenapa pergi ninggalin Bunda? Apa Alka sudah tidak sayang sama Bunda? Ikut pulang sama Bunda ya!" ajak Summer.
Alka tidak menjawab ajakan dari Summer. Dia malah melihat ke arah Rain yang sedang tersenyum melihat ke arahnya. Sampai akhirnya, Alka memberikan jawaban yang menohok hati Summer.
"Alka mau sama Bunda. Tapi kalau Bunda gak tinggal sama Om Billy. Alka takut Om Billy marah lagi dan pukul Alka," adu Alka pada Summer.
__ADS_1
"Apa? Papa Billy mau pukul Alka?" tanya Summer sangat terkejut.
"Kita cari tempat enak dulu yuk buat ngobrol. Bagaimana kalau kita ke kafe depan?"
"Baiklah! Ayo Sayang sama Bunda!" ajak Summer dengan menuntun Alka agar mengikutinya.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke kafe yang ada di seberang kantor. Ketiganya terlihat kompak dengan Alka yang berada di antara orang tuanya. Saat tiba di sana mereka pun langsung memesan makanan untuk menemani mereka berbincang.
"Rain, bisa kamu jelaskan sebenarnya apa yang terjadi kemarin?" tanya Summer dengan menatap wajah Rain penuh pengharapan.
"Summer, takut kamu salah paham. Aku ...."
"Aku butuh jawaban kamu bukan jurus ngeles."
"Oke, aku akan ceritakan semuanya. Aku harap, kamu tidak menuduh aku yang tidak-tidak." Rain pun mulai menceritakan semua yang dia ketahui. Mulai dari Alka melihat Billy membawa wanita, Alka dimarahi Billy sampai yang terakhir, Alka hampir dicambuk oleh Billy.
Tentu semua hal yang Rain ceritakan, membuat Summer menutup mulutnya. Dia tidak pernah menyangka laki-laki yang terlihat baik itu bisa sangat kasar pada putranya.
" Kenapa Alka tidak bilang sama Bunda, kalau Papa Billy seperti itu?" tanya Summer dengan melihat ke arah Alka..
"Kemarin Alka syok dengan apa yang dia alami. Bersyukur, dia tidak terlalu lama mengalami syok. Summer, ijinkan Alka bersamaku. Setidaknya kejadian yang seperti kemarin itu tidak akan terulang lagi."
"Baiklah, aku mengerti! Alka, maafkan Bunda! Bunda lengah menjaga Alka," ucap Summer dengan suara yang bergetar.
"Sudahlah! Lebih baik kita makan. Ayo Sayang, makan makanan yang banyak mengandung nutrisi otak agar kerja orak kita maksimal."
"Gak berubah kamu Rain. Selalu bicara seperti itu," ucap Summer dengan menggelengkan kepala.
"Ya mau bagaimana lagi. Aku bukan keturunan profesor seperti kamu. Aku harus berusaha keras dengan selalu menyuplai makanan yang sekiranya bagus untuk perkembangan otakku. Agar aku merasa pantas menjadi pendamping kamu. Bukankah kamu juga tahu kalau aku pun selalu belajar belajar dan belajar. Sekarang pun aku menerapkannya pada Alka."
"Rain, tolong jangan di porsir. Aku ingin Alka menikmati masa kecilnya seperti anak-anak seusianya. Biarkan dia memiliki kenangan indah di saat Alka kecil.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....