
Hati Summer benar-benar dalam kebimbangan. Dia ingin mencoba menjalin hubungan dengan Billy. Namun, kata-kata Rain dalam pesan itu membuat hatinya kembali meragu. Sampai saat mengajar pun dia terus kepikiran mengenai chat dari Rain semalam.
Mungkin lebih baik aku menerima Bang Billy, agar Rain tidak mendesak aku untuk menjadi istri keduanya. Aku juga tidak mau kalau sampai nanti Rain tahu soal Alka dan meminta hak asuhnya, batin Summer.
Dia pun segera mengirim pesan pada Billy, meminta laki-laki itu agar datang ke rumahnya nanti malam. Summer terus saja memantapkan hatinya kalau Billy laki-laki yang baik untuk menjadi pendampingnya
Maafkan aku Rain! Sebesar apapun perasaan cinta yang aku miliki untuk kamu. Tapi saat takdir tidak merestui cinta kita, rasanya tidak mungkin untuk kita bisa bersama. Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu dan aku pun bahagia dengan laki-laki yang menjadi pendampingku, batin Summer
Terus saja Summer larut dalam lamunannya. Sampai terdengar suara pintu kelas ada yang mengetuk, barulah ibu guru cantik itu tersadar dari lamunannya. Dia pun segera mempersilakan masuk pada orang itu.
"Permisi, Bu Summer! Dipanggil oleh Pak Juanda," ucap Mang Bahrun, penjaga sekolah di sana.
"Baik, Mang. Saya akan menyusul ke sana," ucap Summer dengan tersenyum ramah pad pria paruh baya itu.
"Kalau begitu, saya permisi, Bu!"
"Iya, Mang!"
Setelah kepergian penjaga sekolah itu, Summer pun berpamitan pada muridnya. Dia menyuruh anak didiknya agar tidak meninggalkan kelas selama Summer tidak ada. Dengan patuh, semua siswa pun mengikuti apa yang Summer katakan.
Setelah memberi pesan pada anak didiknya, Summer pun segera pergi menuju ke ruang kepala sekolah. Dia berpapasan dengan Juliet di koridor, karena memang tujuan mereka sama untuk menemui Pak Juanda.
"Bu Summer, dipanggil juga?" tanya Juliet.
"Iya, Bu. Memangnya ada apa ya?" tanya Summer penasaran.
"Mungkin mau membahas bulan bahasa. Kemarin Pak Juanda bilang, untuk memeriahkan acara bulan bahasa, ada platform yang mau mengadakan pencarian bakat penulis ke sekolah-sekolah dan memberikan materi kepenulisan."
"Apa platform tempat kita menulis ya, Bu?"
"Ah, iya benar! Ayo kita masuk!" ajak Juliet.
Kedua ibu guru cantik itu langsung mengetuk pintu. Setelah dipersilakan masuk, barulah keduanya membuka pintu. Terlihat di sana, Pak Juanda sedang berbincang dengan seorang wanita cantik dan juga Yasmin. Mereka sepertinya sedang terlibat pembicaraan serius.
__ADS_1
"Permisi, Pak!" sapa Juliet.
"Bu Juliet, Bu Summer silakan duduk!" suruh Pak Juanda.
"Kenalkan ini Mbak Daisy dari platform Biru," ucap Pak Juanda.
"Saya Summer, Kak. Senang berkenalan dengan Kakak," ucap Summer terlihat begitu sumringah karena bertemu dengan editor yang dia kenal di grup chat sebagai editor yang ramah. Dia pun segera mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman
"Daisy, Kak." Gadis cantik itu pun tersenyum ramah pada Summer. Dia pun menyambut uluran tangan Summer.
"Saya Juliet, Kak." Tangannya terulur untuk bersalaman dengan editor yang cantik
"Sepertinya saya sudah kenal dengan Kakak," ucap Daisy dengan tersenyum ramah. Tak urung dia pun menyambut uluran tangan Juliet.
"Kak Daisy bisa saja. Dengan siapa ke sini-nya, Kak?" tanya Juliet lagi,
"Dengan Kak ...." Daisy tidak melanjutkan bicaranya, saat terdengar suara orang yang akan dia bicarakan.
"Maaf lama, tadi ada sedikit masalah di kantor." Rain masuk begitu saja ke ruangan Pak Juanda saat dia sudah selesai berbicara dengan bosnya.
Degh ... Degh ... Degh ....
Jantung Summer langsung berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia tidak pernah menyangka akan secepat itu bertemu dengan Rain. Pertemuan yang tidak pernah dia duga sebelumnya, kini tidak bisa dia hindari. Summer memejamkan matanya sesaat sebelum dia menyapa pada mantan kekasihnya itu.
"Hallo Kak March!" sapa Juliet dengan tersenyum ramah. "Saya Juliet Rose."
"Hallo Kak Juliet! Senang bertemu dengan Kakak." Rain pun mengajak bersalaman dengan Juliet.
Namun, saat Summer membalikkan badannya untuk menyapanya. Rain seketika mematung di tempatnya. Dengan mata yang berkaca-kaca dan debaran jantung yang berdetak hebat. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hallo Kak, saya Summer!" sapa Summer dengan mengulurkan tangannya.
Rain pun segera menyambut uluran tangan dari wanita yang dicintainya. Pandangannya tidak lepas dari wajah cantik itu. Membuat Pak Juanda akhirnya berdehem karena kedua insan itu terlalu lama bersalaman dengan mata yang saling berpandangan.
__ADS_1
"Ehm ... Mas Rain, Bu Summer sudah ada pawangnya loh," goda Pak Juanda.
"Maaf, saya terlalu senang karena bertemu lagi dengan Bu Summer," ucap Rain berterus terang. Dia pun memilih duduk di depan Summer. Tentu saja hal itu membuat Yasmin menjadi geram.
"Loh Mas Rain sudah kenal dengan Bu Summer?" tanya Pak Juanda.
"Maaf, Pak. Bukankah kita mau membahas bulan bahasa ya? Bagaimana kalau urusan selain itu dikesampingkan dulu. Kita fokus dulu dengan acara yang akan digelar. Soalnya jam berikutnya saya ada ulangan harian," potong Yasmin.
"Baiklah kalau begitu, mari kita bicarakan susunan acaranya," ucap Pak Juanda
Mereka pun akhirnya berembuk untuk persiapan bulan bahasa yang akan digelar di sekolah itu. Rain terlihat sangat antusias. Meskipun pandangannya tidak lepas dari Summer tapi dia masih bisa fokus dengan meeting dadakan itu.
Sementara Summer lebih banyak diam. Perasaannya tidak menentu. Ingin rasanya dia tertawa sekencang mungkin. menertawakan hidupnya yang selalu dipermainkan oleh takdir.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Rain sudah tahu di mana aku bekerja. Apa aku harus pergi lagi dan lari dari kenyataan atau harus menghadapinya. Agar kisah kami di masa lalu, tidak terus membayangi hidupku. Mencintai kamu adalah pilihanku dan melepaskan kamu adalah keharusan.
Setelah mereka sepakat dengan susunan acara yang akan digelar, Summer, Juliet dan Yasmin pun kembali ke kelas. Namun, saat Juliet sudah berbelok ke arah kelasnya. Yasmin segera mencekal tangan Summer.
"Ingat Summer! Rain itu milikku. Aku tidak akan membiarkan kamu untuk merayunya lagi. Kamu itu hanya masa lalu Rain, jadi berhentilah untuk mencari perhatiannya," ketus Yasmin.
"Kamu jangan khawatir, Yasmin. Aku bukan kamu yang tega mengkhianati aku. Aku masih punya perasaan. Lagi pula kamu juga sudah tahu kalau aku sudah jadi milik orang lain. Kamu tidak usah takut, aku akan merebut Rain."
"Baguslah kalau begitu." Yasmin langung pergi menuju ke kelasnya. Meninggalkan Summer sendiri di tengah koridor.
"Orang yang merebut milik orang lain, pasti akan selalu ketakutan miliknya direbut kembali," gumam Summer.
...~Bersambung~...
...Jangan dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil menunggu Summer-Rain update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1