Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Bab 20 Mengirim Foto


__ADS_3

Dengan wajah lesu, Summer pulang ke rumahnya. Pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaga. Ditambah lagi, apa yang Alka katakan tadi pagi, membuat Summer benar-benar merasa pusing. Akhirnya, dia memilih untuk mengistirahatkan badannya.


Sementara itu, Alka terus saja mencari cara agar dia bisa membuat Rain dan mamanya menjadi dekat. Namun, namanya juga anak kecil. Meskipun dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak seusianya, tetap saja memiliki keterbatasan dan tidak leluasa seperti orang dewasa.


"Ibu, kita puyang kapan?" tanya Alka saat hari sudah sore.


"Alka mau pulang sekarang?" Bukannya menjawab, Hanna justru balik bertanya.


"Iya, Bu. Aka kangen sama Bunda."


"Kamu tuh, padahal baru pisah beberapa jam saja. Ya sudah, ayo kita pulang! Badan ibu juga merasa lemas ingin istirahat." Hanna pun langsung menyetujui keinginan keponakannya. Karena memang, semenjak kehamilannya, Hanna jadi mudah lelah.


"Hoyeyy ... Ibu yang tebaik deh!" sorak Alka dengan memeluk Hanna.


"Sayangnya Ibu, bisa saja merayunya. Kita beli makan dulu ya!"


"Iya, Bu!" Alka pun hanya mengikuti apa Hanna katakan. Bocah kecil itu begitu patuh pada wanita yang menjadi ibu keduanya. Setelah mendapatkan makanan yang Hanna inginkan, mereka pun langsung pulang ke rumah .


Alka berlari-lari kecil menuju ke kamar bundanya. Saat dia melihat motor Summer sudah terparkir rapi di garasi. Alka yakin kalau bundanya sudah pulang dari sekolah.


Bibir mungil itu mengembang sempurna saat dia melihat ponsel Summer teronggok di meja belajar, sedangkan wanita cantik sedang tertidur pulas. Alka pun mengendap-endap mengambil ponsel Summer.


"Bunda, Aka pinjam ponsel duyu ya!" bisik Alka pelan.


Dia langsung mengambil ponsel Summer dan memasukkan kunci pola. Karena dia sering melihat Summer memasukkan kunci pola untuk membuka ponselnya, membuat bocah kecil itu langsung hapal kunci pola bundanya. Alka pun segera berkirim pesan pada Rain.


Send to Editor March


^^^[Halo, Om]^^^


[Hallo Alka]


[Sudah ada belum fotonya?]


^^^[Ada, Om]^^^


Alka langsung mengirimkan pesan gambar pada Editor March, bersamaan dengan Summer yang terbangun dari tidurnya. Dia sangat terkejut saat melihat putranya sedang memainkan ponselnya. Summer pun segera merebut ponsel itu dari tangan Alka.


"Alka, apa yang kamu lakukan dengan ponsel Bunda?" tanya Summer dengan nada yang sedikit keras.

__ADS_1


"Gak ada kho!"


Summer tidak berbicara lagi, dia langsung mengecek ponselnya dan melihat pesan yang Alka kirim pada Editor March. Dia ingin menghapusnya namun ternyata sudah dilihat oleh editor itu.


"Alkaaaa ... Bunda bilang jangan mainin ponsel Bunda! Kenapa kirim foto bunda segala sama dia. Mau Alka apa? Alka mau Bunda gak punya pekerjaan?" Sebisa mungkin Summer menahan amarahnya pada putranya. Meskipun sebenarnya dia sangat ingin marah-marah dengan apa yang Alka lakukan, tapi dia tidak ingin Alka menjadi ketakutan melihat kemarahannya.


"Bunda, Aka minta maaf!" Alka langsung menghambur memeluk Summer. Dia tidak ingin bundanya marah karena kesalahannya.


"Sudahlah, Bunda pusing! Ayo Alka mandi sore!"


...***...


Sementara di tempat yang berbeda. Di sebuah gedung bertingkat dengan jendela besar di ruang kerjanya, nampak seorang laki-laki yang sedang menitikkan air matanya. Dia sangat bahagia sekaligus terharu saat melihat foto kekasih hatinya bersama dengan seorang anak kecil.


Meskipun dia tidak tahu, siapa ayah dari anak itu. Tetapi Rain merasa memiliki harapan saat teringat ucapan Alka yang tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Dia pun mencoba untuk melakukan panggilan video pada penulis Lara. Namun, panggilannya selalu dialihkan.


"Summer, kenapa kamu tidak mau menerima panggilan telepon dariku? Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Rain dengan melihat ke arah foto Summer yang ada di layar ponselnya.


Tidak, aku harus menemukan dia. Ah iya, aku akan melacaknya, batin Rain.


Dia pun segera melacak nomor ponsel Summer. Selama nomor ponsel itu aktif, tidak akan sulit bagi orang yang ingin menemukan di mana keberadaan si pemilik nomor ponsel.


"Rain, ayo cepat! Meeting-nya akan segera dimulai," ajak Regan yang sedang berjalan menuju ke ruang meeting.


"Regan, bisa tidak kalau aku ijin dulu."


"Tidak bisa Rain! Kamu yang menjadi penanggung jawab event ini. Kamu juga yanag harus memutuskan siapa pemenangnya. Apa kamu lupa, kalau pengumuman pemenang tinggal beberapa hari lagi. Belum lagi kamu mengusulkan untuk goes to school, untuk mencari penulis muda berbakat. Ayolah! Kamu harus bertanggung jawab dengan apa ayng sudah kamu mulai," ucap Regan panjang lebar.


"Baiklah!" Dengan langkah lesu, dia berjalan bersama dengan Regan. Meskipun raganya masih berada di kantornya, tetapi pikirannya terus tertuju pada Summer, Summer dan Summer.


Summer, tunggu aku! Aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi, batin Rain.


Satu jam


Dua jam


Sampai tiga jam meeting itu baru selesai. Hari pun sudah berubah menjadi gelap. Rain memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Karena rasanya kurang sopan jika dia berkunjung saat hari sudah larut.


"Lebih baik aku kirim pesan dulu, agar Summer mau mengangkat panggilan telepon dari aku," gumam Rain

__ADS_1


Dengan berjuta harapan yang memenuhi dadanya, Rain pun mulai mengetikkan pesan untuk kontak nama yang dia beri nama Penulis Lara. Dia sangat berharap, Summer mau membaca pesannya dan menerima panggilan telepon darinya.


Send to Penulis Lara


^^^[Hallo Summer, apa kamu tidak merindukan aku? Kenapa kamu pergi jauh dari aku? Apa kamu tidak tahu kalau aku sangat kehilangan kamu? Apa kamu tidak tahu, kalau tanpa kamu separuh hidupku terasa hilang? Summer, aku sangat merindukan kamu!]^^^


[Maaf Kak, Anda salah kirim. Aku bukan Summer, tapi Lara]


^^^[Aku yakin kalau kamu itu Summer. ^^^


^^^Entah benar ataupun tidak tapi aku akan menganggap kalau kamu Summer kekasihku.]^^^


[Maaf kak, sepertinya kakak sudah salah sangka. Foto yang dikirim oleh anakku bukan fotoku. Tapi foto temanku sedang bersama dengannya]


^^^[Benarkah?^^^


^^^ Boleh tahu nomor ponsel Summer?]^^^


[Maaf kak, tanpa seijin dia aku tidak bisa memberikannya]


^^^[Begitu ya, tolong sampaikan padanya ^^^


^^^kalau Rain mencarinya. Kalau Rain, sangat mencintainya]^^^


[Baik, Kak. Akan aku sampaikan]


Rain tidak membalas kembali pesan dari penulis bimbingannya itu. Dia langsung menuju ke balkon apartemenya dan menghisap benda bernikotin itu untuk menenangkan pikirannya. Sungguh, kehilangan Summer membuat Rain merasa langkah kakinya tidak bisa menapak dengan benar.


Summer, aku selalu yakin bisa bertemu lagi denganmu. Tunggu aku! Aku pasti akan menemukanmu.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil menunggu Summer-Rain update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2