
Selama kelas berjalan, pikiran Summer semakin tidak menentu. Dia benar-benar gelisah setelah pertemuannya dengan Rain. Meskipun benar, sisi hatinya yang lain merasa bahagia bertemu dengan kekasih hatinya yang dia tinggalkan. Akan tetapi, pikirannya terus mengatakan agar dia sebisa mungkin untuk menjauh dari kehidupan Rain.
"Anak-anak, nanti kerjakan latihan soal yang ada di buku paket halaman seratus dua. Ibu sedang ada urusan. Nanti bukunya dikumpulkan dan simpan di meja Ibu," ucap Summer setelah dia membereskan barang-barangnya. Dia berniat untuk pulang lebih cepat karena kepalanya benar-benar pusing.
"Baik, Bu! Apa Ibu sedang sakit?" tanya Willy, ketua kelas di kelas itu.
"Iya, Ibu sedang tidak enak badan. Mau berobat obat. Jangan ribut ya! Willy, tolong kondisikan teman-temannya!" pinta Summer.
"Baik, Bu!" sahut Willy.
Summer pun langsung keluar dari kelas dan menuju ke ruang guru. Setelah dia meminta ijin pada wakasek, Summer pun bergegas untuk pulang. Namun, siapa sangka dia malah bertemu dengan Rain di parkiran.
"Summer, bisa kita bicara sebentar. Please, jangan menghindari aku!" pinta Rain seraya memegang tangan Summer.
"Rain, lepaskan tanganku! Tidak enak dilihat orang. Aku harus cepat-cepat pulang," suruh Summer dengan berusaha melepaskan tangan Rain.
Namun, laki-laki itu bersikeras tidak mau melepaskan Summer. Dia malah menarik Summer dan membawa ke mobilnya. Tentu saja hal itu membuat Daisy merasa kaget dengan apa yang Rain lakukan.
"Daisy, bisa aku minta tolong? Kamu naik taksi ya! Aku ada urusan dengan Summer," tanya Rain pada bawahannya itu.
"Siap, Bos. Tenang saja, rahasia kalian aman bersamaku." Daisy pun langsung keluar dari mobil Rain.
"Kak Daisy, maaf!" ucap Summer dengan menatap Daisy.
"Santai saja, Kak! Aku sebenarnya sudah punya firasat kalau ada sesuatu di antara kalian. Aku semakin yakin saat Kak Rain terus saja memandang wajah Kak Summer. Ya sudah, aku pergi dulu ya!" pamit Daisy seraya pergi menuju ke jalan raya.
Rain pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia secepatnya menyalakan dan pergi dari parkiran sekolah. Laki-laki tampan itu sengaja membawa Summer ke pantai agar tidak ada orang yang menggangu mereka.
"Rain, kenapa membawa aku ke sini?" tanya Summer saat sudah tiba di tepi pantai.
"Summer, apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan sama aku? Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu tidak percaya sama aku? Kenapa kamu meragukan cintaku? Kamu tahu Summer, aku mencari kemana-mana seperti orang gila. Aku ... Aku tidak bisa tanpa kamu." Rain menatap lekat wanita yang sedang duduk di sampingnya.
Summer tidak langsung menjawab pertanyaan Rain. Dia menghela napas dalam untuk menetralkan perasaannya yang bergejolak. Summer pun balik menatap Rain yang sedari tadi sedang menatapnya.
__ADS_1
"Rain, sebaiknya kita mengikhlaskan semuanya. Kita sudah sama-sama memiliki pasangan. Semuanya tidak mungkin bisa kembali seperti dulu lagi. Anggap saja, semua yang telah terjadi di antara kita, sebagai kenangan terindah dalam hidup kita. Maafkan aku Rain, aku tidak bisa bersama dengan kamu lagi."
"Apa tidak ada kesempatan lagi untuk aku, Summer?"
"Maaf Rain, aku tidak bisa. Biarkan aku bahagia dengan kehidupan aku yang sekarang. Bukankah mencintai tidak harus memiliki?"
Baru saja Summer selesai bicara, terdengar suara ponsel Rain berbunyi nyaring. Terlihat di sana Yasmin melakukan panggilan. Rain pun segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo Yasmin, ada apa?"
"Rain, anakku terserempet motor. Cepat susul aku ke rumah sakit Bhayangkara sekarang."
"Oke, aku akan segera ke sana!"
Rain segera menutup ponselnya. Dia melihat ke arah Summer sesaat. "Summer, aku antar pulang ke rumahmu sekarang ya! Anaknya Yasmin kecelakaan."
"Rain, turunkan saja aku di depan apotek. Ada yang ingin aku beli," pinta Summer. Dia hanya bisa tersenyum samar. Baru saja laki-laki itu berbicara seperti itu kepadanya. Kini dia melihat sendiri, Rain begitu panik mendengar anaknya Yasmin yang mungkin juga anaknya kecelakaan. Summer semakin tidak ingin menjadi orang ketiga dalam pernikahan mantan kekasihnya itu. Meskipun sebenarnya, dia masih sangat mencintai Rain.
"Rain, sebaiknya kita menjaga jarak agar tidak ada hati yang tersakiti."
Bagaimana bisa aku mengubur perasaan aku padanya, kalau kami sering bertemu, batin Summer.
Keduanya pun terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Rain menghentikan mobilnya di depan apotek seperti yang Summer minta. Summer pun segera keluar dari mobil mantan kekasihnya itu.
"Terima kasih."
Rain hanya tersenyum menanggapi ucapan Summer. Hatinya terasa perih karena ternyata, wanita yang ingin dia miliki seutuhnya, kini tidak bisa dia gapai.
Tidak jauh berbeda dengan Rain, Summer merasakan hal yang sama. Dia memejamkan matanya sesaat dan menengadah ke langit untuk menahan cairan bening yang memaksa ingin ke luar. Setelah dia menghela napas panjang, barulah Summer membuka matanya kembali dan segera pergi ke apotek.
"Permisi, Mbak. Saya mau beli obat migrain yang paling ampuh," ucap Summer.
"Sebentar, Mbak. Saya ambilkan," ucap apoteker.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, apoteker pun kembali dengan obat yang Summer inginkan. Setelah mendapatkan obat itu, Summer bergegas pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, terlihat Alka yang sudah pulang bersama dengan Hanna.
"Hoyeyy ... Bunda udah puyang," sorak Alka kegirangan.
"Jagoan Bunda udah pulang ternyata. Apa Ibu sakit?" tanya Summer seraya menggendong putranya.
"Enggak. Tadi Aka habis di ajak ibu yihat dedek bayi sama ayah. Tapi ayah pegi yagi ke kantong," jelas Alka.
"Bunda istirahat dulu ya, Sayang. Tidak apa kan Alka main sendiri dulu."
"Tidak apa Bunda. Boyeh Aka pijat kepaya Bunda?"
"Boleh, Sayang."
Summer mendudukkan Alka di sofa sebelum dia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Setelah dia meminum obatnya, Summer pun pergi ke kamarnya. Diikuti oleh Alka yang mengekor bundanya dari belakang.
Benar saja apa yang bocah kecil itu katakan. Alka memijat kepala Summer pelan. Meskipun memang benar tidak terasa apa-apa, tetapi Summer sangat terharu dengan niat baik putranya yang ingin meredakan rasa sakitnya. Tanpa terasa, setetes cairan bening keluar dari pelupuk mata Summer.
"Bunda, kenapa nangis? sakit sekayi ya!"
"Tidak, Sayang. Bunda sangat bahagia karena memiliki Alka yang sayang sama Bunda. Terima kasih, sudah hadir dalam hidup Bunda. Selamanya Bunda sayang sama Alka."
"Aka juga sayang sama Bunda."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Summer-Rain update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini
__ADS_1