Janda Sebelum Menikah

Janda Sebelum Menikah
Ban 12 Gambar Hati


__ADS_3

Kedua ibu dan anak itu terlihat sangat bahagia. Summer dan Alka menghabiskan hari di mall hingga petang menjelang. Saat hari akan gelap, Summer pun cepat-cepat mengajak Alka untuk pulang. Dia pasti kena semprot kakak sepupunya jika pulang main terllau larut dengan membawa Alka. Benar saja yang dia pikirkan, Radid menelponnya agar cepat-cepat pulang.


"Ayo Alka! Ayah sudah menunggu di rumah. Nanti Bunda kena marah lagi," ajak Summer.


"Gak mau! Aka mau donat cokyat kacang duyu," tolak Alka dengan melepaskan tangan Summer.


"Iya, iya kita beli donat dulu."


Dengan terpaksa Summer harus naik satu lantai lagi. Karena tokonya ada di lantai atas. Namun, saat dia sampai di toko donat, ternyata rasa yang Alka inginkan sudah habis.


"Maaf, Nona! Baru saja pelanggan kami yang di sana memborong-nya," tunjuk pelayan toko pada seorang lelaki yang sedang duduk sendiri sedang menikmati secangkir kopi latte.


Summer pun mengikuti arah tunjuk pelayan itu. Dia sangat terkejut saat melihat Rain yang terlihat makin gagah sedang duduk sendiri. Darahnya langsung berdesir hebat. Wajahnya yang putih kini terasa panas seperti terbakar api. Jangan lupakan jantungnya yang memompa darah lebih cepat dari biasanya. Untuk beberapa saat Summer diam mematung. Dia hanyut dengan pikirannya sendiri.


Rasa ini masih sama, tidak pernah berubah sedikit pun. Meskipun aku tahu, kamu tidak akan mungkin bisa menjadi milikku. Tapi aku tidak bisa berhenti mencintai kamu. Aku pikir, setelah sekian lama kita tidak bertemu, rasa itu akan hilang di hatiku seiring berjalannya waktu. Namun, ternyata aku salah. Aku masih sangat mencintai kamu, Rain.


Sampai Alka yang yang berdiri di sampingnya menyadarkan dia dari lamunannya. Bocah kecil itu menggoyangkan tangan Summer, lalu berkata, "Bunda, kalau habis, ayo kita puyang! Aka gak mau makan kalau bukan yasa itu."


"Iya, ayo kita pulang!" Summer langsung terburu-buru membawa Alka keluar dari toko itu. Dia khawatir kalau sampai Rain menyadari kehadirannya bersama Alka di sana. Sesampainya di parkiran barulah Summer berbicara pada putranya. "Alka, helm-nya dipakai dulu ya, Nak."


"Iya, Bunda!" Alka hanya menurut apa yang Summer katakan. Dia begitu patuh langsung memakai helm yang Summer berikan. "Bunda, nanti kita bayap ya!"


"Siap, Bos!" canda Summer.


"Namaku Aka, Bunda. Bukan bos," protes Alka.


"Iya, Bos Alka kesayangannya Bunda. Yuk kita pulang. Bunda juga mau lanjut ngetik."


Tidak sampai tiga puluh menit, mereka sudah sampai di rumah. Terlihat Radid yang sedang menunggu sepupu dan keponakannya di teras. Laki-laki itu memang selalu khawatir, setiap kali Summer pergi berdua dengan Alka.


"Kenapa lama sekali mainnya?" tanya Radid saat Summer baru saja turun dari motor. Dia langsung merentangkan tangannya pada Alka "Sini anaknya Ayah!

__ADS_1


"Maaf, Bang. Tadi kelamaan di pusat permainan," jawab Summer.


"Ayah, Ayah ... Tadi ketemu dengan tante jahat. Tante itu mayah-mayahin Bunda," adu Alka pada Radid.


"Tante jahat? Siapa Summer?" tanya Radid dengan melihat ke arah Summer yang berjalan masuk ke dalam rumah.


"Yasmin, Bang. Sebenarnya, dia bekerja di sekolah yang sama denganku. Dia masuk ke sekolah sana lebih dulu dari aku," ungkap Summer.


"Kamu hindari saja dia! Jangan sampai cari masalah dengan Yasmin atau pun rekan kerja lain di sekolah."


"Iya Bang aku ngerti. Kalau begitu, aku ke dalam dulu ya! Mau membersihkan diri. Rasanya lengket setelah main seharian. Ayo Alka kita mandi dulu biar segar dan wangi!" ajak Summer.


Anak laki-laki itu dengan patuh mengikuti ajakan Summer. Membuat Radid menghela napas lega. Meskipun usia Summer jauh lebih muda darinya, tapi adik sepupunya itu pandai mendidik dan merawat putranya.


Semoga nanti, kamu bertemu dengan cinta sejati kamu, Summer. Seorang laki-laki yang tulus dan bisa menerima kamu apa adanya, batin Radid.


Sementara itu, setelah Summer dan Alka membersihkan dirinya. Ibu dan anak itu hanya berdiam di kamar saja. Alka sedang anteng dengan ponsel Summer yang dia minta saat ibunya sedang asyik berselancar di dunia sosial, sehingga Summer pun dengan terpaksa memberikannya. Dia memilih untuk melanjutkan kembali menulis cerita yang tadi siang belum selesai dia kerjakan.


"Alka, lagi main game apa? Kayaknya seru banget," tanya Summer penasaran.


"Gak apa-apa ko!" kelit Alka.


"Beneran? Jangan otak-atik ponsel Bunda ya!"


"Iya Bunda, tenang saja."


Awalnya Summer percaya dengan apa yang Alka katakan. Akan tetapi, lama-kelamaan dia menangkap gelagat agak aneh pada putranya itu. Sehingga Summer pun penasaran dan ingin tahu apa yang sedang putranya tonton di ponselnya.


"Alka, apa yang kamu lakukan?!" pekik Summer kaget dengan apa yang dilihatnya.


"Bagus, kan Bunda? Aka kan pinteng, bisa kiyim gambang hati ke temannya Bunda. Agang Bunda, nanti makin disayang sama meyeka."

__ADS_1


"Astaga, Alka! Kenapa malah kirim ke Kak March juga. Bunda kan udah bilang, jangan nelpon dan kirim pesan sama dia," gerutu Summer.


Dia ingin menghapus pesan itu, tapi ternyata sudah dibaca oleh si penerima pesan. Akhirnya Summer hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dipikirkan oleh Kak March tentangnya.


"Biarkan saja lah. Terserah dia mau berpikir apa," gumam Summer.


"Bunda, maaf!" sesal Alka dengan wajah bersalahnya.


"Iya, gak apa. Aka bobo yah!"ajak Summer.


"Iya, Bunda."


Sementara jauh dari tempat tinggal Summer, terlihat seorang laki-laki tampan yang sedang mengerutkan keningnya. Dia merasa heran karena penulis baru itu mengirimkan gambar hati kepadanya. March aka Rain pun hanya tersenyum tipis dengan apa yang dilihatnya.


"Entah ibunya, entah anaknya yang mengirim pesan. Kita lihat saja besok, apa dia akan meminta maaf karena sudah salah kirim pesan. Ataukah memang dia sengaja, melakukan hal itu?"


Rain memasukkan kembali ponselnya dan kembali fokus menyetir, karena memang dia sedang dalam perjalanan menuju ke kampung halamannya, untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit.


Mendadak Rain teringat dengan sosok yang sangat dia rindukan, saat tadi tanpa sengaja melihat punggung seorang wanita di toko donat yang mirip dengan Summer. Rain pun hanya menghembuskan napasnya kasar, untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


Summer, kamu di mana? Sudah tiga tahun lebih aku mencari kamu, tidak sedikit pun aku bisa menemukan petunjuk tentang keberadaan kamu. Summer, apa kamu tahu, kalau aku sangat sangat merindukan kamu. Merindukan kebersamaan kita, jerit hati Rain.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Summer update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini


__ADS_1


__ADS_2