
Hari-hari yang penuh dengan perjuangan itu telah Summer lalui dengan baik. Berkat bantuan sepupunya, Summer dapat membesarkan putra semata wayangnya selama tiga tahun ini seorang diri. Tanpa sosok suami yang mendampinginya.
Meskipun Billy begitu gencar mendekatinya, namun dia belum bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain. Mereka pun memutuskan untuk bersahabat. Karena Billy merasa sangat tertarik dengan pribadi Summer yang tidak mudah menyerah.
Selama tiga tahun itu, Summer hanya bekerja membantu sepupunya di toko baju, seraya menjaga Alka yang masih kecil. Apalagi Summer ingin memberikan ASI eksklusif pada Alka agar putranya itu memiliki daya tahan tubuh yang bagus serta memiliki ikatan batin yang kuat dengan ibunya.
Seperti hari ini, Summer sedang membereskan baju-baju bekas pelanggan memilih, sedangkan Alka sedang bermain puzzle blok di bawah meja kasir. Anak-anak laki-lak itu memang suka bermain puzzle. Saat dia bosan, Alka pun akan mencoret-coret buku gambar yang sengaja Summer siapkan untuk putranya.
"Permisi Mbak Summer! Saya sedang mencari kain drill hitam untuk membuat celana," ucap Pak Juanda, salah satu pelanggan tetap toko milik Hanna.
"Eh, Bapak. Silakan ke sebelah sini, Pak!" Summer membawa bapak itu ke sebelah timur toko, yang menyimpan berbagai macam jenis kain. Pak Juanda pun mengikuti ke mana Summer membawanya.
"Kalau tidak salah, Mbak Summer lulusan sastra inggris kan?" tanya Pak Juanda yang teringat dengan obrolannya bersama dengan Hanna waktu itu.
"Iya, benar Pak." Summer tersenyum ramah pada pelanggan tokonya.
"Kalau Mbak Summer berminat, kebetulan di sekolah tempat saya bekerja sedang membutuhkan guru bahasa Inggris. Mbak Summer tinggal menemui kepala sekolahnya saja," ucap Pak Juanda dengan terus memperhatikan gadis yang sedang sibuk mengambil gulungan kain.
"Wah, kebetulan sekali Pak. Saya juga sedang mencari pekerjaan yang cocok. Kapan saya bisa ke sana, Pak?" Wajah Summer terlihat berseri mendengar penawaran dari laki-laki paruh baya itu.
"Besok juga boleh, Mbak!"
"Baik, Pak terima kasih. Oh iya ini mau berapa meter?"
"Tiga meter saja, Mbak."
"Baik, Pak. Sebentar ya!" Summer pun langsung mengukur kain itu dan memotongnya setelah mendapatkan ukuran yang diinginkan.
Dia langsung menuju ke meja kasir memberikan kain itu pada Hanna. Karena memang Hanna sendiri yang memegang keuangan tokonya. Sementara karyawannya melayani pembeli dan membereskan barang-barang.
__ADS_1
Setelah Pak Juanda pergi dari toko itu, barulah Summer mendekati kakak sepupunya itu dan membicarakan tawaran dari Pak Juanda, karena memang tokonya kebetulan sedang sepi. Jadi dia bisa leluasa berbicara dengan Hanna.
"Mbak Hanna, apa boleh kalau aku aku mengajar? Tadi Pak Juanda menawarkan aku untuk bekerja di sekolahnya," ucap Summer dengan duduk di samping Alka.
"Boleh saja, biar Alka sama Mbak saja. Toko juga sedang tidak ramai belakangan ini," jawab Hanna dengan melihat ke arah Summer yang sedang menatapnya penuh harap.
"Kamu jangan sungkan begitu sama Mbak. Mbak malah senang kalau kamu mau lebih berkembang lagi. Karena pekerjaan sebagai pelayan toko, tidak akan membuat ilmu yang pernah kamu pelajari di bangku kuliah akan berkembang. Lagipula sekarang Alka sudah lepas ASI. Kamu tinggal seharian pun tidak akan menangis seperti dulu. Benar kan, Alka? Nanti main sama Ibu ya! Bunda kamu mau bekerja."
"Boyeh, Bunda boyeh keja. Biay Aka bisa beyi mainan bayu," jawab Alka yang belum lancar mengucapkan huruf L dan R.
"Anak Bunda pintar. Makasih Sayang!" Summer langsung mencium putranya. Dia merasa terharu karena Alka selalu bisa mengerti keadaannya asalkan anak laki-laki itu diberi sedikit pengertian.
"Kita pulang cepat saja hari ini. Sebentar lagi juga ashar. Mbak sudah kirim pesan pada Bang Radid, agar menjemput kita ke sini," ucap Hanna.
"Hoyee dijemput Ayah!" Alka bersorak kegirangan. Dia sangat senang sekali diajak jalan-jalan naik mobil. Karena sudah menjadi kebiasaan mereka, setiap kali Radid menjemput ke toko, pasti mereka akan makan luar. Meskipun bukan makan di restoran sederhana, tetapi kebersamaan itu membuat Alka merasa senang.
...***...
"Sayang, apa Bunda sudah cantik?" tanya Summer pada Alka.
"Cantik sekayi, miyip bidadayi," puji Alka.
Bukannya tersenyum mendapatkan pujian dari putranya, tetapi Summer langsung termenung. Dia teringat pada Rain yang selalu mengucapkan kata-kata itu setiap kali memujinya. Sementara Alka menjadi bingung melihat ibunya menjadi terdiam.
"Bunda kenapa? Aka bikin sayah ya?" tanya Alka dengan memeluk Summer.
"Tidak, Sayang. Nanti Alka ikut dengan Ibu ke toko ya! Bunda mau ke sekolah dulu, do'akan Bunda ya, Sayang agar diterima bekerja di sana," ucap Summer dengan mencium kening putranya.
"Iya, semoga Bunda sukses," ucap Alka yang suka memperhatikan orang-orang dewasa di sekelilingnya berbicara.
__ADS_1
"Aamiin. Terima kasih Sayang." Summer pun membawa Alka keluar dari kamarnya. Dia menemui Hanna dan Radid yang sudah menunggunya di meja makan.
"Summer, jadi mau melamar ke sekolah Pak Juanda?" tanya Radid saat Summer dan Alka sudah duduk di meja makan.
"Jadi, Bang. Alka juga sekarang sudah bisa ditinggal. Maaf Mbak Hanna mungkin nanti Alka akan merepotkan Mbak," ucap Summer.
"Tidak apa, Alka tidak pernah merepotkan. Dia bocah tampan yang menggemaskan. Pelanggan di toko sangat suka melihat Alka," ucap Hanna dengan tersenyum manis.
Setelah cukup berbincang dan menghabiskan sarapannya. Summer pun berangkat ke sekolah swasta yang cukup terkenal di daerah sana Dia meminjam motor Hanna, sedangkan Hanna dan Alka diantar oleh Radid ke toko. Sesampainya di sana, Summer pun bertanya terlebih dahulu pada satpam yang berjaga.
"Permisi, Pak! Saya mau bertemu dengan kepala sekolah kira-kira ke sebelah mana ya?" tanya Summer pada satpam yang ber-name tag 'DIKI'.
"Maaf, ada perlu apa ya, Bu?" tanya Diki, satpam sekolah itu.
"Saya mau melamar pekerjaan. Kemarin disuruh Pak Juanda untuk datang ke sini dan menemui kepala sekolah. Katanya sedang membutuhkan guru bahasa Inggris."
"Oh, silakan diparkirkan dulu motornya ke parkiran motor khusus tamu ya, Bu. Nanti saya antar ke ruangannya," suruh Diki.
"Baik, Pak!" sahut Summer. Dia pun mengikuti apa yang Diki perintahkan untuk memarkirkan motornya di parkiran khusus tamu. Summer menghela napas dalam sebelum dia turun dari motor. Dia terus meyakinkan dirinya dan berdoa agar usahanya mendapatkan ridho dari illahi.
Sementara Diki datang menghampiri Summer yang sedang komat-kamit seraya melepas helm. Dia tersenyum tipis melihat kelakuan guru baru itu. Apalagi saat Summer mengatakan ingin bertemu kepala sekolah karena di suruh Pak Juanda. Padahal Pak Juanda sendirilah yang menjadi kepala sekolahnya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Summer-Rain Update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini!
__ADS_1